Advokasi Bermain Oleh UNICEF

Advokasi Bermain Oleh UNICEF

image by, UNICEF

Kami berkomitmen untuk bekerja tanpa lelah untuk implementasi penuh Agenda ini pada tahun 2030”

  • Deklarasi komitmen SDG negara-negara anggota PBB, 2015

 

SDG (Social Development Goals) no.4 adalah “promoting lifelong learning for all” tentunya banyak sekali inovasi-inovasi untuk mencapai tujuan ini. 

Sekarang kita lihat usaha dari UNICEF, yang telah di beri support oleh Leggo foundation. Dari kerja sama ini, mereka menyuarakan advokasinya bahwa, “learning through play” memiliki peran yang sangat penting di dalam mencapai target SDG.

 

Lalu bagaimana bermain bisa berperan dalam mencapai SDG ini?

Di jurnal ini UNICEF menjelaskan secara lebar bagaimana “learning through play” ini adalah pondasi yang sangat penting untuk pendidikan setiap anak. Karena lifelong learning sangat membutuhkan perspektif bahwa belajar itu hal yang sangat menyenangkan, agar anak-anak dengan sendiri akan terus belajar.

 

Selain itu banyak hal teknikal lain yang membahas tentang bermain sebagai proses belajar yang alami untuk anak-anak.

image by, UNICEF

 

Satu hal di jurnal ini yang belum banyak kita bahas adalah, tantangan-tantangan menggunakan bermain untuk belajar. Menurut UNICEF ada 5 faktor yang menghambat, yaitu;

 

  1. kurangnya pemahaman tentang nilai permainan sebagai landasan konsep akademik
  2. kesalahpahaman orang tua atau pengasuh tentang bermain
  3. kurikulum atau standar pembelajaran yang tidak membahas permainan
  4. kurangnya pelatihan profesional guru yang berfokus pada pembelajaran melalui permainan
  5. ukuran kelas yang terlalu besar hingga membatasi kebebasan anak-anak untuk bermain

Berikut adalah infografis oleh UNICEF mengenai tantangan ini.

 

Siaga! Boardgame yang lebih dari boardgame

Siaga! Boardgame yang lebih dari boardgame

Dari pengalaman-pengalaman para guru yang telah melewati bencana terlahir lah Siaga!

Setelah survey lokasi bencana Lombok 2018, Mas Eko telah merancang learning kit yang bisa membantu mengajar tanggap bencana untuk murid-murid sekolah, dan juga pembelajaran informal di luar sekolah.

Bersama dengan Lembaga Beasiswa Baznas, Ludenara mengajak lebih dari 40 guru yang telah melewati bencana alam di Lombok dan juga Palu, untuk bermain dan belajar bersama. Bersama guru-guru yang sangat hebat ini, kita menggali potensi Siagai! sebagai learning kit tanggap bencana yang sangat komplit.

Setelah project ini tentu Siaga! akan menjadi alat edukasi yang semakin baik. Kita harapkan tool kit ini bisa membantu guru-guru dan orang tua di seluruh nusantara untuk memberi pembelajaran tanggap bencana yang akan menyelamatkan nyawa.

Learning kita ini membuka pembahasan untuk 3 fase mitigasi bencana. Dari fase persiapan, dimana kita belajar bersama mengenai informasi-informasi yang harus kita pelajari sebelum terjadinya bencana.

Setelah itu, kita juga mengerti pentingnya pelatihan evakuasi di saat terjadinya bencana. Karena se paham-paham nya kita, se hafal-hafal nya kita mengenai teori-teori tanggap bencana, akan sia-sia jika tidak ada latihan, teori sendiri tidak bisa menyelamatkan kita di saat terjadinya bencana.

Dan erakhir adalah fase pasca bencana, saatnya kita saling membantu, bergotong royong dan membangun kembali tempat tinggal kita yang telah terlanda bencana.    

Siaga! juga memberi penekanan pada pentingnya kerja sama di seluruh fase mitigasi bencana. Dengan memainkan board game ini kita bisa mengalami sendiri seberapa fatal nya jika kita gagal saling mengerti. 

Program ini kita jalankan bersama Lembaga Beasiswa Baznas, dengan tujuan untuk memberikan edukasi tanggap bencana kepada seluruh masyarakat yang membutuhkannya. Dan seperti yang kita ketahui, seluruh masyarakat Indonesia yang berdiri di atas lingkaran api, sangat membutuh kan nya. SIa

Untuk itu, kita masih butuh bantuan yang banyak, untuk mensosialisasikan misi kita, serta support untuk merealisasikan program kita di seluruh Nusantara.

Permintaan Istri Pada Suaminya: Ayah, Mainnya Nanti Aja Ya? [Keluarga Bermain]

Permintaan Istri Pada Suaminya: Ayah, Mainnya Nanti Aja Ya? [Keluarga Bermain]

Ada seorang Ayah kebingungan karena anaknya mulai bertanya-tanya soal sebuah game mobile yang populer.

“Bun,” kata Ayah itu ke istrinya, “kayaknya aku harus belajar game itu deh. Supaya aku tau anak kita main apaan.”

Istrinya mengangguk dan tersenyum. Senang sekali melihat seorang Ayah tertarik dan mau terlibat dengan apa yang dilakukan anaknya. Mungkin ia teringat betapa banyak Ayah di negeri ini yang hanya bisa nyuruh dan ngomel saja.

Apa yang dilakukan Ayah ini mungkin sedikit-banyak sesuai dengan nasihat dari Mas Eko Nugroho dalam kolom Keluarga Bermain sebelumnya yang berjudul Sudah Bermain Apa Saja Hari Ini?

Bermain game, mungkin adalah sebuah proses latihan paling menyenangkan untuk kita (orang tua ataupun guru) agar bisa belajar menghargai anak-anak kita, apa yang mereka pahami, dan apa yang mereka rasakan sepenuhnya. Yang kita perlukan mungkin hanyalah kesungguhan untuk mencoba.

Lalu, bagaimana tanggapan Ayah tersebut soal game tadi?

Ya, permainan itu memang seru, ia menampilkan pertempuran di sebuah arena secara online. Setiap pemain bisa tergabung dalam sebuah tim tertentu, baik dadakan maupun tidak. Lalu, karena online, ia juga jadi ajang bertemu pemain lain dari –mungkin– seluruh dunia.

Sang Ayah pun kepincut. Ia bukan saja memahami game itu, ia juga asyik memainkannya. Bahkan, boleh dibilang, lebih asyik dari anaknya sendiri.

Suatu kali, sang istri baru saja selesai memeriksa tugas anak-anaknya ketika ia tersadar. Kenapa suaminya belum pulang juga? Padahal sudah cukup larut malam.

“Dek,” ia memanggil anaknya yang laki-laki. “Ayah tadi bilang nggak mau ke mana abis dari kantor?”

“Nggak”

“Coba cek di game itu Dek. Online gak dia?”

Tak berapa lama anaknya berseru. “Ada Bun!”

Main Terooos! 

Untungnya itu bukan kejadian di diri saya. Tapi itu kejadian sungguhan di salah satu keluarga teman istri saya. Beneran. Saya bukan cuma ngeles kok! Sumpah!

Begini lho. Saya nggak bisa main mobile game terlalu lama. Jadi nggak mungkin mengalami itu. Tapi bukan berarti saya tidak mengalami hal serupa.

Belum lama ini sebuah permainan kartu populer dunia masuk secara resmi ke Indonesia. Sebutlah Pokemon trading card game (atau collectible card game?) yang sangat populer di berbagai belahan dunia sampai-sampai ada kejuaraan dunianya!

Saya memang tidak keranjingan game online. Tapi sekarang, setiap kali melihat Indomaret saya jadi ada keinginan untuk mampir dan beli satu atau dua booster pack.

Untungnya, anak saya yang laki-laki juga suka memainkan game ini. Bukan pada taraf kompetitif sih. Tapi dia menikmati aksi saling serang monster-monster kecil itu.

Jadi pada waktu-waktu luang tertentu, terutama di akhir pekan, kami akan memainkan versi kami sendiri dari permainan ini. Bagian dari keseruannya bukan hanya ketika kami “beradu Pokemon” tapi ketika sama-sama melakukan pengelompokkan atas Pokemon apa saja yang sudah ada dalam koleksi kami dan apa saja kemampuannya.

Mas Eko Nugroho, dalam sebuah diskusi di grup Chat, menarik kesamaan antara aktivitas dalam game kartu Pokemon dengan aksi mengoleksi perangko atau mata uang asing di masa lalu. Saya pun — setelah merasakan sendiri sensasinya — bisa mengamini hal itu.

Memang game kartu Pokemon ini benar-benar membangun perasaan Gotta Catch ‘Em All. Tapi maaf, saya permisi dulu, mau ke Indomaret.

Artikel ini di tulis untuk boardgame.id

Artikel original, serta informasi lain mengenai boardgames di Indonesia dapat di akses di boaridgame.id

Wicak Hidayat,
seorang penulis yang tinggal di Depok.

Jauhi Game Untuk Kebaikan Anak! [Keluarga Bermain]

Jauhi Game Untuk Kebaikan Anak! [Keluarga Bermain]

“Kiriya hati-hati!” teriak saya suatu sore sambil Saya berlari mendekati tuan putri dan sepedanya yang tiba-tiba membelok, miring, dan hampir terjatuh. Karena begitu kaget dan khawatir, Saya lalu memutuskan untuk menuntunnya bersepeda, mengatur kecepatannya, dan mengarahkan kemana sepedanya harus melaju.

Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya tuan putri turun dari sepedanya dan memutusan untuk tidak lagi main sepeda sore itu. Ia menjauh dari saya dan menyibukkan dirinya dengan hal lainnya.

Segala khawatiran, ketakutan memang perasaan yang tidak enak. Ketika hal itu terkait anak-anak kita bisa semakin berkali-kali lipat lebih tidak enak. Itu mungkin sebabnya kita sebagai orang tua selalu coba melakukan segala apa yang kita bisa untuk meminimalisir semua perasaan tersebut.

Saya bahkan kadang berdalih menyebutnya “memberikan yang terbaik bagi anak”. Padahal apa yang saya lakukan semata-mata untuk diri saya sendiri, untuk meminimalisir segala bentuk khawatiran dan ketakutan yang saya miliki.

Dalam banyak kesempatan, demi meminimalisir segala bentuk kekhawatiran dan ketakutan itu, kita kemudian tergoda untuk menuntun secara berlebih, mengatur, dan mengarahkan aktivitas anak kita sesuai dengan apa yang kita mau. Ruang empati, rasa percaya, semua hilang seketika. Yang ada mungkin hanya ego bahwa kita (orang tua) adalah yang paling tahu segala (yang terbaik) untuk mereka.

Tidak banyak keluarga seperti keluarga Mas Wicak Hidayat atau rekannya sebagaimana disampaikan dalam artikel “Permintaan Istri Pada Suaminya: Ayah, Mainnya Nanti Aja Ya?” yang memiliki ketertarikan, mengeksplorasi potensi game, dan benar-benar coba menghadirkan proses bermain di tengah keluarga.

Sebagian besar dari kita melihat bermain game sesuatu yang harus diminimalisir, dihilangkan sama sekali jika perlu! Karena kita khawatir, takut, itu akan mengganggu sekolahnya, mengganggu kegiatan belajarnya, mengganggu masa depan (yang kita impikan untuk) anak-anak kita!

Kita tidak memberikan ruang untuk mereka mencoba. Kita bahkan kadang menutup mata atas segala potensi baik yang mungkin ada. Hasilnya, seperti yang tuan putri Kiriya lakukan, anak-anak kita mungkin malah menjauh sama sekali dari kita.

Saat ini industri game dunia bernilai lebih dari 140 milyar dollar, puluhan ribu judul game hadir setiap tahunnya. Pertumbuhan industrinya terus tumbuh positif dan tercatat menjadi salah satu industri yang paling pesat perkembangannya dari tahun ke tahun. Artinya, game akan semakin dekat dengan anak-anak kita dan menjauhkan game dari mereka akan jadi hal yang sangat sulit.

Dari sudut pandang lain, industri game mungkin juga sebuah industri yang sangat menjanjikan untuk masa depan. Seperti halnya industri board game Indonesia yang walaupun baru dimulai 2014 lalu, terbukti terus tumbuh secara signifikan.

Saat ini telah tercatat puluhan judul board game Indonesia dan di Bandung kini sudahi galeri board game indonesia terlengkap. Ketika kita menutup mata dengan segala potensi yang ada, kita mungkin juga menutup kesempatan untuk anak-anak kita bisa berkontribusi dan menikmati segala hal baik dari industri ini.

Tiap kali ada yang mengingatkan “jauhi game, untuk kebaikan anak!” mungkin adalah sebuah pengingat untuk kita semakin semangat belajar memahami, memilih, untuk kemudian menghadirkan game-game terbaik ke rumah kita dan bermain bersama!

Artikel ini ditulis oleh direktur Ludenara Eko Nugroho untuk boardgame.id

Artikel original, serta informasi lain mengenai boardgames di Indonesia dapat di akses di boaridgame.id

Menunggu Anaknya Bermain, Seorang Ayah Patah Hati [Keluarga Bermain]

Menunggu Anaknya Bermain, Seorang Ayah Patah Hati [Keluarga Bermain]

 

Seorang Ayah menggelar sebuah board game kesukaannya. Sebuah permainan kolaboratif, dengan banyak komponen: miniatur, token, papan aksi, plus balutan narasi yang komplet!

Dikumpulkan keluarganya di meja makan. Lalu mereka mulai bermain. Tak lama, anaknya tampak bosan, melamun, tidak memperhatikan dan ingin segera selesai.

Seorang Ayah mengajak anak-anaknya bermain board game. Baru. Masih kinyis-kinyis, keluar dari plastic wrap. Dikeluarkan dari kotak, digelar di meja.

Anaknya masih asyik dengan perangkat digitalnya, satu lagi menonton televisi sambil ketawa-ketiwi. Ayah menunggu tidak sabar. Ia mulai patah hati.

Seorang Ayah membawa board game dengan penuh semangat. Nilai edukasi game ini, menurut para pakar, sungguh super dan luar biasa.

Digelarnya permainan itu di atas meja. Ia menunggu anak-anaknya untuk datang dan belajar dan bermain bersamanya. Sampai kapan?

Bukannya tidak paham pentingnya bermain. Bukan tidak mau juga. Bahkan ia sudah menyiapkan permainan. Menyajikannya sebaik yang ia bisa.

Hanya situasi kadang memang tidak mendukung. Kadang, patah hati memang tidak bisa dihindari. Ini kejadian nyata. Salah satunya (atau lebih?) benar-benar pernah saya alami.

Jangan Menyerah, Ayah 

Hal paling indah dalam hidup (setidakya buat saya) adalah ketika orang tua bisa bermain dengan anak-anaknya tanpa embel-embel yang memberatkan. Bermain lepas dan saling memahami masing-masing.

Lalu, apa yang salah dengan kejadian di awal tulisan ini?

Saya seperti banyak orang tua di negeri ini. Kadang kebangetan antusias saat mendapati sebuah kiat dan tips yang katanya baik untuk anak-anak.

Tapi, tentunya karena ada kesibukan. Mana sempat mempelajari sungguh-sungguh sebuah kiat? Kenapa tidak pakai cara cepat?

Ke-super-sibuk-an saya sebagai orang tua ini dibarengi dengan egoisme. Ketika memilih sebuah game untuk dimainkan, yang jadi pertimbangan adalah “apa yang saya suka?” atau “apa game yang bermanfaat untuk anak-anak?” bukan “apa yang seru untuk dimainkan bersama?”

Ya. Terus terang, ada momen-momen ketika saya lelah. Keinginan untuk bermain bersama anak selalu ada. Tapi kadang kekecewaan juga membuat saya enggan untuk mulai mengajak. Wajar kan kalau kita berusaha melindungi diri dari patah hati dengan menghindar?

Mas Eko Nugroho, dengan caranya yang khas, selalu menyemangati saya. “Jangan menyerah!”

Jika kita merasa sesuatu itu penting dan perlu, apakah kita akan kemudian menyerah ketika gagal di beberapa percobaan awal?

Eko Nugroho. Pentingnya Bermain untuk Keluarga

Menikmati yang Tidak Disukai 

Setelah berkali-kali mencoba. Membawa game yang ini dan itu. Membeli, bahkan hingga nominal rupiah yang tidak bisa dibilang sedikit, board game baru. Pada akhirnya saya menemukan momen-momen bermain yang menyenangkan.

Kuncinya sederhana: belajar menikmati sesuatu yang biasanya tidak bisa kita nikmati.

Intinya mencoba hal baru dan kompromi. Bermain bersama anak adalah memahami apa yang mereka suka untuk mainkan.

Saya, misalnya, akhirnya bisa menikmati permainan seperti Jenga. Permainan yang sebelumnya mungkin akan saya hindari. Kenapa? Karena anak-anak menikmati permainan itu.

Saya, kemudian, jadi senang dengan sebuah permainan yang dibuat oleh seorang YouTuber tertentu, yang dibeli lewat sebuah kampanye Kickstarter. Sebuah permainan yang simpel dan “berantakan” tapi membuat keluarga kami tertawa terbahak-bahak saat memainkannya bersama-sama. Membuat anak-anak mau main lagi dan lagi.

Game Terbaik di Dunia

Dalam sebuah workshop fotografi, peserta cenderung bertanya hal ini berulang-ulang pada pembicara: “Apa kamera terbaik?”

Jika pembicaranya fotografer kelas atas, ia akan menjawab begini: “Kamera terbaik adalah yang kamu pegang!”

Bukan karena tak mau menyinggung perasaan yang bertanya. Tapi karena fotografi adalah soal menangkap momen dengan kamera. Apapun kamera yang ada di tangan saat sebuah momen perlu “diabadikan” ya itulah kamera terbaik di dunia!

Demikian juga dengan board game. Apa board game terbaik di dunia? Ya, itu adalah game yang sedang kamu mainkan.

Board game yang hanya ngedeprok di rak dan tidak dimainkan bukanlah board game. Itu cuma pajangan.

Nah, board game terbaik di dunia buat saya adalah board game yang sedang saya mainkan bersama orang-orang yang saya cintai. Board game yang saya mainkan bersama keluarga. Atau board game yang saya mainkan bersama teman dan sahabat.

Tak perlu rating atau pakar, tak perlu BGG atau Tom Vassel untuk bilang apa board game paling baik di dunia. Board game terbaik di dunia adalah yang kamu mainkan. Titik!

Artikel ini di tulis untuk boardgame.id

Artikel original, serta informasi lain mengenai boardgames di Indonesia dapat di akses di boaridgame.id

Wicak Hidayat,
seorang penulis yang tinggal di Depok.

Pentingnya Bermain untuk Orang Tua [Keluarga Bermain]

Pentingnya Bermain untuk Orang Tua [Keluarga Bermain]

“Aku gak mau tidur siang. Nanti mainnya jadi sebentar.” Kata tuan putri siang itu. Beberapa minggu ini, Mamam (panggilan sayang Istri saya di keluarga kami) membuat kelas kecil di depan kantor. Sejak itu, hampir setiap hari banyak teman-teman tuan putri yang mampir untuk main (belajar) sama-sama.”

“Tapi tidur siangnya penting sayang, supaya mainnya gak lemes dan supaya teteh tetep sehat. Klo teteh sehat kan bisa main sering. Klo sakit kan susah buat mainnya.” Jawab saya coba berargumentasi.

“Tapi teteh pengen main dulu. Tidurnya nanti aja abis main ya Pam.” Tuan putri mencoba bertahan

“Tapi teteh kan mainnya sampai sore. Keburu maghrib. Tidurnya kapan?” Saya kembali meyakinkannya untuk tidur.

“Ya pas maghrib Pam, sebentar aja. Nanti bangun sholat, makan, main lagi deh sama Pampam sampai jam sembilan.” timpal tuan putri yang masih semangat bermain.

Sore itu tuan putri mengingatkan saya. Bermain bagi anak-anak kita adalah sebuah hal yang begitu penting. Mereka mau merelakan banyak hal untuk bisa melakukannya, sepenuh hati.

Bermain juga penting untuk kita sebagai orang tua

Sayangnya, Saya sebagai orang tua, selalu saja lupa akan hal itu. Alih-alih terlibat, kita coba menghindarinya. Mencari berbagai alasan untuk meyakinkan (diri kita sendiri) ada banyak hal lain yang lebih penting. Kita lupa penting tidaknya sesuatu, adalah soal rasa dan pemahaman.

Kita sebagai orang tua selalu menuntut anak-anak kita untuk memahami kita, kadang tanpa memberi ruang untuk coba ‘merasa’ (empati) dan memahami mereka seutuhnya. Atas dasar itu bermain mungkin adalah cara terbaik untuk kita berlatih itu semua.

Di lain sisi, banyak dari kita juga lupa, bahwa waktu bermain dengan anak-anak kita sangat terbatas dan pendek. Tiba-tiba mereka tumbuh besar, dan memiliki teman bermain yang lebih mengerti mereka. Kita kemudian baru tersadar ketika mereka tidak lagi bersedia meluangkan waktunya dengan kita.

Saat itu terjadi, kita bisa saja menuntut mereka untuk meluangkan waktunya dengan kita, tapi apakah hal ini adil? Yang harus mulai kita pahami adalah BERMAIN ITU PENTING UNTUK KITA meskipun sudah menjadi orang tua! Agar bisa memberikan bukti pada anak-anak kita bahwa kita juga bisa jadi teman baik untuk mereka.

 

Adakalanya, kita kemudian beralasan bahwa kita sudah menyiapkan waktu, game yang seru, tapi anak-anak malah yang sibuk dan tidak punya waktu. Mungkin masalahnya bukan soal jadwal atau game-nya. Mungkin masalahnya kita yang belum melihat hal itu penting dan perlu. Jika kita merasa sesuatu itu penting dan perlu, apakah kita akan kemudian menyerah ketika gagal di beberapa percobaan awal?

Yang juga perlu disadari, bermain bisa menjadi sebuah proses belajar yang luar biasa. Syaratnya, seperti halnya berbagai proses belajar lainnya, ia harus dipersiapkan secara sungguh-sungguh. Tanpa persiapan yang baik, sulit menghadirkan proses belajar yang baik, sehebat dan secanggih apapun media yang digunakan. Sialnya, kita kadang berharap bisa menghadirkan proses bermain sebagai proses belajar, tanpa persiapan sedikitpun.

Berbagai kondisi diatas mungkin yang kemudian mendorong di banyak negara (Eropa, dan US) belakangan ini mulai memunculkan berbagai kampanye dan budaya bermain bersama. Di Jerman, budaya bermain board game bersama yang dikenal dengan istilah Spielabend atau malam bermain, telah dikenal sejak lama.

Ya karena bermain menjadi pilihan aktivitas keluarga yang menyenangkan dan bermanfaat. Spielabend bahkan banyak dilakukan oleh kampus, sekolah, dan berbagai perusahaan, karena pelaksanaannya yang sederhana (cukup menyediakan board game dan camilan) namun manfaatnya sungguh luar biasa.

Bayangkan jika hal yang sama bisa kemudian kita hadirkan dan budayakan di Indonesia. Budaya bermain board game bersama hadir di banyak keluarga, di sekolah, di kampus, dan di berbagai perusahaan. Ketika ini terjadi, kita mungkin akan melihat banyak ruang belajar yang tercipta, anak-anak kita akan tumbuh dalam potensi terbaiknya, dan yang terpenting – kita sebagai orang tua, mungkin akan dapat kesempatan untuk bisa bermain bersama anak-anak kita lebih lama.

Bukankah jadi sebuah kebahagiaan tersendiri, jika satu hari, anak-anak kita, bersama anak-anaknya (cucu kita) selalu menyambut dengan gembira untuk bisa bermain bersama orang tuanya? Ini adalah mimpi yang akan saya coba wujudkan, semoga ini juga bagian dari mimpi anda!

 

Artikel ini ditulis oleh direktur Ludenara Eko Nugroho untuk boardgame.id

Artikel original, serta informasi lain mengenai boardgames di Indonesia dapat di akses di boaridgame.id

Ada manfaatnya, main video games bersama anak?

Ada manfaatnya, main video games bersama anak?

 

Bukan sesuatu yang mengagetkan jika ada yang bilang bahwa keluarga yang suka bermain bersama memiliki ikatan yang erat, komunikasi lebih lancar, tingkat saling percaya yang tinggi dan secara keseluruhan lebih bahagia.

 

Telah banyak penelitian dan ekspert yang mensupport konklusi ini. Di buku nya Playful Parenting Lawrence J. Cohen, Ph.D., menuliskan bahwa bermain bersama memberikan kesempatan kepada orang tua untuk memasuki dunia anak, dari bermain anak-anak menunjukan dirinya kepada kita, dan ini lah cara untuk memperkuat koneksi orang tua dengan anak.

 

Ketika mempertimbangkan masa depan anak, sudah banyak bukti bahwa hubungan keluarga yang erat memiliki korelasi positif terhadap kepuasan hidup anak secara keseluruhan.

Professor of pediatrics dari George Washington University Stanley Greenspan, M.D., memberi wawasan bahwa, bermain dengan orang tua membantu anak melatih kecerdasan sosial yang dibutuhkan untuk berhubungan dengan orang lain, ini lah yang memastikan masa depan mereka lebih baik.

 

Nah pertanyaan apakah bermain video game bisa memberikan manfaat yang sama?

Untuk ini University of California merekrut 361 relawan yang sudah berkeluarga untuk melakukan survey.

Survey ini bertujuan untuk memahami dampak dari bermain video game bersama dengan keluarga terhadap hubungan di keluarga, dalam ukuran kedekatan dan kepuasan keluarga.

 

Tentunya setelah di ambil datanya keluarga yang bermain bersama memiliki hubungan yang lebih baik. Degan menghabiskan lebih banyak waktu bersenang-senang bersama anak orang tua bisa mendeskripsikan hubungan keluarga mereka secara sangat positif. Hanya 1 kali seminggu, itu frekuensi rata-rata penjawab survey mereka merasakan hubungan keluarga lebih erat dan kepuasan keluarga meningkat. meski tidak sedang bermain.

 

Namun lebih pentingnya dari survey ini kita bisa tahu video games seperti apa saja yang menimbulkan ini.

  1. Games yang mudah dan bisa dimainkan oleh segala kelompok umur,
  2. Games yang kooperatif, dimana pemain memiliki tujuan yang sama,
  3. Secara general games yang dimainkan di 1 konsol yang sama dipersepsikan lebih baik, dibandingkan memainkan game bersama di gadget yang berbeda.

Beberapa games di namakan secara spesifik, seperti Minecraft, Mario, dan beberapa games olahraga dan musik.

 

Tentunya survey ini memiliki banyak limitasi, dan tidak ada yang mengatakan bahwa bermain di dunia “digital” sama baiknya dengan bermain di dunia “nyata.”

Namun pesan yang paling penting mungkin adalah, bermain video games, jika dilakukan dengan baik, dan bersama-sama memiliki dampak yang positif, dan sangat mungkin menjauhkan kecanduan.

Sumber:

Wang, B., Taylor, L., & Sun, Q. (2018). Families that play together stay together: Investigating family bonding through video games. New Media & Society, 20(11), 4074–4094.

Playful Parenting, by Lawrance J. Cohen, Ph.D., Ballantine, 2002

Building Healthy Minds: The Six Experiences That Create Intelligence and Emotional Growth in Babies and Young Children by Stanley Greenspan, M.D., Perseus Publishing, 2000

Subyek Pelajaran yang Rumit pun Bisa Disederhanakan Jadi Board Game

Subyek Pelajaran yang Rumit pun Bisa Disederhanakan Jadi Board Game

 

Bandung, 25 Agustus 2019. Tidak seperti biasanya, PlaySpace by Boardgame.id sudah ramai dikunjungi sedari pagi. Padahal hari Minggu. Rupanya, rangkaian acara Kelas Game Design yang berlangsung sejak hari sebelumnya masih berlanjut.

 

 

Setelah dibekali dengan materi dan langsung mencoba bermain board game pada kelas hari pertama, peserta diajak untuk menciptakan board gamenya sendiri. Oiya, sebagai penutup sesi hari Sabtu, peserta diminta untuk membuat kerangka board game yang ingin mereka rancang. Mereka menentukan subyek apa yang ingin disampaikan lewat board game, siapa target pemainnya, objektif permainan dan sebagainya.

Di hari kedua, peserta menuangkan segala ide atau dasar-dasar rancangan yang sudah mereka tentukan sebelumnya menjadi prototipe atau purwarupa. Peserta dibagi ke dalam 6 kelompok yang masing-masing berisi tiga peserta.

Alhasil dari Kelas Game Design ini terlahir 6 rancangan board game karya guru dan orang tua dengan beragam tema dan subyek. Ada yang mengambil tema PKN untuk mengajarkan sikap tolong-menolong, ada yang membuat game taat lalu lintas, kepedulian lingkungan sampai subyek matematika tentang pecahan.

Dipandu oleh beberapa fasilitator, setiap tim mengembangkan rancangannya, mencobanya dan memperbaikinya lewat proses rapid prototyping. Menjelang sore hari, prototipe dari setiap tim diuji coba oleh tim yang lain. Mereka pun mendapat feedback dari karya mereka.

Di akhir sesi, setiap tim akan memberikan poin voting untuk rancangan yang menurut mereka paling menarik. Terpilihlah rancangan berjudul Piring Kosong yang mendapat 7 poin suara dan otomatis berhasil menjadi board game terfavorit hari itu.

Piring Kosong mengajak pemainnya untuk meletakkan kartu bergambar sebuah bidang yang di dalamnya memiliki beberapa bagian, sebagiannya diarsir dan sebagian lagi kosong. Nah! Tugas pemain adalah mencari gambar yang cocok dan meletakkannya di piring kosong dengan angka pecahannya sesuai dengan nilai pecahan pada kartu gambar yang diambil. Misalnya ada kartu segi lima, dua bagiannya diarsir. Artinya, gambar tersebut bernilai dua seperlima, pemain harusnya meletakkan kartu tersebut ke piring yang bernilai sama.

 

Para perancangnya yang merupakan guru SD dan SMP Nurul Fikri, Depok, ingin murid-muridnya lebih paham tentang pecahan karena pelajaran ini yang susah ditangkap oleh mereka. Dengan bermain dan mencocokkan gambar dengan nilai pecahan, mereka berharap belajar pecahan jadi makin mudah dan menyenangkan.

Pada Kelas Game Design sebelumnya, board game terfavoritnya mengambil tema sains, yaitu rantai makanan. Kini board game tersebut terus disempurnakan dan menjadi board game yang dimainkan pada hari pertama.

Wah seru ya! Ternyata tema board game bisa apa saja, bahkan dengan subyek yang cukup rumit seperti pecahan dalam matematika bisa diajarkan dengan cara yang seru dan mudah lewat board game. Bagaimana kalau subyek atau mata pelajaran lain juga dibuat board gamenya, pasti murid-murid jadi makin semangat belajar. Tidak perlu membuatnya sendirian, guru-guru dengan bidang ajar yang berbeda juga bisa saling berkolaborasi untuk membuat board game lho.

Artikel ini di tulis oleh Isa Rachmad Akbar dan sudah di publikasikan di boardgame.id

Kamu juga bisa lihat acara-acara seru & menarik lainnya yang diselenggarakan di PlaySpace by Boardgame.id, Jalan Sukanagara no. 31, Antapani, Bandung dengan mengunjungi boardgame.id

 

Game Schooling The Festivals, 11 Juli

Game Schooling The Festivals, 11 Juli

 

Day-2 Game School Festivals

 

Pembukaan-Briefing

  1. Ibu Augy memberi pembukaan dengan Ice breaking kecil sehingga suasana menjadi cair
  2. Briefing, Ibu Augy menjelaskan secara garis besar mengenai beragam budaya-budaya Indonesia serta board game Festival sebagai game yang mengeksplorasi festival-festival yang dilaksanakan di setiap budaya.

   

Playing

Anak-anak dibagi menjadi 2 kelompok dengan Ibu Augy dan Ibu Novie menjadi fasilitator setiap kelompok. Masing-masing fasilitator melajutan dan menambahkan narasi mengenai Festivals, anak-anak dijelaskan bahwa mereka berperan sebagai seorang penjelajah yang ingin belajar tentang semua budaya Indonesia.

Dengan cepat anak-anak menangkap peraturan dan langsung asik bermain.

Berikut adalah beberapa keterampilan yang muncul dan di latih oleh murid-murid game schooling

1. Cultural Literacy 

Game ini menunjukan betapa luasnya Indonesia, dan lebih kerennya lagi betapa banyak nya ragam budaya. Setiap festival juga menunjukan bahwa kita memiliki beragam kepercayaan, tradisi, dan cara hidup. Dari sini murid melihat meskipun kita sangat berbeda, namun kita semua bisa hidup dengan damai dan saling bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

2. Character Qualities.

Game ini sangat sering mengasah adaptability, dengan tujuan mencapai sebuah festival pertama (untuk mendapatkan nilai tertinggi) seringkali murid harus merubah jalur pernerbangan mereka saat mereka gagal memprediksi jalur lawan. Curiosity juga sangat terbangun, dari melihat kartu-kartu festival yang sangat menarik, murid-murid pun dengan senang hati mencari tahu lebih dalam tentang setiap festival atau budaya. Dengan mekanisme game ini yang mengharuskan kita

3. Competencies

Dari game ini murid-murid bisa melihat bahwa problem-solving tidak hanya mengidentifikasi dan analisis situasi namun juga melihat jangka panjang. Setiap aksi ada harganya lalu untuk jadi untuk menang setiap murid harus bisa membuat rencana.

 

Debrief-Presentation

Debrief

Untuk debrief di hari ke-2 ini Ibu Augy mengadakan quiz dimana setiap kelompok berlomba menjawab.          Pertanyaan-pertanyaan di quiz ini digunakan untuk mengukur pemahaman anak tentang apa yang mereka pelajari dari bermain seperti;

Festival ini diadakan oleh budaya apa? Atau budaya ini berasal dari pulau apa? Festival apa yang ada kudanya? Dan lainnya.

Terlihat sangat asyik ketika murid-murid berlomba menjawab, dan juga terlihat bahwa tidak sedikit yang mereka pelajari

 

Setelah itu mereka menggambarkan tentang festival dan budaya yang mereka ingin kunjungi. Dari sini terbangunlah rasa ingin tahu dan ingin mengenali budaya lain selain budaya mereka sendiri. Murid-murid akan melihat sendiri keberagaman budaya Indonesia yang sangat berbeda-beda namun tetap bisa hidup dan bekerja bersama di dalam Satu Indonesia. Dari hal ini kita berharap rasa“Bhineka Tunggal Ika” yang sungguh dapat membuat Indonesia damai dan makmur, terbangun.

Game Schooling Aquatico, 10 Juli

Game Schooling Aquatico, 10 Juli

Day-1 Game School Aquatico

 

Pembukaan-Briefing

  1. Ibu Augy memberi pembukaan dengan memperkenalkan diri, dan team Ludenara.
  2. Anak-anak diberi kesempatan memperkenalkan diri masing-masing
  3. Briefing, Ibu Augy menjelaskan secara garis besar mengenai ekosistem air, serta mengenai game yang dimainkan dan narasi awal.

   

Playing

Anak-anak dibagi menjadi 2 kelompok dengan Ibu Augy dan Ibu Novie menjadi fasilitator setiap kelompok. Masing-masing fasilitator melajutan dan menambahkan narasi mengenai Aquatico, anak-anak dijelaskan bahwa mereka berperan sebagai seorang pemimpin masyarakat yang bertanggung jawab untuk memastikan ekosistem di sekitar mereka tetap bersih agar binatang-binatang datang dan berkembang biak dengan baik.

Dengan cepat anak-anak menangkap peraturan dan langsung asik bermain.

Berikut adalah beberapa keterampilan yang muncul dan di latih oleh murid-murid game schooling

1. Different Perspective/ Big Picture,

Di game ini murid-murid berperan sebagai penanggung jawab ekosistem perairan, dari sini mereka bisa memahami bahwa pekerjaan konservasi alam tidaklah mudah.

2. Character Qualities.

Murid-murid belajar kompetisi sehat, dimana mereka bisa menerima kekalahan serta belajar dari itu, dan karena mereka tetap ingin menang persistence sangat berkembang dengan ini. Dan pada saat bermain kooperatif mereka berperan sebagai pemimpin dan pengikut, mereka belajar berkolaborasi untuk mencapai tujuan yang sama. Initiative tidak terlihat di ronde pertama bermain tapi terlihat muncul di saat mereka lebih mengenali permainan dan cara memenangkannya, contohnya anak-anak awalnya mengoleksi kartu ekosistem sesuai dengan binatang yang mereka ingin dapatkan, namun setelah mereka sadar itu sangat susah dicapai, atau ekosistem mereka terpolusi, mereka dengan cepat beradaptasi dan mengoleksi ekosistem yang lain untuk mendapatkan binatang yang lain, hal ini juga yang disebut adaptability ketika mereka cepat beradaptasi pada situasi baru.

3. Competencies

Fasilitator menjelaskan bagaimana cara bermain game, namun cara untuk menang mereka harus mencari tahu sendiri. Dari proses ini mereka mengasah critical thinking, dengan sendirinya mereka kritis akan menemukan cara terbaik untuk menang. Kreatifitas juga sangat berkemang, terilhat ketika mereka bisa menemukan solusi-solusi kreatif pada saat suatu permasalahan muncul.

Debrief-Presentation

 

Dengan bermain anak-anak tahu bahwa binatang tidak akan suka ekosistem yang terpolusi, di sesi ini mereka menonton video yang melihatkan konteks dunia nyatanya. Setelah itu mereka menggambarkan ekosistem seperti apa sih yang mereka inginkan, di sini saat learning points literasi mengenai ekosistem di luar dari 21st century skills muncul.

 

Mereka bisa menyimpulkan bahwa membersihkan ekosistem dengan sendiri sangat lah susah dan butuh kerjasama, “Iya bersih-bersih sendiri susah banget soalnya orang lain yang ngotorin, tapi pas bareng-bareng lebih gampang!” kata seorang anak. Juga ada anak yang bisa melihat aplikasi game di dunia nyata “Bersih-bersih susah yaa.. belum tentu berhasil lagi, mendingan ngejaga yang udah bersih.”

Tentunya pengetahuan-pengetahuan dasar bisa disampaikan dengan games secara sangat fun! namun memang tidak bisa terlalu banyak informasi yang dimasukkan ke dalam games, namun game based-learning sangat kuat di sisi membangn interest, dan interest ini lah yang akan mendorong anak-anak untuk mendalami topik pembelajaran lebih dalam lagi. Contohnya setelah acara selesai masih banyak anak-anak yang nanya-nanya tentang ekosistem dan binatang-binatang laut dan setelah itu juga meminta untuk di tunjukan video-video lain tentang ekosistem laut itu. Kita juga mendapatkan laporan dari orang tua bahwa anak nya masih sangat semangat bercerita tentang pengalaman main nya dan ekosistem perairan. Selama interst ini bisa terbangun, maka proses pembelajaran tidak akan berhenti