Main Board Game Juga Baik Untuk Kesehatan Jiwa

Main Board Game Juga Baik Untuk Kesehatan Jiwa

 

Jakarta (28/09/2019). Dalam rangka memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia (World Suicide Prevention Day) yang jatuh pada 10 September 2019, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (World Mental Health Day) yang jatuh pada 10 Oktober 2019, dan Hari Penyintas Kehilangan Bunuh Diri Internasional (International Survivor of Suicide Loss Day) yang jatuh pada 23 November 2019, Into The Light Indonesia meluncurkan #ReFest, sebuah festival rangkaian acara publik dan penggalangan dana untuk peningkatan kesadaran pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa.

Festival #ReFest atau Suicide Prevention and Mental Health Awareness Festival akan diisi dengan berbagai macam aktivitas yang bersifat menghibur, ramah orang muda, sekaligus edukatif dan inklusif, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa, khususnya bagi kalangan orang muda dan kelompok populasi khusus.

Dengan digelarnya #ReFest kepedulian masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan jiwa diharapkan bisa meningkat, termasuk self-care, dengan menawarkan kegiatan yang lebih ramah dan menyenangkan.

Nah! Salah satu kegiatan menyenangkan yang diusung dalam #ReFest adalah #RePlay. Dalam #RePlay kali ini, Into The Light Indonesia menggunakan Milan Ceramics Gallery di Hayam Wuruk, Jakarta untuk melangsungkan sesi bermain board game sebagai salah satu aktivitas penggalangan dana, sekaligus memperkenalkan board game sebagai salah satu alternatif aktivitas yang dianggap sesuai dengan gaya hidup urban di metropolitan Jakarta.

“Harapannya adalah masyarakat dapat menyadari pentingnya untuk mencari aktivitas positif yang dapat melepas penat dan dapat menjadi cara self-care yang dapat menjaga kesehatan jiwa diri sendiri. Tentunya, caranya tidak harus dengan board game, tetapi board game adalah salah satu alternatif yang bisa ditawarkan.” tutur Fauzia, pemandu lapangan dari tim Into the Light Indonesia.

Belakangan ini, kesadaran manusia urban akan pentingnya self-care terus meningkat. Tingginya beban kerja dan aktivitas yang menguras fisik maupun psikologis, menuntut adanya aktivitas hiburan sebagai salah satu bentuk self-care.

#RePlay diramaikan oleh tim dan volunteer Into the Light Indonesia beserta beberapa peserta yang mayoritas adalah mahasiswa. Sesi main dimulai dari pukul 11 siang dan langsung dibuka dengan memainkan board game Century: Spice Road. Menarik karena kebanyakan belum pernah bermain, tapi kompetisinya terasa nyata, berebut dan saling susul poin.

“It was great, I was anxious, I thought that they’re not welcoming. Turns out they’re so nice. I thought that it will be awkward.” (Sangat menarik. Awalnya saya ragu bahwa orang-orangnya akan kaku. Ternyata peserta dan panitianya pun ramah-ramah dan tidak berkesan aneh), ujar Nicholas seorang mahasiswa yang ikut bermain.

Selanjutnya beralih ke game Betrayal at House on the Hill. Cukup alot, Zia (dari panitia) memainkan skenario di mana salah satu pemain berubah menjadi Frankenstein. Sempat hampir menang, tetapi ternyata Frankenstein kalah di detik-detik terakhir setelah berduel antara Zia dan Andre (pemain terakhir yang masih hidup).

Mereka juga memainkan Carcassonne. Simpel, seru, dan bentuk peta yang lebih abstrak dan berantakan gara-gara dimainkan oleh lima orang sekaligus.

“Seru, menghabiskan akhir pekan dengan bermain board game, bertemu orang baru dan pengalaman baru.” kata Andre yang juga menjadi peserta acara ini.

Artikel ini di tulis untuk boardgame.id

Artikel original, serta informasi lain mengenai boardgames di Indonesia dapat di akses di boaridgame.id

Teknologi berbahaya! Bermain adalah solusi!

Teknologi berbahaya! Bermain adalah solusi!

Teknologi yang semakin canggih membuat segala aspek kehidupan kita lebih mudah dan nyaman, seperti transportasi, tempat tinggal, dan komunikasi. Selain itu yang mungkin seringkali kita lupakan harapan hidup hingga umur 70 tahun itu sesuatu yang fenomenal, sebagai referensi di era Neolithic harapan hidup manusia hanya sampai umur 30 tahun!

Nah sekarang yang penting meskipun teknologi menambahkan umur kita sebanyak 40 tahun, apakah teknologi menambahkan kualitas kehidupan kita? 

Sama sekali tidak! Mengapa?

Sekarang kita tahu menurut WHO di abad ke 21 ini tingkat depresi dan kecemasan semakin meningkat. Kita harus lihat sejarah betapa buruk nya fakta ini, menurut The Milbank Quarterly depresi adalah sebuah kondisi yang langkah di zaman perang dunia ke-2 dan perang dingin. 

Selain data ini memang sepanjang sejarah tidak ada data mengenai tingkat depresi, ini mungkin karena tidak ada yang mendata. Atau karena ini sebuah sesuatu yang sangat langkah?

Namun setelah kita melihat data bahwa sejak tahun 2009 tingkat depresi meningkat secara stabil mungkin memang depresi seharusnya sesuatu yang langkah. 

Lalu apakah benar teknologi yang membuat manusia semakin depresi?

Banyak sekali data dan penelitian yang mensupport klaim ini, The School of Life telah membuat video yang meringkas klaim ini.

Mental slavery dimana manusia yang semakin menggantungkan kebahagiaan terhadap teknologi harus kita lawan. Bermain lah penyelamat kita yang bisa menghancurkan rantai besi yang mengekang mental kita. 

Psikolog yang merangkum secara jelas peran bermain untuk hal ini adalah Peter Gray Ph.D.  

Artikel yang ditulis di tahun 2010 masih sangat relevan sekarang, bahkan mungkin lebih relevan lagi karena semakin maraknya ketergantungan kita terhadap smartphones kita.

Inti dari artikel ini adalah; bermain (tradisional, dan social play lainnya) lah yang membuat anak-anak berkembang secara sehat, dimana mental dan fisik terbentuk. Bermain juga membantu anak-anak untuk bisa mencari kebahagian di tempat lain selain teknologi, dan masih banyak lagi.

Dengan semua fakta itu kita tidak boleh lupa, bahwa teknologi sangat lah penting dan tidak bisa kita jauhkan anak-anak dari teknologi. Namun yang bahaya adalah ketika anak-anak sangat tergantung kepada teknologi sehingga hilang lah kemandiriannya.

Sumber:

Horwitz, A. V. (2010). How an Age of Anxiety Became an Age of Depression. Milbank Quarterly, 88(1), 112–138. doi: 10.1111/j.1468-0009.2010.00591.x

All-Natural, Positive Steps for Better Mental Health Depression Self Help: Overcoming Depression and Mental Health Disorders without Drugs. (n.d.). PsycEXTRA Dataset. doi: 10.1037/e555712011-001

Bermain bisa membangun Indonesia menjadi negara yang lebih hebat dari Amerika!

Bermain bisa membangun Indonesia menjadi negara yang lebih hebat dari Amerika!

Hal apa yang paling penting untuk memastikan Indonesia akan lebih baik di masa depan, dan terus berkembang?

Mungkin banyak nya faktor yang harus dipedulikan untuk menjawab pertanyaan ini terlalu banyak sehingga impossible untuk dijawab.

 

Namun, bagaimana kalau jawaban ini

ber… ma… in…? Lebih tepatnya lagi, lebih banyaknya keluarga yang memiliki kualitas bermain yang baik!

Apakah ini jawaban terlalu, idealis? Tidak masuk akal? Bahkan gila?

 

Untuk memastikan argumentasi ini tidak abal-abal, ini akan menjadi argumentasi statistika. Lebih tepat nya lagi, kita bisa lihat negara yang sangat maju Amerika, memiliki banyak masalah yang kita punya solusi nya!

Sekarang kita mulai dari individu, sederhananya semakin banyak individu-individu di masa depan yang bermanfaat bagi bangsa, semakin baik bangsa itu jadinya.

 

Kutipan di topik ini yang sangat dahsyat dan selalu teringat adalah dari Bung Karno

Lalu bagaimana kita bisa memastikan seorang individu, akan tumbuh menjadi seseorang yang berkontribusi positif kepada negara?

Disinilah argumentasi menjadi statistik semata.

Hal yang memberikan kemungkinan tertinggi untuk seorang anak tumbuh menjadi individu yang produktif adalah; keluarga yang stabil.

Berikut adalah penelitian-penelitian yang membandingkan keluarga yang stabil dan yang tidak. Setiap penelitian memiliki definisi keluarga fragile yang sedikit berbeda.

Tapi kurang lebih keluarga fragile adalah keluarga yang pernah mengalami perceraian, atau salah satu dari orangtua tidak ada atau sering tidak ada.

 

Pertama adalah edukasi.

Princeton University meneliti 20 kota besar di A.S. Mereka menemukan bahwa dari 5,000 keluarga. Anak-anak yang tinggal bersama keluarga tidak stabil 2 kali lebih mungkin untuk tidak tamat pendidikan SMA nya.

Di penelitian yang melihat tingkat prestasi anak di sekolah, mereka melihat bahwa anak yang dari keluarga stabil memiliki nilai yang jauh lebih tinggi secara rata-rata.

Dari segi kesehatan mental lebih menggawatkanlagi.

Michigan State University menemukan 75% anak remaja yang melakukan pembunuhan datang dari rumah tanpa ayah.

Data dari The Centers for Disease Control menunjukan bahwa 85% anak yang memiliki gangguan perilaku juga tidak memiliki seorang ayah di rumahnya.

Mereka yang tanpa ayah di rumah 2 kali lebih mungkin untuk mencabut nyawanya sendiri, dan 10 kali lebih mungkin untuk menjadi pecandu narkoba, dan alkohol menurut U.S. Department of Health and Human Services.

 

Lalu bagaimana dengan ekonomi? Tentu ini hal yang sangat sering digunakan untuk mengukur kesuksesan sebuah bangsa.

Data dari U.S. Census Bureau menemukan 7% dari anak miskin memiliki keluarga yang utuh, sementara 40% tidak memiliki ayah dan 22% tidak memiliki ibu.

Untuk ekonomi jangka panjangnya National Longitudinal Survey of Youth menunjukan bahwa di umur 40 individu yang berasal dari keluarga yang stabil memiliki pendapatan yang lebih tinggi, dengan 14 persentil perbedaan

Sekarang dari sini kita lihat bahwa secara statistik, memang jauh lebih mungkin anak mencapai kesuksesan jika memiliki keluarga yang stabil. Sungguh ini yang kekurangan di Indonesia, menurut Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa Indonesia dikenal sebagai fatherless country dimana kita menduduki peringkat 3 tertinggi untuk negara yang memiliki jumlah rumah tangga tanpa ayah.

Lalu apa peran bermain dalam membuat keluarga yang kokoh, kondusif, dan bahagia?

 

Untuk ini ada riset yang datang dari negeri kita sendiri.

Penelitian Dari Universitas indonesia mengajak lebih dari 300 orang tua dari Jakarta, Surabaya, Makasar, dan Medan untuk bermain bersama anak nya di playground yang tersedia di kota mereka masing-masing.

Selama 2 minggu mereka menghabiskan 1,5-2 jam sehari bermain dengan anak mereka dengan umur 1-5 tahun.

Data mereka akan persepsi kebahagiaan dan kepuasan berkeluarga di ambil sebelum dan sesudah intervensi.

 

Dan hasilnya bukan hanya kebahagiaan secara individu naik tapi juga hubungan antara orang tua dan anak, frekuensi mereka menikmati menghabiskan waktu bersama anak juga naik.

Secara menyeluruh mereka menikmati hubungan mereka dengan anak semakin positif, mereka lebih sering menunjukkan afeksi, merasa koneksi lebih kuat dan merasa mereka bisa menjadi tim yang solid.

Dari data ini kita bisa melihat bahwa hanya dengan bermain 2 jam setiap hari bersama keluarga dampaknya sangat signifikan.

Nah sekarang kesimpulan bahwa, yang terbaik untuk Indonesia di masa depan adalah keluarga yang rutin bermain bukanlah sebuah khayalan tanpa pondasi.

Ayo semua kita bermain untuk Indonesia!

Sumber:

Bardosono, Saptawati & Sekartini, Rini & Chandra, Dian & Wibowo, Yulianti & Basrowi, Ray. (2017). Bonding Development between Parents and Children through Playing Together to Improve Family Happiness. World Nutrition Journal. 1. 41. 10.25220/WNJ.V01i1.0009.

Robert Lerman, “The Impact of the Changing US Family Structure on Child Poverty and Income Inequality,” Economica 63, no. 250 (1996): 119–139; Adam Thomas and Isabel Sawhill, “For Love and Money? The Impact of Family Str

 

Nilai Ujian Naik 10 Poin! Ini lah Hasil Game-based Learning

Nilai Ujian Naik 10 Poin! Ini lah Hasil Game-based Learning

 

Belajar sambil bermain memang banyak sekali manfaat di luar dunia akademisi, seperti ketangkasan sosial, berpikir kritis, kemampuan untuk beradaptasi, dan seterusnya.

Namun ternyata game based learning juga bisa cocok untuk mengajar di kelas untuk meningkatkan nilai ujian!

 

National Central University, Taiwan mengadakan penelitian yang membuktikan ini. Untuk ini mereka menggunakan game kartu Conveyance Go, yang di design untuk memberi pengetahuan mengenai energi dan transportasi untuk pelajaran sains. Untuk ilmu sains di game ini mereka menggunakan buku “Means of Transport and Energy” sebuah buku sains untuk kelas 4 SD yang telah distandarisasi oleh Dinas Pendidikan Taiwan.

 

“Ilmu” yang diharapkan akan dipelajari dari game based learning di bagi menjadi 4 level.

 

  • Factual Knowledge
  • Conceptual Knowledge
  • Procedural Knowledge
  • Metacognitive Knowledge

 

 

Sementara proses kognitif dibagi menjadi level-level berikut

Mengingat
factual knowledge, jenis-jenis transportasi dan tipe-tipe energy
conceptual knowledge seperti seberapa banyak sebuah transport menggunakan energy.

 
Mengerti
conceptual knowledge memahami bahwa tipe energy-energy di perbarui tidak menghasilkan polusi, semetara energy tidak di perbarui menghasilkan polusi.
Metacognitive knowledge Game ini membahas masalah-masalah lingkungan seperti polusi yang mengakibatkan pemanasan global, dan ketergantungan pada bahan bakar fosil akan mengakibatkan krisis jika bahan bakar itu habis.


Apply
Procedural knowledge Saat murid-murid mengerti peraturan bermain mereka akan sanggup mengikuti prosedur main, mereka juga akan merancang strategi-strategi untuk menang.

     
Evaluate
Metacognitive knowledge Murid-murid bisa belajar dengan sendirinya tentang pro dan kontran dari setiap mode transportasi.

 

Mereka mengumpulkan sekelompok Murid SD dan mereka pre-test yang mengukur ilmu mereka mengenai transportasi dan energy. Standar test yang mereka gunakan juga merupakan standard ujian sains yang di tetapkan oleh Dinas Pendidikan Taiwan.

 

Dengan nilai total 100 pada pre-test hasil nilai rata-rata murid adalah 83.33. Lalu proses game-based learning mereka terapkan dengan permainan kartu ini dan mereka adakan post-test.

Hasil nilai rata-rata post test sebesar 92.12! Nah sekarang kita lihat dengan jelas game-based learning bisa meningkatkan nilai sebanyak 10 point.

 

Penelitian-penelitian yang meliputi game-based learning sangat lah banyak. Di tahun 2012 Amerika menghasilkan 30 penelitian, Taiwan sebanyak 22 dan 20 di Inggris.

Tentunya masih banyak lagi yang bisa kita pelajari mengenai dampak game-based learning di dunia pendidikan!

 

Refrensi

Zhi Feng Liu, Eric & Chen, Po-Kuang. (2013). The Effect of Game-Based Learning on Students’ Learning Performance in Science Learning – A Case of “Conveyance Go”. Procedia – Social and Behavioral Sciences. 103. 1044-1051. 10.1016/j.sbspro.2013.10.430.