Tips meningkatkan engagement murid

Tips meningkatkan engagement murid

Photo by: Freepik

Student engagement sering didefinisikan sebagai, keterlibatan siswa diukur dengan tingkat perhatian, keingintahuan, minat, optimisme, dan semangat yang ditunjukkan siswa ketika mereka belajar. Dari sini sudah jelas bahwa setiap pendidik merasakan pentingnya engagement setiap siswa di kelas.

Menyadari kepentingan engagement membuat banyak cendekiawan yang menyusun strategi peningkatan engagement murid di kelas. 

Salah satunya adalah framework “Seven Principles For Good Practice in Undergraduate Education”. Framework yang dirancang oleh dua orang dengan keahlian yang saling melengkapi. Arthur Chickering, profesor di bidang pendidikan dan dengan Zelda Gamson yang memiliki latar belajar di sosiologi.

Berikut adalah 7 prinsip di dalam framework mereka ini.

Berikan banyak kesempatan berkolaborasi

Salah satu kunci dari meningkatkan engagement adalah interaksi antar siswa yang banyak. Dengan bekerja sama, berdiskusi, dan bertukar informasi dengan teman-teman, banyak sekali murid yang akan merasa nyaman dan bisa terlibat dengan pembelajaran dengan aktif. 

Selain itu juga banyak sekali bukti empiris yang mensupport teori social-cognitivism yang menunjukan bahwa banyak manfaat belajar dalam kelompok. Ludenara juga ada lho artikel yang membahas tentang manfaat belajar bareng-bareng.

Gunakan pendekatan aktif learning

Banyak pendekatan student-center dimana murid memiliki peran yang lebih besar dari pada guru di dalam kelas. Seperti Game, Project, Problem based learning yang sangat baik dalam meningkatkan engagement murid. 

Di proses pembelajaran seperti ini, murid tidak lagi hanya sekedar menjawab soal, mencatat, atau mendengarkan. Namun mereka secara aktif berkreasi, memecahkan masalah, dan mencari ilmu dan keterampilan baru dengan sendiri.

Feedback yang rutin

Tentu dengan feedback rutin, engagement antara guru dan murid akan terbangun dengan baik. Selain itu banyak penelitian yang menunjukan bahwa feedback memiliki peran yang besar dalam perkembangan akademis murid. 

Jika setiap perkembangan murid di ikut sertakan dengan feedback oleh guru, percaya diri, dan motivasi belajar murid meningkat. Selain itu guru juga bisa membantu murid membangun kekuatan, dan memperbaiki kelemahan mereka

Tambahkan interaksi antara murid dan guru

Dalam meningkatkan engagement dalam kelas, sangat penting murid merasa nyaman dengan guru. Untuk itu framework ini menyarankan guru untuk membangun hubungan yang erat dengan murid. 

Dengan hubungan yang lebih baik ini, murid akan merasa lebih nyaman dan akan berpartisipasi di dalam kelas secara lebih aktif. Maka dengan itu membangun hubungan di luar konteks pembelajaran sangat lah penting.

Ajarkan murid untuk mengatur waktu dengan baik

Belajar membutuhkan energi dan waktu. Maka time management menjadi hal harus dikuasai oleh seorang lifelong learner. Mengatur waktu sehingga mereka memiliki energy yang optimal saat sesi pembelajaran akan membantu engagement mereka di kelas itu.

Pahami murid sebagai individu

Kita tahu setiap anak memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Memasang standar akademis yang baku kepada setiap murid membuat beberapa anak yang memang pandai membaca dan menghitung sangat pintar, dan kelemahannya tidak terlihat. 

Di sisi lain anak-anak yang memiliki kesulitan belajar di dalam ruang kelas atau sistem yang baku akan terlihat kurang pandai.

Tingkatkan ekspektasi terhadap murid

Kita tambahkan ini dengan prinsip sebelumnya. Hal yang paling baik adalah membandingkan murid bukan dengan murid lain, tapi dengan dirinya sendiri di masa lalu.

 Dengan sistem seperti ini kita akan terus mendukung performa murid sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Ini juga berhubungan dengan kenyamanan murid di saat belajar. Dengan membuat ekspektasi yang mereka setuju, mereka akan lebih giat dan aktif di kelas untuk mencapainya.

Sumber:

Chickering, A. W., & Gamson, Z. F. (1987). Seven principles for good practice in undergraduate education. AAHE Bulletin, 39(7), 3–7.

Melihat masa depan dengan penuh harapan dan optimisme. (Sisi baik pandemi bagi dunia pendidikan)

Melihat masa depan dengan penuh harapan dan optimisme. (Sisi baik pandemi bagi dunia pendidikan)

Photo by Sorasak on Unsplash

Sungguh banyak sekali hal buruk yang telah terjadi akibat pandemi, namun untuk apa kita memikirkan semua hal buruk yang malah nambah stress. Kecuali jika kita bisa do something about it, jika tidak ya pikirin yang baik-baik saja lah.

Nah sekarang alangkah baiknya jika kita melihat hal-hal baik yang terjadi walaupun kita harus melewati pandemi ini. Untung nya dampak-dampak baik ini banyak yang bersifat jangka panjang, jadi kita bisa melihat masa depan dengan penuh harapan.

Memahami pondasi pembelajar yang mandiri

Sejak pandemi ini kita tetap melihat banyak nya siswa-siswi yang sanggup belajar dengan baik dan bisa berprestasi meskipun tidak ada dampingan langsung dari guru. 

Seperti nya ada 2 hal utama memang Ini hanya spekulasi, namun telah ada data dari sebelum pandemi yang mendukung kebenaran spekulasi ini.

Intrapersonal Intelligence

Atau seberapa kenal nya kita dengan diri sendiri. Intelligence ini adalah pondasi dari kemandirian dalam berbagai macam hal, termasuk disiplin untuk belajar dengan sendiri.

Intelligence ini meliputi memahami kekuatan dan kelemahan, menyadari mood, emosi, niat, motivasi, dan keinginan diri sendiri, dan kapasitas untuk self-discipline, self-understanding dan self-esteem (Gardner & Hatch).

Semua hal itu sangat lah penting untuk membangun kemampuan belajar secara mandiri, dan mendapatkan hasil pembelajaran yang baik.

Untuk pembahasan intrapersonal intelligence secara detail bisa ke artikel ini ya 

Supportive Family

Semenjak pandemi ini kita harus dirumah terus, dan yang membuat atmosfer rumah kondusif untuk belajar adalah keluarga. Ya tentu saja ini faktor yang sangat penting. Bagaimana kita bisa belajar jika tidak nyaman di rumah? 

Penelitian dari inggris yang telah dilakukan sejak 1950 an mendata ribuan anak-anak dari masa kecil hingga dewasa. Disini mereka menemukan bahwa orang tua yang suportif adalah faktor yang paling besar dalam kesuksesan anak di masa dewasa (Pearson H, 2016).

Karena ini membangun tradisi bermain bersama di rumah menjadi sangat penting. Dengan ini kita bisa membuat suasana rumah menjadi lebih happy, menguatkan ikatan keluarga, dan membuat lingkungan rumah menjadi kondusif untuk belajar.

Pedagogy berkembang dengan pesat

Karena guru-guru tidak bisa bertatap muka langsung dengan murid, mereka terpaksa berpikir kreatif agar murid tetap engage dengan konten pembelajaran. Keren nya banyak sekali kita melihat improvisasi dari pedagogi pengajaran online, dan berikut adalah beberapa teknik yang telah terbukti berhasil

Blended learning

Sekarang kita paham bahwa pembelajaran tidak semua harus terjadi secara langsung dimana guru menyampaikan dan membahas materi di kelas. Kita tahu bahwa waktu belajar bisa lebih fleksibel menyesuaikan dengan kenyamanan siswa-siswi kita.

Teknik yang menggabungkan pembelajaran synchronous (langsung) dan asynchronous (tidak langsung) menjadi sangat penting saat belajar daring. Banyak sekali manfaat bagi murid dan guru dari pendekatan ini. 

Teknik blended learning ini juga tentu bisa dioptimalkan di saat kita sudah bisa kembali masuk sekolah.

Disaat asynchronous murid dapat belajar di waktu nya sendiri dimana dia merasa pikiran nya kondusif untuk belajar dan paling nyaman, dengan itu mereka bisa belajar dengan lebih maksimal. 

Sedangkan guru bisa menggunakan waktu ini untuk mengerjakan hal lain yang tidak berhubungan langsung dengan mengajar, dan hanya perlu memberi materi yang mudah di akses oleh murid.

Dengan ini saat pembelajaran synchronous terjadi guru memiliki lebih banyak waktu untuk menyemangati murid nya, memberikan kenyamanan psikologis, dan membahas lebih lanjut tentang apa saja yang sudah dipelajari oleh murid di saat pembelajaran asynchronous.

Hal ini juga mendorong kemandirian dan tanggung jawab murid atas proses pembelajaran nya sendiri.

4i (Interaksi, Teknologi, Narasi, Kreasi)

Semenjak pandemi kita telah melihat perkembangan, dan meningkat nya penggunaan 4 komponen ini dalam proses pembelajaran. Dan tentu 4i ini sangat bisa diterapkan di saat pembelajaran tatap muka nanti.

4 komponen ini bisa membuat pembelajaran di kelas menjadi seru seperti bermain! Karena itu 4 komponen ini ampuh meningkatkan engagement dan hasil pembelajaran murid kita.

Seperti nya untuk guru, mengulik-ulik komponen ini aja sudah seru. Apa lagi saat di mainkan bersama murid. Peletakan komponen-komponen ini dalam sesi pembelajaran sangat fleksibel, dan setiap guru bisa bereksperimen untuk mencari kombinasi yang terbaik

Sesi pembelajaran akan lebih baik jika dimulai dengan hal-hal yang menyenangkan seperti narasi atau interaksi yang berhubungan dengan materi pembelajaran agar engagement mereka tinggi. 

Lalu bisa memasukan materi-materi pembelajaran yang berbobot di di saat engagement mereka masih di tingkat yang tinggi. Tentu nya engagment akan turun setelah ini, dan di saat ini lah sebaik nya kita bisa menyuguhkan materi pembelajaran dengan interaksi, atau narasi agar engagement mereka mengingat kembali, dan begitulah seterusnya.

Sumber:

Pearson, H. (2016). The life project: How the study of six generations showed us who we are. London: Allen Lane.

Gardner, H. (1983). Frames of mind. New York: Basic Books.

Kunci pembelajaran yang ampuh dalam situasi apa pun! (Menurut neuroscience).

Kunci pembelajaran yang ampuh dalam situasi apa pun! (Menurut neuroscience).

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Lingkungan kita seperti nya sangat berbeda ya…

Haha.. ini mungkin pernyataan yang sangat meremehkan situasi kita sekarang.

Kita sebagai pendidik sekarang berada di posisi yang sangat penting. Karena dalam situasi seperti ini sangat mudah bagi anak-anak kita untuk tertinggal dalam pendidikan nya. Tentu kita harus berjuang keras agar ini tidak terjadi.

Sekarang ini saat yang tepat untuk belajar merancang sesi pembelajaran yang tetap efektif meskipun situasi dan lingkungan terus berubah-ubah.

Bagaimana caranya? Apakah ada ilmu yang bisa terus berharga meskipun situasi dan lingkungan terus berubah?

Seperti nya ada.

Yaitu neurology, karena meskipun lingkungan dengan cepat nya berubah, cara kerja otak kita tetap sama. Bisa sih berubah, tapi kita harus nunggu 100 juta tahun? Agar proses evolusi merubah total otak kita?

Yaa sebelum itu seperti nya ilmu neurologi yang kita miliki sekarang tetap akah berharga di situasi apa pun.

Lalu apa saja yang diberikan oleh bidang ilmia ini, yang berharga untuk pendidik khusus nya dalam situasi pembelajaran daring? 

Seperti nya ada banyak, namun di artikel ini kita coba bahas 3 saja dulu, yang bisa sangat berharga.

Pembelajaran yang baik terjadi di saat kita berinteraksi langsung dengan lingkungan

Dari penelitian otak kita tahu bahwa otak kita, khusus nya di bagian korteks depan terbentuk sesuai dengan pengalaman kita dengan lingkungan kita. Ekspresi genetik serta Interaksi dengan lingkungan, budaya, dan proses pembelajaran merubah struktur otak kita, teori ini disebut “neuro constructivism” (Quartz & Sejinowski, 2002).

Mungkin ini mengapa proses pembelajaran yang dirancang sesuai teori pembelajaran constructivism sangat efektif. Aktivitas-aktivitas seperti experiential learning, hands-on learning, playful learning telah memberikan hasil pembelajaran yang luar biasa.

Memang pembelajaran terjadi disaat kita membentuk ilmu dari interaksi langsung dengan lingkungan kita. Tidak bisa kita hanya menghafal fakta-fakta dan rumus-rumus, karena menurut teori ini itu belum merupakan pembentukan ilmu.

Hal ini harus ditambahkan simulasi atau praktek agar pelajar bisa melihat bagaimana fakta atau rumus ini berhubungan dengan dunia nyata.

Implikasi Pembelajaran Daring:

Penelitian ini menunjukan bahwa di dalam pembelajaran online murid harus tetap aktif membentuk ilmu nya sendiri.

Aktivitas-aktivitas seperti berkarya, game based atau project based learning memberikan banyak kesempatan agar murid menjadi aktif dalam proses pembelajaran nya sendiri. Mungkin sebaik nya pembelajaran daring bisa diperbanyak proses pembelajaran aktif seperti ini.

Emosi dan kepercayaan yang tepat harus ada saat belajar

Pembelajaran bukan lah proses yang semata-mata intelektual namun pada emosi dan kepercayaan. 

Emosi yang baik memungkingkan pembelajar untuk mencari kesempatan baru, bahkan mencoba lingkungan pembelajaran yang tidak nyaman, dan mengambil resiko. Sedangkan rasa takut melumpuhkan dan menutup siswa dari apa yang mungkin merupakan pengalaman belajar yang baik  (Meyer, 2004).

Begitu pula dengan kepercayaan. Dalam proses pembelajaran ada kepercayaan-kepercayaan yang menolong dan ada yang menghalangi (Meyer, 2004). 

Menurut Meyer, kepercayaan yang melempar tanggung jawab pembelajaran kepada orang lain menghalangi kita untuk belajar dari kesalahan. Sementara kepercayaan yang menguatkan kemampuan kita sebagai pelajar bisa mendorong kita ke dalam pengalaman dari mana pemahaman dapat dikumpulkan dan makna dibuat.

Implikasi Pembelajaran Daring:

Mengetahui ini mengingatkan kita bahwa membuat proses pembelajaran yang asyik bukan hanya sekedar memotivasi anak agar mereka mau belajar, tapi bahkan membuat proses itu lebih efektif. Makanya, pembelajaran daring harus dibuat seasik bermain!

Selain itu kerjasama antara guru dan orang tua harus semakin erat. Karena kedua pihak ini lah yang sangat bertanggung jawab atas kepercayaan-kepercayaan yang dimiliki sang anak.

Kedua pihak harus bisa menceritakan nilai-nilai yang positif sehingga anak-anak memegang kepercayaan yang baik.

Perhatian sangat berharga dan mudah hilang

Pentingnya perhatian untuk hasil pembelajaran bukan lah pengetahuan baru. Kita tidak perlu penelitian atau teori untuk mengetahui ini. Adapun topik pembelajaran nya, jika kita tidak beri perhatian tidak mungkin bisa dipelajari. 

Suatu hal yang bisa jadi kita sendiri tidak sadari, adalah betapa mudah nya hilang perhatian kita. Penelitian neurologi pun mengkonfirmasi ini.

Manusia hanya memiliki sumber daya saraf yang terbatas untuk memperhatikan, dan memproses kompleksitas lingkungan sekitarnya. Kemampuan kognitif untuk meletakan perhatian kita memungkinkan kita untuk memperhatikan hanya beberapa elemen lingkungan sambil menyaring yang lain. (Lodge & Harrison, 2019)

Filter perhatian ini dengan tenar di sebut “cocktail effect” ketika kita berada di ruangan penuh dengan orang lain berbicara, kita tetap bisa memfokuskan perhatian kita kepada lawan bicara kita. Namun bayangkan jika nama kita disebut, atau kita mendengarkan suara yang kencang, seperti teriakan atau gelas pecah. Tentu langsung saja kita memindahkan perhatian tanpa sadar.

Implikasi Pembelajaran Daring:

Penelitian ini mengingatkan kembali betapa penting nya membuat proses pembelajaran yang menarik! Dalam situasi pembelajaran daring banyak sekali hal lain di internet yang dengan mudah menarik perhatian murid-murid kita, jika pembelajaran sangat membosankan, tanpa sadar perhatian mereka akan di alihkan. 

Selain itu ada penelitian lain yang menunjukan bahwa setiap sesi pembelajaran tidak boleh terlalu lama. Setiap penelitian memberikan saran yang sedikit berbeda, namun 30-45 menit seperti nya bisa sangat optimal.

Selain itu, sebagai orang tua kita juga harus sadar bahwa kita harus bisa menyediakan lingkungan belajar yang jauh dari gangguan berupa apa pun. Untuk memastikan efektivitas belajar, sebaik nya orang tua bisa menyediakan tempat khusus, agar dimudahkan sang anak meletakan perhatian nya di tempat yang tepat.

Sumber:

Lodge, J. M., & Harrison, W. J. (2019). The Role of Attention in Learning in the Digital Age. The Yale journal of biology and medicine, 92(1), 21–28.

Meyer, Katrina. (2004). How Recent Brain Research Can Inform the Design of Online Learning. Journal of Educators Online. 1. 10.9743/JEO.2004.1.1.

Quartz, S. R., & Sejnowski, T. J. (2002). Liars, lovers, and heroes: What the new brain science reveals about how we become who we are. New York: HarperCollins  

Schwartz, J. M., & Begley, S. (2002). The mind and the brain: Neuroplasticity and the power of mental force. New York: HarperCollin  

Sartup ini menyediakan pelatihan untuk calon atlet eSport, tapi mungkin ada hal penting yang kelewat.

Sartup ini menyediakan pelatihan untuk calon atlet eSport, tapi mungkin ada hal penting yang kelewat.

 

Dalam satu dekade terakhir ini eSport telah berkembang dengan sangat pesat. Business Insider memprediksikan bahwa di tahun 2022 industri eSport akan memiliki pemasukan sebesar 1.8 Triliun Dollar US. Dengan pertumbuhan di sekitar 12-13% per tahun semenjak 2017. 

Tentu industri eSport Indonesia pun ikut berkembang dengan pesat. pertandingan-pertandingan eSport pun mengeluarkan hadiah yang cukup wow. Seperti liga profesional Mobile Legend yang dimana RRQ berhasil memenangkan US$300,000 (Rp4,2M). Atau liga PUBG yang menghadiahkan US$150,000(Rp2,1M).

Sekarang pun sudah ada lho Startup yang menyediakan jasa eSport coaching, untuk anak-anak muda yang ingin serius menjadi atlet eSport!

ProGuides adalah startup yang didirikan oleh Sam Wang saat dia belajar di UC Berkeley. Dengan ProGuide kita bisa memilih game apa yang ingin kita pelajari lalu, kita dihubungkan dengan dengan pemain-pemain dan coach-coach profesional. Selain itu ProGuide juga menyediakan banyak konten edukatif lain tentang eSport.

Seperti nya keren banget nih ya! Dengan para calon pemain bisa menemukan jasa pelatihan yang profesional dimanapun dia berada. Startup ini juga terlihat benar-benar menjalankan belajar sambil bermain dengan baik.

Namun mungkin ada satu hal yang kelewat, yaitu kesehatan, atau kesejahteraan calon pemain. Dimana Akademi eSport konvensional masih jauh lebih baik dari startup ini. Akademi-akademi yang baik juga menyediakan fitness trainer, dan bahkan psikolog.

Hal ini sangat penting karena dengan melesatnya sebuah industri yang muda kita masih hanya bisa meraba-raba apa dampak jarak panjang dan pendek nya kepada anak-anak muda yang terjun di dalam industri ini.

Di tahun 2020 sebuah penelitian yang di publish di International Journal of Environmental Research and Public Health, menemukan bahwa mayoritas atlet eSport tidak memenuhi standar kesehatan fisik, sebagian dari mereka obesitas (kelas 1 dan 3) dan sebagian besar diklasifikasikan sebagai pre-obese.

Ludenara sama sekali tidak menjelek-jelekan industri ini justru kita mau menunjukan sesuatu yang sangat menarik.

Hal ini bisa diperbaiki jika mereka benar-benar menganggap ini sebagai sport dimana profesionalisme dan disiplin adalah hal yang penting. Disiplin bukan hanya melatih keterampilan mereka saat bermain, tapi juga disiplin menjaga kesehatan fisik dan emosional diri sendiri. 

Bahkan menjaga diri sendiri bisa meningkatkan performa mereka sebagai atlet. Penelitian yang sama menemukan bahwa atlet-atlet yang menduduki ranking 10% tertinggi lebih aktif secara fisik dibanding atlet lain nya.

Ini belum ngomongin tentang kesehatan mental, yang panjang sekali pembahasan nya.

Tapi intinya ini, mungkin startup ini malah bisa jadi jebakan dimana pemain-pemain muda merasa mereka mendapatkan pelatihan tingkat profesional yang baik, namun mereka tidak sadar apa yang tertinggal, yaitu kesehatan mereka.

Mungkin kedepannya startup ini menyediakan pelatihan yang lebih holistik yang memperhatikan juga kesehatan mental dan fisik. Atau bahkan di Indonesia teman-teman ada yang mau bikin startup yang mirip? Wah bakal keren banget tuh, tapi jangan lupa di jagain juga pemain nya ya, jangan di suruh belajar dan berlatih doang, hehehe.

Sumber:

Yee, C. (2020, May 26). As Esports Find a Place in School, This Startup Teaches Gamers How to Go Pro – EdSurge News. Retrieved January 19, 2021, from https://www.edsurge.com/news/2020-05-21-as-esports-find-a-place-in-school-this-startup-teaches-gamers-how-to-go-pro

 

Trotter, M. G., Coulter, T. J., Davis, P. A., Poulus, D. R., & Polman, R. (2020). The association between esports participation, health and physical activity behaviour. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(19), 7329.

Keterlibatan orang tua sangat penting, tapi hati-hati!

Keterlibatan orang tua sangat penting, tapi hati-hati!

Photo by Michiel Annaret on Unsplash

Di sore itu Budi sudah tidak sabar untuk pulang.

Dia sudah tidak sabar untuk menceritakan ke-Ibu nya, ada sebuah toko jajanan baru di sekolah nya, yang menjual cemilan yang enak-enak banget!

Dia pun membawakan jajanan untuk Ibu yang menurut dia pasti akan suka, dan juga senang mendengarkan cerita nya tentang toko baru favorit nya itu.

Sesampai nya di rumah, Budi langsung lari menghampiri Ibu nya,

“Ibuuu Ibuuu… Liat ini!”

Sang Ibu pun menoleh, dan dengan senyum bertanya,

“Gimana ujian mu tadi? bisa nggak?”

“Ha? Oh iya, bentar bu, liat ini dulu!”

“Bentar-bentar apa? Awas lho ya kalo nilai nya jelek, Ibu kemarin udah bantuin belajar seharian lho! 

Terus besok kamu harus ngumpulin PR juga lho! Ayo sana bersih-bersih, terus kerjain PR nya!”

Mendengar ini, Budi pun sangat kecewa, sambil berjalan ke kamar mandi, dia melewati tong sampah dan melempar jajanan yang dia bawa itu sekuat-kuat nya sambil melepas kekesalan dia.

Sang Ibu pun tanpa sadar kekesalan Budi menambah perintah nya,

“Habis kerjain PR langsung makan ya, habis gitu sholat, terus hari ini kamu les musik ya, bersihin dulu piano nya, biar nggak malu sama pak guru!”

“Terus jangan lupa, minggu depan kamu Ibu ikuti turnamen matematika ya, sempetin belajar matematik tiap hari lho ya!”

Budi pun hanya bisa menggeleng-geleng kan kepala nya.

 

Familiar dengan tipe parenting ini?

Memang sungguh normal jika orang tua ingin mengontrol semua aspek kehidupan anak. Ya kan mereka cuma anak-anak, mereka tau apa sih tentang masa depan?

Mereka harus banyak belajar, punya prestasi yang bagus, biar bisa masuk ke sekolah favorit, terus masuk universitas yang terkenal, biar nanti bisa dapet kerjaan yang bagus, dan sukses di masa depan!

Yaaa, benar! Menurut orang tua.

Ada 2 hal yang harus dipikirkan dulu, pertama apakah kita benar-benar bisa memprediksi masa depan sehingga kita tahu jalan hidup mereka harus seperti apa?

Contoh nya saja, generasi sebelum kita tidak ada yang kebayang bahwa sekarang kita bisa sukses jadi Social Media Manager, YouTuber, Crypto Trader, Podcaster, dan karir-karir lain yang belum ada di masa lalu.

Seperti itu juga masa depan, karena kita tidak tahu persis masa depan seperti apa, kita juga tidak bisa tahu jalan terbaik untuk mereka seperti apa.

Yang kedua mungkin lebih penting. Apakah jalan hidup yang kita inginkan untuk anak kita itu yang dia inginkan? Karena yang menjalankan hidup itu adalah mereka, sebaiknya mereka yang memilih jalan yang akan membuat mereka bahagia.

Di sini kita harus juga mendeifinisikan sukses dengan benar. Apakah jadi dokter dengan uang yang banyak sukses? Mungkin iya, tapi apakah dia bahagia? Buat apa materi jika tidak bahagia kan?

Tapi mungkin ini hanya spekulasi semata, lalu apa kata penelitian tentang ini?

Tipe parenting dimana orang tua memicromanage semua aspek dari kehidupan anak bisa diklasifikasikan sebagai helicopter parenting. Untung sudah banyak penelitian tentang dampak dari helicopter parenting, khusus nya di tahap kuliah.

Di satu studi mahasiswa yang melaporkan bahwa orang tua nya terlalu mengontrol memiliki kesehatan psikologis yang lebih rendah, bahkan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengkonsumsi medikasi anti-depresan (LeMoyne & Buchanan, 2011).

Studi lain menemukan bahwa mahasiswa yang merasa orang tua terlalu berikut campur di kehidupan mereka memiliki kepuasan dengan keluarga yang rendah  (Segrin et al., 2012).

Bahkan motivasi akademis pun menurun jika orang tua terlalu ikut campur. Mereka jadi menghindari pemikiran mengenai tujuan pembelajaran, dan meskipun mereka memiliki motivasi belajar, motivasi ini bersifat ekstrinsik (takut dimarahi kali ya) dan bukan intrinsik yang datang keinginan diri sendiri (Reed, K et al., 2016).

Sebenarnya yang paling berbahaya dari parenting ini adalah rusaknya otonomi anak. Berdasarkan teori Self-Determination. Teori ini menunjukan bahwa manusia membutuhkan 3 hal untuk tumbuh kembang yang baik. 

Yang pertama adalah otonomi, dimana seseorang merasa dia bisa membuat keputusan sendiri.

Kedua adalah kebutuhan untuk kompetensi, dan merasa percaya kepada kemahiran diri sendiri.

Terakhir adalah memiliki hubungan mutualisme, dimana dia merasa benar-benar disupport, bukan perintah.

Lalu apa solusi nya, apakah dibiarkan saja? 

Tentu sama sekali tidak, yang harus diperhatikan adalah moderasi, antara dibiarkan dan ikut campur.Dan tipe keikutcampuran pun harus diperhatikan. Jangan sampai orang tua mensupport hanya untuk mengingatkan anaknya untuk belajar terus, menuntut prestasi yang baik. Tipe keterlibatan yang baik adalah yang suportif bukan agresif, yang lebih sering mendengarkan daripada berbicara, yang menunjukan bukan mendorong.

Kita juga bisa mempelajari philosophy pendidikan yang tidak otoriter, salah satu nya dari Jean Jacques Rousseau. Menurut Rousseau kita sebaik nya mendidik bukan untuk membonsai anak didik kita sesuai yang kita inginkan.

Namun menunjukan cara nya untuk belajar, untuk mencari kebenaran, agar di suatu hari nanti, dia sendiri yang bisa membuat keputusan yang lebih baik tanpa membutuhkan orang lain. 

Sumber:

LeMoyne, T., & Buchanan, T. (2011). Does “hovering” matter? Helicopter parenting and its effect on well-being. Sociological Spectrum, 31, 399-418. doi: 10.1080/02732173.2011.574038 

Reed, K., Duncan, J. M., Lucier-Greer, M., Fixelle, C., & Ferraro, A. J. (2016). Helicopter parenting and emerging adult self-efficacy: Implications for mental and physical health. Journal of Child and family Studies, 25(10), 3136-3149.

Schiffrin, H. H., Liss, M., Miles-McLean, H., Geary, K. A., Erchull, M. J., & Tashner, T. (2014). Helping or hovering? The effects of helicopter parenting on college students’ well-being. Journal of Child and Family Studies, 23(3), 548-557.

Segrin, C., Woszidlo, A., Givertz, M., Bauer, A., & Murphy, M. T. (2012). The association between overparenting, parent-child communication, and entitlement and adaptive traits in adult children. Family Relations, 61. 237-252. doi:10.1111/j.1741-3729.2011.00689.x

6 Hal yang meningkatkan kreativitas!

6 Hal yang meningkatkan kreativitas!

Photo by Jr Korpa on Unsplash

Kita semua tahu bahwa kreativitas (kemampuan untuk menghasilkan ide baru) dan saudaranya inovasi (implementasi dari ide baru) sangat lah berharga. Kedua Hal ini lah yang bisa membuat hidup kita semakin nyaman, mudah, dan indah.

Jika masih ragu dengan penting nya inovasi, mari bersama melihat laporan dari Mckinsey International ini.

Di gravis ini kita bisa lihat bahwa memang inovasi lah yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sehingga kesejahteraan masyarakat pun meningkat secara beriringan.

Kabar baik nya untuk anak-anak kita, kreativitas ini bisa dilatih dan beberapa artikel Ludenara sudah membahas bagaimana bermain bisa meningkatkan kreativitas, khususnya “pretend play”

Lalu bagaimana dengan orang tua, apakah bermain tetap bisa meningkatkan kreativitas?
Sayangnya kami belum menemukan bukti ilmiah yang konklusif, selain pretend play di masa kecil yang menjadi fondasi kreativitas di masa dewasa.

Namun secara teori memang bisa. Kreatifitas ini adalah fungsi otak, dan otak secara organ terus berkembang dan berubah sesuai dengan perilaku kita secara fisik dan mental, ini yang disebut dengan brain plasticity.

Disaat bermain kita mendorong otak kita untuk berpikir kreatif, dengan itu neuron-neuron yang dibutuhkan untuk kreativitas di rangsang, dan jika dilakukan secara rutin jaringan neuron kreativitas ini akan menguat karena terlatih.

Selain bermain ada lagi cara meningkatkan kreativitas kita sebagai orang dewasa. Menurut Investment Theory of Creativity, ada enam hal yang bisa mendukung proses kreativitas.

1. Intellectual Skills

Kreativitas membutuhkan gabungan antara 3 bentuk keterampilan intelektual
Synthetic skill, melihat sebuah permasalahan dengan cara pandang yang baru agar bisa keluar dari cara berpikir konvensional
Analytic skill, kemampuan memilih ide mana yang bermanfaat dan butuh di kembangkan dan mana yang ditinggalkan
Persuasion skill, kemampuan menjual, atau meyakinkan orang lain akan manfaat ide kreatif.

Ketiga keterampilan intelektual ini harus dilakukan secara bersamaan untuk hasil kreatif yang baik.

Menggunakan analytic skill sendiri menghasilkan pemikiran yang kritis tapi tidak memberikan hasil kreatif. Synthetic skill tanpa skill lain menghasilkan ide-ide baru namun belum tentu bermanfaat, dan membutuhkan analisa untuk memperkuat dan memanfaat kan nya. Dan jika kita jago dalam mempersuasi orang, bisa jadi ide kita diterima karena presentasi yang bagus, bukan karena ide nya yang bagus.

 

2. Knowledge

Ada paradox pengetahuan, di satu sisi kita butuh memiliki pengetahuan di dalam bidang itu untuk mengusulkan suatu ide untuk kemajuan di dalam bidang itu.

Namun terlalu terjebak dalam satu bidang pengetahuan bisa menutup perspektif kita membuat kita terbawa dalam pemikiran konvensional yang melihat suatu permasalahan dari cara yang sama.

Pengetahuan bisa mendorong atau menghambat kreativitas. Untuk berpikir kreatif kita perlu sering mencari pengalaman baru, pengetahuan baru, melihat dari perspektif yang berbeda-beda, agar tidak terjebak dan berpikir dengan cara yang sama dengan setiap orang di bidang itu.

 

3. Thinking Styles

Gaya berpikir ini sederhana nya adalah preferensi cara berpikir setiap individu.
Menurut teori Robert j. Sternberg ada 3 thinking styles, legislative, executive, dan Judicial.

Sternberg juga sudah melakukan penelitian yang menunjukan bahwa legislative thinking style sangat penting untuk kreatifitas. Anak-anak yang memiliki legislative thinking style bisa menjadi murid yang lebih baik dibanding anak-anak yang bercondong ke thinking style yang lain, jika sekolah dimana mereka belajar menghargai kreativitas. Namun sebalik nya juga benar, bahwa anak-anak yang memiliki legislative thinking style menjadi murid yang kurang berprestasi di sekolah-sekolah yang tidak menghargai kreativitas.

4. Personality

Berikut adalah beberapa kepribadian yang penting untuk mendorong kreativitas; tidak takut tantangan, mengambil resiko yang rasional, kemampuan untuk mentoleransi ambiguitas, dan efikasi diri.

Untuk menjadi kreatif, seseorang harus berani berpendapat, berpikir, dan bekerja dengan cara yang berbeda dari orang lain. Untuk melahirkan karya kreatif seseorang juga harus berani mengambil resiko.

Jangan salah, orang-orang kreatif juga sering gagal ko. Namun mereka menghasilkan banyak sekali karya kreatif sehingga ada beberapa yang sangat bermanfaat dan melesatkan karir mereka.

 

5. Motivation

Sebuah penelitian oleh Teresa Amabile menunjukan bahwa jarang sekali seseorang bisa menghasilkan karya kreatif jika mereka tidak menyukai bidang pekerjaan yang sedang dikerjakan.

Menyukai pekerjaan ini menghasilkan motivasi intrinsik yang membantu fokus kita saat bekerja. Tipe motivasi ini sangat esensial untuk kreativitas.

Maka peran kita sebagai orang tua atau guru sangat penting untuk membantu anak mengalami berbagai macam bidang studi, seni, teknologi, dan cara pandang secara playful, agar mereka bisa menemukan apa yang mereka sukai dan bisa berkreasi di bidang itu.

Ini mengapa Ludenara sangat mementingkan bermain, karena memang bermain ini berperan sangat besar dalam motivasi intrinsik, dan kreativitas itu sendiri secara langsung.

 

6. Environment

Setiap orang membutuhkan lingkungan yang suportif akan ide-ide dan karya-karya kreatif.

Pertama lingkungan dimana seseorang bisa mempresentasikan ide dan karya kreatif mereka. Bisa jadi banyak anak-anak yang sebenarnya kreatif tapi tidak memiliki sarana untuk menunjukan kreativitas mereka sehingga tidak terlihat kreatif.

Lingkungan itu juga harus bisa memberi kritikan yang konstruktif. Jika setiap orang yang mendengarkan ide itu bisa mengusulkan apa pun yang bisa membuat ide itu lebih baik tentu hasil nya akan bagus. Namun jika lingkungan nya tidak suka hal baru, bahkan menekan pemikiran atau cara pandang baru, tentu siapapun akan takut menjadi kreatif.

Untuk linkungan belajar yang suportif akan kreatifitas, bisa baca lebih detail nya di artikel ini

Sumber:

Sternberg, R. J. (2006). The nature of creativity. Creativity research journal, 18(1), 87.

Cara mendorong interaksi murid untuk proses belajar yang bermakna

Cara mendorong interaksi murid untuk proses belajar yang bermakna

Pembelajaran tidak akan bisa terjadi tanpa interaksi, mau itu interaksi antar murid,interaksi antar murid dengan materi atau guru, ke-tiga macam interaksi ini dibutuhkan. Di artikel Ludenara sebelumnya kita membahas tentang interaksi antara murid, dan bagaimana kita harus menyediakan tipe interaksi ini lebih banyak lagi karena pentingnya untuk prestasi pendidikan mereka.

Salah satu alasan mengapa interaksi ini bisa sangat bermanfaat adalah unsur playfulness yang sering kali muncul ketika interaksi natar murid terjadi. Playfulness ini jika terjadi di ke-dua macam interaksi yang lain juga bisa meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang terjadi.

Nah, selain playfulness ini ada beberapa macam hal yang bisa kita rancang agar interaksi lebih baik dan memberikan hasil pembelajaran yang lebih bermanfaat.

Memberi struktur interaksi dengan Goals

Ada 3 macam goals yang bisa dirancang dalam proses pembelajaran; kompetitif, kooperatif, individual.

Setiap macam gol akan ada di sebuah kelas yang ideal, dimana murid bisa belajar bekerjasama, berkompetisi dengan senang hati, dan memiliki tujuan pembelajaran sendiri yang tidak berhubungan dengan teman-teman nya. Setiap macam gol akan memberikan pola interaksi yang berbeda, dan memberikan hasil yang berbeda juga.

Dari melihat meta analisis yang membandingkan hasil pembelajaran antar ke-3 macam goals ini ternyata memang terlihat bahwa kooperatif memberikan hasil yang lebih baik, dari segi usaha setiap murid, produktivitas dan prestasi akademik (Johnson, et al,. 1981). 

Gol-gol kooperatif mendorong komunikasi efektif, pertukaran informasi dan ide, menambahkan tingkat kepercayaan antar murid, mengurangi rasa takut akan kegagalan, mendorong murid untuk saling belajar di antar mereka. Secara keseluruhan hubungan antar murid lebih positif, mereka leibh peduli dan saling menolong.

Mengelola konflik

Dalam proses pembelajaran pasti akan ada ide dan opini siswa-siswi yang saling bentrok. Konflik ini bisa menjadi kekuatan konstruktif atau destruktif tergantung bagaimana konflik ini dikelola. Ketika konflik antar murid dikelola dengan baik ini bisa menjadi pengalaman pembelajaran yang baik untuk mereka. 

Dalam penelitian mengenai interaksi antar murid Johnson juga menemukan beberapa kondisi-kondisi yang dibutuhkan agar konflik  bisa menjadi konstruktif;

  1. Konflik lebih mudah menjadi konstruktif saat terjadi di dalam konteks kooperatif. Saat mereka bekerja sama kedua pihak yang bentrok memiliki tujuan yang sama, selain itu informasi akan lebih akurat dan utuh dan komunikasi akan lebih akurat. Iklim lingkungan belajar seperti ini memungkinkan konflik menjadi sangat konstruktif.
  2. Segala informasi mengenai tema perdebatan harus jelas dan mudah di akses. Dengan kejelasan informasi semakin banyak kesempatan agar diskusi bisa menghasilkan konklusi-konklusi yang bisa disetujui bersama. Jika informasi tidak tersedia tentu banyak potensi konflik yang sia-sia.
  3. Kemampuan melihat perspektif yang berbeda-beda. Konflik akan teresolusi saat setiap pihak mendapatkan hasil, konklusi, perspektif, atau ide yang tersintesis dari tesis, dan antitesis. Untuk mempercepat proses ini setiap pihak bisa diminta untuk melakukan “steelmanning” dimana setiap pihak menyimpulkan perspektif, atau ide seakurat, dan sebagus mungkin. Dengan itu diskusi akan cepat berprogres. 

 

Jika kita ingin menerapkan semua ini dengan mudah, maka kita usulkan Game-based learning. Karena dengan game-based learning goals pembelajaran telah terstruktur dalam setiap game. Dengan menggunakan game-game kooperatif kita juga tetap bisa mendorong interaksi kompetitif yang sehat dengan cara mengadukan setiap kelompok murid. Game-based learning juga memudahkan kita untuk mengelola konflik karena setiap game telah memberikan struktur agar bisa menampung konflik.

Nah Ludenara punya banyak informasi, dan materi gratis Game-based learning di link ini http://ludenara.org/belajarasik/

Silahkan diakses kapan saja, dan dimana saja pasti banyak yang bisa di pelajari di sini.

Sumber:

Johnson, D. W. (1981). Student-student interaction: The neglected variable in education. Educational researcher, 10(1), 5-10.in

Interaksi antar murid bisa sangat bermanfaat bagi prestasi pendidikan

Interaksi antar murid bisa sangat bermanfaat bagi prestasi pendidikan

Photo by Husniati Salma on Unsplash

Coba bayangkan cara kita belajar di ruang kelas sekarang saat daring atau pun kemarin sebelum pandemi. Di sini murid duduk manis memperhatikan guru, atau mengerjakan tugas, atau mendengarkan guru lewat gadget.

Di sini, kita bisa melihat bahwa interaksi yang terjadi hanya ada antara guru dan murid dengan materi pelajaran, dan selain kerja kelompok, jam istirahat, atau yang nakal-nakal asik sendiri di belakang interaksi antar murid hampir tidak ada.

Padahal ternyata interaksi antar murid ini sangat baik untuk progress pendidikan mereka. Interaksi yang konstruktif adalah sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi untuk prestasi akademis maksimal, sosialisasi dan perkembangan yang sehat.

Berikut adalah beberapa cara interaksi konstruktif antar murid berkontribusi kepada prestasi pendidikan mereka:

Aspirasi Pendidikan

Teman sebaya memiliki pengaruh yang besar terhadap cita-cita dan aspirasi murid. Khusus nya di masa muda dan jika mereka belum memiliki keterampilan belajar yang baik, memiliki teman sebaya yang termotivasi akan masa depan yang cerah adalah pengaruh yang baik. Berada di dalam lingkungan yang menerima dan mensupport bisa membantu mereka untuk bisa memanfaatkan kemampuan belajar dan mencapai prestasi pendidikan yang lebih tinggi.

Kesehatan Psikologis

Kemampuan untuk menjaga hubungan kooperatif yang erat adalah indikasi utama kesehatan psikologis yang baik. Maka dari itu tidak mengejutkan bahwa gangguan psikologis di masa SMP bisa diprediksi dari hubungan antar teman yang buruk masa SD, dan hubungan buruk di masa sekolah bisa memprediksi penyakit psikologis di masa dewasa. Ketika anak merasa di asing kan di sekolah nya mereka akan sering cemas, memiliki percaya diri dan keterampilan sosial yang rendah, dan kesehatan emosional yang buruk.

Keterampilan Sosial

Penelitian mengenai keterampilan sosial anak-anak menyimpulkan “Perkembangan keterampilan sosial merupakan pondasi kritikal untuk kesuksesan akademis dan pembentukan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja” (McClelland & Morrison, 2003).

Interaksi dengan teman sebaya adalah cara belajar keterampilan sosial yang baik. Dari bermain dan belajar bersama, mereka belajar berkomunikasi, bekerja sama, bahkan berkompetisi dengan baik. Selain penting untuk kesuksesan akademis, keterampilan sosial juga sangat dibutuhkan di dunia kerja.

Melihat Berbagai Macam Prespektif

Anak-anak bisa belajar banyak dari pengalaman orang lain seperti masalah yang dipecahkan atau situasi yang mereka dialami. Melalui interaksi lah anak-anak belajar melihat dunia dari cara pandang orang lain.

 

Semua manfaat ini membutuhkan lingkungan dan interaksi yang baik, dan pasti pertanyaan selanjut nya adalah, lingkungan dan interaksi seperti apa yang baik ini?

Ada penelitian yang menjawab ini secara detail, tapi kalo di bahas sekarang kurang asik nih, mending dijadiin artikel sendiri. Tapi ada contoh cara baik yang bisa menghadirkan interaksi dan lingkungan yang positif untuk pembelajaran, yaitu proses game atau play based learning. 

Di dalam konteks game, anak-anak dapat bekerja sama untuk menyelesaikan sebuah tantangan di situ mereka bisa bereksperimen dengan berbagai macam cara untuk berkolaborasi, seperti membagi tugas, mendefinisikan peran masing-masing, atau menyatukan tujuan bersama.

Berkompetisi di dalam konteks game juga sangat baik. Di dalam game mereka bisa belajar menerima kekalahan dengan hormat, belajar dari kekalahan itu, dan juga merasa bangga saat menang tanpa menyombongkan itu.

Terakhir dalam proses game based learning ini mereka akan mendapatkan banyak interaksi positif dari berdiskusi bersama mengenai strategi apa yang mereka gunakan untuk menang, cara kerja sama yang baik, dan tentu nya hal apa saja yang dipelajari selama proses bermain.

Nah Ludenara punya banyak informasi, dan materi gratis tentang proses belajar sambil bermain ini di link ini http://ludenara.org/belajarasik/

Silahkan diakses kapan saja, dan dimana saja pasti banyak yang bisa di pelajari di sini.

 

Sumber:

McClelland, M.M., & Morrison, F.J. (2003). The emergence of learning related social skills in preschool children. Early Childhood Research Quarterly, 18(2), 206-224.

Johnson, D. W. (1981). Student-student interaction: The neglected variable in education. Educational researcher, 10(1), 5-10.

Alasan-alasan untuk mencoba narasi saat mengajar

Alasan-alasan untuk mencoba narasi saat mengajar

Image by DarkmoonArt_de from Pixabay

Ada satu cerita yang mungkin kita semua masih ingat. Tentang seorang gadis yang baik hati, dan saudara tiri nya yang…. kebalikan nya. Setiap kali ada hal baik yang terjadi pada sang gadis itu, saudara tiri nya pasti gak mau terima, dan ingin mendapatkan yang lebih baik.

Hingga suatu hari sang gadis mendapatkan labu berisi emas dari seorang penyihir. Seperti biasa, saudara tiri nya iri dan tidak mau kalah, dan meminta labu kepada penyihir itu juga. Tapi ternyata isi labu yang dia ambil dengan dengki itu berisi ular berbisa!

Kita pasti tau ini cerita apa. Meskipun cerita rakyat ini berasal dari Riau, setiap orang Indonesia pasti mengenal nya, Bawang Merah dan Bawang Putih.

Cerita ini, seperti banyak cerita lain nya memiliki pesan moral, yang dapat dipahami dengan mudah oleh orang-orang, apalagi anak-anak. Saat anak-anak di ceritakan Bawang Merah, Bawang Putih mereka belajar berempati dengan karakter-karakter nya. Mereka bisa memahami bahwa iri, dengki adalah sifat-sifat yang memberikan hasil yang buruk, dan sifat-sifat baik hati nya Bawang Putih patut untuk di contoh.

Nah, bayangkan jika anak-anak tidak diceritakan ini, tapi malah di ceramahin, “Hey anak-anak, kalian jangan gampang iri ya! Jangan dengki juga!”

Kira-kira cara mana yang lebih ampuh?

Proses belajar mengajar ini adalah hal yang membuat manusia bisa menjadi makhluk yang berhasil mendominasi dunia ini bahkan suatu saat, luar angkasa. Dan sebelum ada nya institusi pendidikan, nenek moyang kita tetap harus bisa mengajarkan hal-hal penting kepada anak-anak nya agar mereka bisa bertahan hidup, dan melanjutkan spesies manusia.

Mereka memiliki berbagai macam cara, salah satu nya tentu adalah bermain. Tapi ada satu cara lain, yang mungkin sudah diteliti lebih dalam lagi adalah storytelling (Rossiter, 2002). Penggunaan narasi di dalam pendidikan memang sudah sangat populer, bahkan sudah ada ratusan buku mengenai pendidikan dan narasi.

Di antara guru-guru kreatif di sini pasti sudah banyak yang menerapkan. Tapi tidak ada salah nya kita mempelajari bersama, kenapa nasi bisa efektif untuk mengajar. Tentu mempelajari ini akan memberikan kita wawasan lebih dalam mengenai penggunaan cerita dalam mendidik.

Image by Comfreak from Pixabay

Perhatian Murid

Untuk memastikan sesi belajar bisa mewujudkan hasil yang bermakna ada hal yang harus diperhatikan sebelum belajar. Yaitu kondisi psikologis murid-mudi, apakah mereka siap belajar? Apakah mereka sanggup memberikan perhatian sepenuhnya kepada materi pembelajaran?

Di sini letak manfaat penggunaan narasi untuk mengajar. Manusia terbiasa memberikan perhatian yang tinggi saat sebuah informasi disampaikan melalui cerita. (Rijinja & Van der Jagt, 2004). Jika orang dewasa saja lebih senang mendengarkan cerita di banding ceramah, apalagi anak-anak.

Salah satu tantangan pendidikan adalah motivasi pelajar. Kita tahu bahwa masih banyak anak-anak kita yang tidak suka belajar. Mungkin di sini narasi bisa menjadi solusi nya, kita bisa mencoba membuat materi-materi pembelajaran menjadi menarik dengan ada nya narasi di kelas kita, tentu nya agar mereka lebih semangat belajar.

Meningkatkan daya ingat

Ada konsensus dalam literatur bahwa storytelling adalah sarana yang sangat alami dan powerfull untuk menyampaikan, mempelajari, dan menyimpan informasi (Eck, 2006) sederhana nya, apa pun yang kita pelajari lewat cerita lebih mudah teringat oleh kita. 

Salah satu alasan nya adalah faktor emosi. Bahwa di sebuah cerita kita tidak hanya mengkonsumsi informasi, tapi cerita juga mengeluarkan emosi yang kuat. Di saat emosi ini ada bagian kognitif otak aktif dan sanggup menyimpan informasi baru (Perry, 2005)

Jika kita bisa bercerita dengan baik, dan mengajak murid kita naik emotional roller coaster bersama, sesi pembelajaran pasti menjadi sangat mengesankan.

Wawasan yang luas

Sebuah cerita memiliki berbagai macam tokoh, dengan motivasi, tantangan dan keinginan yang berbeda-beda, dan mengalami perjalanan yang penuh arti. Dari sebuah cerita manusia belajar memahami berbagai macam pandangan dunia, dan pengalaman hidup (Rossiter, 2002). 

Seperti yang kita lihat di contoh cerita Bawang Merah, Bawang Putih anak-anak bisa mempelajari karakter yang baik dan buruk dari sebuah cerita. Belajar dari cerita memberi kita kesempatan untuk belajar dari pengalaman tokoh itu, atau orang lain ketika cerita itu sebuah kisah nyata. 

Dalam kata lain, cerita memungkinkan kita untuk menghidupi ratusan kehidupan lain, dan belajar dari setiap kehidupan itu. Dari sini, karakter dan moralitas kita akan terbentuk dengan baik, sehingga kita bisa menjadi manusia yang lebih bijak.

 

Sumber:

Eck, J. E. (2006). An Analysis of the Effectiveness of Storytelling with Adult Learners in Supervisory Management (Doctoral dissertation, University of Wisconsin-Stout).

Rijnja, R. van der Jagt. (2004) Storytelling: the power of stories in communication, Kluwer, Alphen aan de Rijn, 2004.

Perry, B. (2005). How the brain learns best. Scholastic Inc, 11 O(4). Retrieved June 1,2005 from the Ebsco Host database. Psychological foundations of organizational behavior 

Rossiter, M. (2002). Narrative and Stories in Adult Teaching and Learning. ERIC Digest.

Meningkatkan kualitas pendidikan dengan playful learning

Meningkatkan kualitas pendidikan dengan playful learning

Photo by Guille Álvarez on Unsplash

Ini mungkin yang bisa disetujui bersama, pertama bahwa semangat belajar memang sangat penting, kedua bahwa masih banyak murid-murid kita yang tidak suka belajar. Untuk mereka belajar itu merupakan tanggung jawab yang berat, dan pelajaran-pelajaran yang seharus nya sangat menarik malah menjadi membosankan untuk mereka. 

Di sini kita akan menjelaskan kenapa playful learning sangat penting untuk hasil pembelajaran yang maksimal.

Sebelum kita beranjak kepada playful learning, sebaik nya kita menyetujui apa yang kita maksud dari meningkatkan kualitas pendidikan. Lebih khususnya dimana letak kekurangan atau kelemahan sistem pendidikan kita sekarang yang bisa diperbaiki dengan playful learning.

Setiap orang tentu memiliki prioritas sendiri untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Mungkin ada yang berpendapat bahwa yang paling penting adalah kualitas pendidik, buku, infrastruktur, teknologi, kurikulum, atau lain nya. 

Sekarang Ludenara fokus nya dimana?

Di Ludenara sendiri kita memikirkan bahwa ada satu hal yang mungkin lebih penting dari itu semua, yaitu semangat dan motivasi belajar murid. Kita ingin mengubah mindset mereka sehingga belajar menjadi suatu aktivitas yang di nanti-nanti, dimana mereka bisa bersenang-senang sambil menambah ilmu dan keterampilan baru, ini sumber dari semangat semangat belajar yang tidak mudah pudar. Kita ingin mengingatkan mereka bahwa mata-mata pelajaran akademis itu penuh dengan ilmu yang sangat menarik sehingga mereka tidak sabar untuk mempelajari lebih dalam lagi.

Kemampuan menumbuhkan dan memaksimalkan semangat belajar ini lah yang kita percaya sebagai pondasi kualitas pendidikan yang baik. Semangat yang akan terus mendorong mereka untuk belajar meskipun segala fasilitas pendukung kurang memadai, semangat yang akan mendorong kreativitas mereka untuk mencari cara belajar lain, atau bahkan mencari hal lain yang bisa dipelajari. Kita menginginkan semangat belajar ini selalu ada hingga di masa depan anak-anak kita, dengan itu mereka akan terus menerus meningkatkan kualitas individual mereka sepanjang umur nya sebagai life-long playful learner.

Ada pengalaman Mas Nuno yang bisa melihatkan kita bahwa dengan ada semangat dan motivasi, anak-anak sangat sanggup untuk belajar sendiri secara efektif meskipun pandemi Covid-19 sedang marak dan menghalangi proses pembelajaran.

Tidak hanya sekedar belajar, murid Mas Nuno juga bisa menerapkan ilmu  yang di pelajari sehingga menjadi beramnfaat bagi teman-teman sekitar nya.

Pemikiran bahwa motivasi sebagai kunci pendidikan yang baik bukan lah pemikiran yang asing, dan memiliki pondasi ilmiah yang kuat. Salah satu contoh nya adalah sebuah penelitian nasional di Amerika menemukan bahwa, motivasi adalah kunci untuk kegigihan dan pembelajaran yang berkelanjutan. Tantangan nya adalah membantu setiap murid mengklarifikasi tujuan nya dan kemudian menemukan, atau menciptakan, pengalaman belajar yang mengarah pada hasil yang diinginkan (Chickering & Kuh, 2005).

Jika kita bisa membuat belajar sebagai aktivitas yang asyik, seru, menyenangkan, membahagiakan, menggembirakan, dan sinonim lain nya, pasti kualitas siswa-siswi kita sebagai pembelajar akan meningkat. Jadi, karena mereka lebih giat belajar mereka akan lebih sering belajar, dan setiap kali mereka belajar akan lebih efektif pasti nya kemungkinan mereka untuk meraih kesuksesan pun akan melambung.

Perjalanan menuju kesuksesan lewat playful learning ini bisa dilihat melalui 4E (Enjoy, Easy, Expert, Earn)

Made with slidesgo

Enjoy → Easy

Ini kunci pertama dari kesuksesan pendidikan anak-anak kita. Jika mereka tidak menikmati pendidikan, dan merasa belajar adalah beban yang berat tentu pendidikan tidak akan memberi hasil yang baik, malah membuat anak-anak stress dan merusak kesehatan mental mereka. Selanjut nya kita harus bertanya, apakah benar enjoyment ini bisa meningkatkan efektifitas belajar?

Kita memang bisa berintrospeksi dari pengalaman sendiri, ketika kita mempelajari apa pun dengan senang hati, pasti lebih cepat kita mempelajarinya, dan kita bisa terus belajar sebanyak apapun yang harus dipelajari, karena kita mendapatkan kebahagiaan dari situ. Tapi untuk lebih pasti, kita juga bisa melihat penelitian di bidang pendidikan. Hasil penelitian sekolah-sekolah Amerika dan Inggris mengusulkan bahwa ketiadaan enjoyment adalah salah satu alasan mendasar mengapa anak-anak gagal mencapai potensi mereka (Goetz et al. 2006; Shernoff et al. 2003). Sebuah analisa mengenai hubungan antara enjoyment dan hasil pembelajaran, menunjukkan bahwa enjoyment menghasilkan flow state, mengurangi kecemasan, dan membuat murid menjadi nyaman, sehingga belajar menjadi lebih mudah (Lumby, 2011).

 

Easy → Expert

Tentu saat suatu materi pelajaran atau bahkan bidang ilmiah dengan mudah bisa anak-anak pelajari, ditambah dengan semangat belajar anak terus ada pasti dengan sendiri nya dia anak bisa memahami sebuah bidang itu. Ini prinsip dasar mengapa playful learning bisa membantu anak-anak kita.

Playful learning berada di dalam teori pembelajaran constructivism (Rice, 2009) dimana teori ini menjelaskan dengan baik kenapa belajar secara aktif seperti bermain bisa memberikan hasil pembelajaran yang baik. Playful learning tidak hanya membuat pembelajaran menjadi lebih mudah, namun teori ini juga menjelaskan bahwa kita mempelajari sesuai akan lebih dalam, dimana murid tidak hanya secara pasif mengkonsumsi materi, namun secara aktif membangun ilmu atau keterampilan baru. 

Teori ini menjelaskan bahwa ilmu terbentuk saat individu merangkai nya dari interpretasi pengalaman yang didapatkan (Gagnon and Collay, 2006). Menurut teori ini kita bisa belajar lebih mendalam karena makna pembelajaran tidak bisa diberi atau diajarkan oleh guru kepada  murid, tapi harus dikonstruksikan oleh seorang murid itu sendiri berdasarkan pengalaman yang mereka lewati (Biggs, 1999).

 

Expert → Earn

Menurut kita playful learning ini lah suatu metode belajar yang bisa meluncurkan anak-anak kita agar mereka menjadi ahli-ahli yang bisa berkontribusi dengan baik kepada masyarakat. Ahli yang kita harapkan sendiri berbeda dari sekedar sukses, kompeten dan mahir pada bidang nya, tapi juga kreatif. Sampai tahap ini pun, playful learning tetap sangat relevan. Dengan playful learning kita mencoba merubah mindset bahwa belajar itu bermain, karena ini bagian besar dari kreativitas. Bermain bisa menjadi pendekatan yang merangsang, mendorong ilmu untuk terangkai dan juga mendorong kreativitas dan imajinasi secara bersamaan (Lieberman, 1977)

Kreativitas dan inovasi sangat dibutuhkan negara kita, selain Indonesia masih sering kalah di dalam persaingan global, kreativitas dan inovasi ini merupakan hal yang sangat bisa mendorong ekonomi Indonesia sehingga kita sebagai rakyat bisa merasakan hasil nya langsung, dan berkembang bersama.

Terlepas dari itu, belajar seperti ini sangat memungkinkan mereka untuk memiliki kualitas lifelong playful learner yang terus meningkatkan kualitas diri nya sebagai individu. Ini lah yang kita inginkan, agar anak-anak kita bisa menjadi expert kreatif yang tidak pernah berhenti berkembang. Semua ini awal nya dari playful learning.

 

Sumber:

Biggs, J. (1999). Teaching for quality learning at university. Buckingham: Open University Press

Chickering, A. W., & Kuh, G.D. (2005). Promoting student success: Creating conditions so every student can learn.

Lieberman, J. N. (1977). Playfulness: Its relationship to imagination and creativity. New York: Academic Press.  

Louis Rice (2009) Playful Learning, Journal for Education in the Built Environment, 4:2, 94-108, DOI: 10.11120/jebe.2009.04020094  

Lumby, J. (2011). Enjoyment and learning: Policy and secondary school learners’ experience in England. British Educational Research Journal, 37(2), 247-264.

Gagnon, G. W. & Collay, M. (2006). Constructivist learning design: Key questions for teaching to standards. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.

Goetz, T., Nathan C., Hall, B., Anne, C., Frenzel, A., & Pekrun, R. (2006). A hierarchical conceptualization of enjoyment in students. Learning and Instruction, 16, 323-338.

Shernoff, D.J., Csikszentmihalyi, M., Schneider, B., & Shernoff, E.S. (2003). Student engagement in high school classrooms from the perspective of flow theory. School Psychology Quarterly, 18(2), 158-176.

Psychology Quarterly, 18(2), 158-176.