Bukan hanya ranking PISA yang rendah, Indonesia juga masih kalah bersaing di bidang Inovasi!

Bukan hanya ranking PISA yang rendah, Indonesia juga masih kalah bersaing di bidang Inovasi!

Banyak yang kita bisa pelajari dari laporan Global Innovation Index oleh WIPO (World Intellectual Property Organization).

Namun seblum itu, kita juga harus memahami betapa penting nya inovasi dalam kesejahteraan kita sekarang.

Dengan memandang kemajuan yang telah manusia capai sepanjang sejarah, kita bisa melihat bahwa kehidupan kita semakin nikmat, damai, dan mudah.

Seperti harapan hidup yang meningkat dari rata-rata 30 tahun, hingga rata- rata 70. 

Pendapatan kita yang meningkat drastis saat Industrial Revolution.

 

Dan juga menurunya tingkat peperangan di seluruh dunia.

 

Banyak faktor yang membuat kehidupan kita semua semakin baik, dan hal paling utama yang mendorong itu semua adalah inovasi. Tentunya semakin banyak dan baik inovasi, kehidupan kita akan semakin membaik.

 

Tahun 2019 WIPO (World Intellectual Property Organization) telah mengeluarkan laporan mereka mengenai negara-negara yang menghasilkan inovasi paling banyak, dan juga negara-negara yang dengan sangat effesien menggunakan investasi mereka untuk menghasilkan inovasi yang banyak.

Dari laporan ini kita bisa belajar banyak hal, salah satunya adalah kebutuhan inovasi di dunia edukasi semakin penting, seperti yang tertulis di laporan ini

“Economies at all development levels now ask questions on how to instill the curiosity of science and entrepreneurship in children and students.” Mungkin disinilah Ludenara bisa banyak berperan. 

Selain itu, kita juga bisa menganalisa negara-negara yang telah bisa berinovasi dengan skala besar, serta negara-negara yang telah gagal dalam usaha ini.

Negara-negara yang menghasilkan inovasi terbaik juga sangat terkenal dengan sistem edukasi yang memberi penekanan terhadap pembelajaran 21st century skills 4cs (Collaboration, Creativity, Communication, Critical thinking) sejak awal abad ini. Ini negara-negara seperti Swiss (peringkat 1), Swedia (peringkat 2), Belanda (peringkat 4), dan Finlandia (peringkat 6).

Kita juga tahu bahwa faktor utama dalam menghasilkan inovasi bukan lah kondisi ekonomi sebuah negara. Ada negara-negara yang berlimpah dengan kekayaan, tapi sayangnya sangat minim dalam menghasilkan inovasi, seperti Arab Saudi, UAE (United Arab Emirates), Lithuania, dan Qatar, menduduki peringkat dibawah 40, dari 50 negara. 

Lalu bagaimana dengan Indonesia dan tetangga-tetangga kita?

WIPO juga mengeluarkan peringkat inovasi untuk negara-negara berkembang, yang kondisi ekonomi nya masih kurang baik.

WIPO chart for developing countries

Seperti yang kita bisa lihat, negara-negara tetangga kita yang memiliki kondisi ekonomi yang sama, banyak menduduki peringkat tinggi. Seperti Vietnam, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Sungguh susah jika kita beri alasan kenapa Indonesia tidak bisa menyaingi negara-negara ini, yang investasi terhadap pendidikan juga tidak berbeda dengan Indonesia.

 

Menurut data UNESCO, Vietnam menginvestasikan 29,6% dari total pengeluaran untuk edukasi per murid, Filipina hanya di 11%, Indonesia pun memberikan alokasi paling tinggi, untuk per murid Indonesia mengeluarkan 40% dari total pengeluaran. Mungkin salah satu faktor kreativitas Indonesia adala efisiensi dari pengeluaran di bidang pendidikan. 

Semoga data-data ini bisa membantu kita semua untuk lebih semangat lagi mendidik penerus kita lebih baik, dari yang kita lakukan selama ini.

Sumber:

Global Innovation Index 2019. (n.d.). Retrieved from https://www.wipo.int/global_innovation_index/en/2019/

Discovery Learning, poses pembelajaran saat bermain!

Discovery Learning, poses pembelajaran saat bermain!

 

Discovery learning adalah salah suatu proses pembelajaran yang muncul di saat kita bermain. Proses pembelajaran ini berdasarkan teori oleh Jerome Bruner, yang menyatakan bahwa belajar bukan lah sekedar menyerap ilmu, tapi juga menggunakan intuisi, imajinasi, dan kreativitas mereka, untuk menemukan fakta, korelasi, dan kebenaran.

 

Teori ini berdasarkan teori edukasi constructivism, yang berasal dari Jean Piaget bapak dari developmental psychology. Teori-teori Piaget telah banyak berkontribusi kepada ilmu sosial, mengenai bagaimana anak belajar dan berkembang menjadi orang dewasa. 

 

Teori Constructivism memberikan perspektif bahwa ketika kita belajar, kita membangun pengetahuan baru di atas pembelajaran sebelumnya. Pengetahuan yang sudah ada ini mempengaruhi pengetahuan baru yang kita dapatkan dari pengalaman. Teori ini memberikan penekanan bahwa belajar sangat berpengaruh dengan lingkungan yang kondusif dan pengalaman yang mengesankan. Dari sisi ini, constructivism bercondong kepada pembelajran yang aktif, dan salah satu proses pembelajaran itu adalah discovery learning.

 

Berikut adalah prinsip-prinsip dari discovery learning

 

 

 

 

1 Problem Solving

 

Pada dasarnya saat kita bermain, kita mencoba untuk memecahkan masalah untuk mencapai kemajuan di dalam permainan tersebut. Kita bermula dari asumsi apa yang harus kita kerjakan, lalu kita tes asumsi itu saat kita menggunakannya untuk memecahkan masalah.

 

2 Experience and Interaction

 

Bermain adalah belajar dari pengalaman sendiri, kita berinteraksi dengan lingkungan, kita bereksperimen, mengeksplorasi, dan memanipulasi suatu situasi, atau object.

 

3 Information Analysis and Interpretation.

Untuk game based learning, discovery learning berorientasi pada proses dan bukan berorientasi pada konten. Pembelajaran bukan hanya kumpulan fakta. Saat bermain kita belajar untuk menganalisis dan menafsirkan informasi yang diperoleh dan kita hubungkan kepada dunia nyata, tidak hanya menghafal jawaban yang benar.

Teacher-centered Vs. Learner-centered

Teacher-centered Vs. Learner-centered

 

Ada dua pendekatan edukasi yang sangat bertolak belakang.

Teacher-centered, dimana seluruh proses pembelajaran difokuskan kepada sang guru. Dimana konsentrasi murid fokus kepada guru, mereka mendengar dan mencatat. Guru yang memutuskan tujuan dan topik pembelajaran. Guru juga yang mengukur tingkat perkembangan murid dengan menyediakan soal untuk murid jawab.

 

 

Learner-centered fokus terhadap interaksi (murid-guru dan murid-murid). Tidak hanya mendengarkan, murid lebih aktif menyelesaikan project, presentasi, dan kerja kelompok. Guru fokus untuk memfasilitasi pemikiran kritis dan penyelidikan lebih lanjut, dari pada hanya mengkomunikasikan fakta. Guru memberikan kesempatan murid untuk merancang proses pembelajaran nya sendiri, dari apa tujuan yang ingin mereka raih, hingga menilai diri sendiri.

Dua pendekatan ini memiliki pro dan kontranya masing-masing, lalu pendekatan mana yang lebih baik?

Tentunya semua memiliki preferensi nya masing-masing, dan ketika kita mengajar dengan pendekatan yang kita suka tentunya pembelajaran akan lebih efektif. Karena kita percaya pendekatan ini yang benar, maka kita lebih bersungguh-sungguh melakukannya di bandingkan memaksakan sesuatu yang tidak nyaman.

Namun kita tidak boleh tertutup pada pendekatan yang bukan preferensi kita. Karena jika kita melihat fitur-fitur setiap pendekatan, kita bisa lihat bahwa setiap pendekatan bisa lebih baik tergantung pada situasi dan kebutuhan. Contohnya, memang learner-approach sangat baik jika setiap murid membutuhkan banyak kebebasan dalam belajar, belajar topik yang mereka inginkan, dengan kecepatan mereka sendiri, dan belajar mengevaluasi diri. Namun tidak semua murid suka dengan kebebasan yang tinggi, dan masih membutuhkan keamanan dan kenyamanan yang dapat diberikan oleh authority. 

Seperti yang dikatakan oleh Carl Rogers (pendiri learner-centered approach) “Kebebasan itu sendiri tidak harus dipaksakan, siswa yang ingin lebih banyak arahan dari guru harus menerimanya”.

Lebih baik juga ketika kita membiasakan belajar menggunakan pendekatan-pendekatan yang baru, dengan ini otak kita terbiasa dengan perubahan dan siap untuk terus belajar!