#ngoborlgame gamification dengan Kepala Sekolah yang berhasil menciptakan budaya bermain spektakuler!

#ngoborlgame gamification dengan Kepala Sekolah yang berhasil menciptakan budaya bermain spektakuler!

Wah banyak ya yang pengen belajar tentang gamification, dengan lebih dari 40 peserta #ngobrolgame WhatsApp Ludenara makin seru aja nih! Kali ini narasumber kita adalah Bapak Edi seorang kepala sekolah Sekolah SDI Kreatif Anak Sholeh Sidoarjo yang telah berhasil menciptakan budaya bermain yang penuh dengan manfaat! 

Iya budaya bermain ini terlihat sangat baik karena dengan ini para guru dan murid selalu semangat untuk belajar, berkompetisi dengan sehat dan terus berkembang. Dari liga matematika yang tidak kalah seru sama liga bola, dan event-event seru lainnya untuk melatih kompetensi lainnya seperti bahasa Inggris, keislaman, robotik, olahraga, dan beberapa lainnya.

Sepertinya memang Bapak Edi lah yang sangat cocok untuk jadi narasumber gamification, nah kalau mau tau lebih banyak lagi, sekolah Pak Edi punya YouTube Channel lho (SDIK Mutiara Anak Sholeh).

 

Sama dengan #ngobrolgame sebelumnya, untuk membahas topik gasification kita bagi menjadi 3 segmen. Pertama dengan membahas apa itu gamification? Di segmen ini Mas Eko membagikan berbagai macam teori, bukti ilmiah, dan contoh gamification. Materi ini bisa di akses disini:

  1. Penerapan, Contoh, dan Manfaat Gamifikasi (artikel ludenara): https://bit.ly/120520-3
  2. Play as you learn: gamification as a technique for motivating learners (paper): https://bit.ly/kulwap120520-1
  3. Gamification of education and learning: A review of empirical literature: https://bit.ly/kulwap120520-2

 

Setelah itu di semgen 2 mengenai semua potensi gamification. Pak Edi bercerita tentang semua pengalaman-pengalaman yang seru dan manfaat penerapan gamification di sekolahnya.Selain itu Pak Edi juga membagikan wawasan beliau mengenai pendidikan seperti karakteristik siswa “jaman now”, tantangan yang dihadapi sekolah sekarang, kunci-kunci kebangiktan belajar dan wawasan-wawasan lainnya yang tentunya sangat bermanfaat.

 

Segmen 3 menyinggung elemen yang paling penting di gamification, yaitu feedback & reward system. Aspek ini sangatlah krusial, penggunaan yang salah malah akan memunculkan hal-hal negatif seperti rasa iri, kompetisi yang tidak sehat, motivasi yang berkurang dan hal-hal lain yang bisa merugikan proses pembelajaran. Namun jika digunakan dengan baik akan menunjukan bahwa gamification bisa membuat seluruh proses belajar lebih baik. Di sini pula banyak pertanaan yang muncul untuk para narasumber kita. Pembahasan mengenai feedback & reward tentunya tidak bisa di rangkum di 1 artikel, dan banyak sekali materi gratis online mengenai ini. Dari guru-guru yang sharing pengalaman mereka, teori-teori landasan tentang pendidikan dan reward system, dan juga penelitian-penelitian lainnya.

 

Berikut adalah beberapa materi yang kita rekomendasikan:

Professor of psychology sharing pengalaman dia menggunakan gamification dan games untuk mengajar di kelasnya

https://www.boardgamingwitheducation.com/tuesday-knight-games/

Meta-analysis tentang gamification yang mereview lebih dari 30 penelitian

https://link.springer.com/article/10.1007/s10648-019-09498-w

 

Nah untuk yang tidak sempat ikut #ngoborlgame ini, jangan khawatir. Nanti di tanggal 26 Mei ada lagi, so stay tuned!

#ngobrolgame WhatsApp 27 April. Game Based Learning di sekolah terbukti ampuh bikin murid suka belajar!

#ngobrolgame WhatsApp 27 April. Game Based Learning di sekolah terbukti ampuh bikin murid suka belajar!

 

Di tanggal 27 April Ludenara mengadakan #ngobrolgame online yang ke-2. Kali ini kita ngobrol semua tentang Game Based Learning. Bersama dengan Mas Eko tamu narasumber kali ini adalah Ibu Nita Heryanti, seorang guru dari SMAIT Nurul Fikri Depok. 

 

Sebagai guru Ibu Nita sudah sering bereksperimen, dan meneliti metode-metode mengajar untuk selalu menghadirkan sesi pembelajaran yang terbaik untuk siswa-siswinya. Dengan terus bereksperimen ini, Ibu Nita berhasil menemukan bahwa mengajar menggunakan game sangatlah efektif! Ini penjelasan Ibu Nita mengenai hasil implementasi Game Based Learning“ Hasilnya sangat luar biasa, siswa bisa mengerjakan dengan cepat, bersemangat, tanpa mengeluh, dan menyenangkan karena mereka bisa belajar diluar kelas, berlari, duduk dibawah pohon sambil mengerjakan soal.”

 

Guru-guru di Nurul Fikri juga gak kalah keren lho! Sekolah ini sering mengadakan lomba inovasi guru, dimana para guru berlomba merancang games yang bisa digunakan untuk mengajar materi akademis di kelas. Lomba pertama mereka menghasilkan 51 board games! Sepertinya hampir semua mata pelajaran memiliki board game, dari IPA, IPS, Ekonomi, Fisika, Kimia, PKN, Bahasa Inggris, Bimbingan Konseling, Perpustakaan, Pramuka, dan pelajaran Tahfiz, dari level TK sampai SMA. Sepertinya tidak ada narasumber lain yang secocok Ibu Nita untuk membahas Game Based Learning.

 

Sebenarnya Game Based Learning adalah sebuah pedagogis yang sederhana, namun sangat dalam dan pembahasan 1 jam via WhatsApp tidak mungkin bisa mendalami materi ini.

Untuk membahas Game Based Learning ini, kita bagi menjadi 3 segmen, dari definisi apa itu Game Based Learning. Lalu mengenai pentingnya mengimplementasi Game Based Learning. Di segmen ini Ibu Nita membagikan banyak pengalaman yang pasti sangat bermanfaat untuk dipelajari guru-guru lain. Khusus nya di saat Ibu Nita membahas tentang hasil yang didapatkan, dampak positif, negatif, tantangan dan juga solusi.

 

Segmen terakhir adalah protokol Game Based Learning. Dimana Mas Eko membahas tentang cara menggunakan game sebagai media yang efektif. Materi segmen ini meliputi tahap persiapan sebelum mengajar, apa saja yang harus dilakukan ketika bermain, dan juga aktivitas pembelajaran yang meliputi game itu, seperti briefing dan debriefing.

 

Ini lah #ngobrolgame game based learning. Di tanggal 12 kita ada lagi ya, kali ini tentang gamification, tamu narasumber kita juga nggak kalah keren lho!

Kuliah WhatsApp Ludenara, Potensi Besar dari #resepmain untuk membantu Keluarga dan Pendidikan Indonesia

Kuliah WhatsApp Ludenara, Potensi Besar dari #resepmain untuk membantu Keluarga dan Pendidikan Indonesia

 

Dengan adanya pandemi ada tantangan tambahan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar, dan kegiatan sosial lain nya yang sangat kita rindukan. Untuk pendidikan, kita mengerti bahwa siswa-siswi kita akan mendapatkan lebih banyak manfaat dari setiap sesi pembelajaran jika mereka mendapatkan bimbingan, dan perhatian penuh dari guru-guru. Begitu juga kebutuhan sosial kita, sangat kita butuhkan “quality time” dengan orang-orang di sekitar kita.

Di sini lah #resemain memiliki potensi yang besar, #resepmain bisa meningkatkan efektifitas belajar di rumah, dan juga membantu hadirnya “quality time” untuk setiap orang. Namun tidak hanya di situ saja #resepmain bermanfaat, kita tahu pendidikan Indonesia masih banyak yang bisa di improve. Nah improvement ini alangkah baiknya jika bisa hadir dari guru-guru dan orang tua yang paling berpengalaman di bidang ini, dan juga yang sering bereksperimen mengenai cara-cara mengajar. Dengan terus bereksperimen dan semakin banyak guru dan orang tua yang mencari cara-cara baru belajar dan mengajar,  semaking banyak kesempatan kita untuk menemukan cara-cara efektif dan cara-cara yang gagal, dengan ini maka tentunya kita akan membantu pendidikan Indonesia.

Dengan #resepmain in Ludenara berharap sebanyak-banyak nya guru dan orang tua yang berbagi resepnya semakin banyak pula improvement-improvement edukasi yang bisa kita coba bersama. Untuk itu, kita menghadirkan kuliah WhatsApp gratis! Dimana siapapun bisa belajar mengenai #resepmain dari cara membuat nya, cara menerapkan nya, serta contoh-contoh #resepmain yang sudah terbukti efektif membantu pembelajaran siswa-siswi.

Kuliah WhatsApp ini dihadiri oleh 30 peserta, dengan kebutuhan dan minat yang beragam. Ada orang tua yang ingin menghadirkan sesi bermain bermakna di rumah untuk anak-anak nya, ada juga guru yang ingin menerapkan game based learning di saat pandemi ini, ada juga mahasiswa yang ingin menyerap ilmu baru. Narasumber kuliah WhatsApp Ludenara kali ini adalah Mas Nunuk, seorang guru SMAN yang sangat kreatif, dan Mas Eko, seorang ekspert di bidang game based learning.

Keduanya saling melengkapi, dimana Mas Eko bisa menghadirkan teori-teori mengapa #resepmain itu bermanfaat, cara-cara memanfaat kan nya, dan juga cara membuat resepnya. Sementera Mas Nunuk memberikan pengalaman langsung dan contoh-contoh nyata dimana #resepmain ini terbukti membantu efektifitas pembelajaran di kelas SMAN nya.

 

Sesi penyampaian kuliah WhatsApp berlangsung dengan cepat, kurang dari 30 menit. Ini bisa terjadi karena sebagian besar materi memang bisa diakses publik tanpa harus mengikuti kuliah WhatsApp, materi ini pun kita bagikan sehari sebelum kuliah WhatsApp. Berikut adalah materi-materi ini:

  1. Memasak dan Mendesain Game: https://ekonugroho.id/memasak-dan-mendesain-game/
  2. Resep Main: http://ludenara.org/resepmain/

 

Nah yang menarik adalah, betapa antusiasnya para peserta untuk menanya dan ikut terlibat di dalam kuliah ini. Karena itu, sesi tanya jawab berlangsung selama 1 jam 15 menit. Di sini kita tahu bahwa banyak sekali yang antusias menerapkan game based learning di rumah maupun di sekolah, dan bahkan ada yang juga sudah berpengalaman menerapkan nya. 

Setelah semua sesi berakhir, Ludenara mengadakan kontes kecil, dimana yang membuat #resepmain paling menarik yang di upload ke Instagram, akan mendapatkan board game Aquatico!

Kuliah WhatsApp ini akan kita adakan lagi di tanggal 27 April, dimana kita akan membahas topik yang lain, serta menghadirkan narasumber yang lain pula. Nah di tunggu yaa!!

Ludenara for Lombok and Palu

Ludenara for Lombok and Palu

LOMBOK, INDONESIA – AUGUST 07 (Photo by Ulet Ifansasti/Getty Images)

Hutan gunung sawah lautan..
Simpanan kekayaan..
(Ismail Marzuki, Ibu Pertiwi. 1958)

Iya, Indonesia penuh dengan kekayaan, dengan tanah yang subur, “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Tapi kekayaan ini juga ada harganya.
Gunung-gunung volcano yang menyuburkan tanah kita semua berdiri di atas lingkaran api.
Sehingga selama bulan Januari hingga Maret saja sudah terjadi 1.107 bencana alam (PNPB)

Seingin-inginnya kita untuk tidak pernah terkena bencana, kita tidak bisa melawan lingkaran api yang di atasnya terletak tanah air kita.
Karena itu, Ludenara bersama dengan BAZNAS ingin mengadakan pendidikan mitigasi bencana alam, tentunya dengan metode pembelajaran yang meaningfull untuk anak-anak kita.

Tidak lama setelah gempa bumi yang terjadi di Lombok, tim Ludenara mengadakan survei pasca gempa bumi. Tim Ludenara mendatangi sekolah-sekolah, dan rumah-rumah warga yang terkena bencana untuk mempelajari lebih dalam tentang apa yang mereka alami selama bencana dan pasca bencana.

Kita juga bekerja sama dengan guru-guru di sekolah yang terkena bencana, untuk mendiskusikan apa saja hal yang paling penting untuk diajarkan kepada anak-anak kita mengenai mitigasi bencana. Dari sini kita pulang dan merancang “learning kit” mitigasi bencana.
Nah, di tanggal 17 Desember, Ludenara akan datang ke Palu dan juga Lombok untuk menghadirkan sesi pembelajaran mitigasi bencana dengan learning kit yang kita dapatkan dari survei pasca gempa bumi Lombok 2018.

Kelas Game Design: Materi Bermanfaat Untuk Rancang Game Impian

Kelas Game Design: Materi Bermanfaat Untuk Rancang Game Impian

Bandung (24/8). Suasana ramai mendadak memenuhi PlaySpace by Boardgame.id yang bertempat di Jalan Sukanagara no. 31, Antapani, Bandung. Sejak pagi, banyak pengunjung berdatangan dari berbagai daerah. Rupanya mereka adalah peserta Kelas Game Design yang diadakan oleh Ludenara, lembaga non-profit yang fokus pada pendidikan.

Ya, meskipun selama ini game kerap diartikan hanya sebagai media hiburan yang cenderung adiktif, menariknya kelas ini justru mengajak pesertanya untuk belajar membuat game sendiri. Diadakan selama dua hari, sesi ini didesain untuk membantu orang tua dan guru untuk mempu mengembangkan game sesuai dengan kebutuhan serta berbagai potensi yang dimiliki.

 

Membuka kelas hari pertama, acara dibuka dengan sambutan dari Novie, Program Coordinator Ludenara dan Isa Akbar dari PlaySpace by. Boardgame.id. Dilanjutkan dengan materi berupa pemahaman tentang game serta seluk-beluk game design oleh pakar game based-learning sekaligus CEO Kummara Studio, Eko Nugroho.

Berlanjut setelah coffee break, masuk ke sesi presentasi oleh para peserta. Di sini peserta diminta untuk menceritakan berbagai game yang umum, serta melakukan modifikasi sederhana berdasarkan komponen game yang mereka ketahui tersebut. Dibagi dalam beberapa kelompok, peserta diajak mengembangkan ide mereka menjadi kerangka sebuah game baru.

 

Setelah makan siang, acara masuk pada sesi interaktif yaitu peserta mencoba card game berjudul Rantai Makanan. Game yang membantu anak-anak belajar ilmu biologi ini merupakan hasil rancangan para guru dari Kelas Game Design sesi sebelumnya lho. Setelah itu peserta mulai membuat konsep game yang ingin dikembangkan sebagai bekal untuk kelas di hari kedua.

 

 

 

 

 

 

Ditanya tentang keseruan acara ini, sebagian besar mengaku sudah menunggu-nunggu Kelas Game Design ini dibuka. Tak heran jika acara ini didatangi guru dan orang tua dari bermacam kota di Indonesia, mulai dari Bandung, Depok, Bogor, hingga Malang Jawa Timur!

Demikian liputan keseruan acara di hari pertama. Tenang, masih ada hari kedua yang lebih fokus pada pengembangan prototype dari konsep yang peserta buat.

Artikel ini di tulis oleh Isa Rachmad Akbar dan sudah di publikasikan di boardgame.id

Kamu juga bisa lihat acara-acara seru & menarik lainnya yang diselenggarakan di PlaySpace by Boardgame.id, Jalan Sukanagara no. 31, Antapani, Bandung dengan mengunjungi boardgame.id

Format Game Schooling Ludenara

Format Game Schooling Ludenara

Game schooling Ludenara adalah sebuah program pembelajaran berbasis game untuk anak-anak umur 9-12 tahun. Proses pembelajaran lewat bermain ini  ketrampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk kesuksesan di abad 21 ini seperti kreativitas, problem-solving, sosial skills dan lainnya. Pembelajaran akademis atau literasi juga bisa dilakukan beriringan, sehingga tema, atau kurikulum bisa dimasukkan dalam program ini.

 

Berikut adalah struktur dasar dari setiap kelas game schooling kita

 

Pembukaan

 

1.Ibu kepala sekolah memperkenalkan topik pembelajaran hari ini serta board game yang di gunakan

2.Anak-anak akan melakukan ice breaking kecil untuk mencairkan suasana

3.Pembagian kelompok dengan 1 guru yang akan memfasilitasi proses pembelajaran di setiap kelompok

 

Play

 

Setelah grouping setiap guru akan memberikan narasi untuk menambah ketertarikan setiap anak kepada topik yang dibahas serta menjelaskan peraturan-peraturan cara main. selama bermain kita bisa melihat keterampilan-keterampilan yang akan diolah dan diterapkan oleh setiap anak

 

1. Independence/Self-learning

Selama bermain murid-murid akan mengeksplorasi topik pembelajaran dengan sendirinya sementara guru akan membantu dengan mendorong murid-murid untuk menggali insight yang lebih dalam dari game itu. Cara ini akan membangun kepercayaan diri anak-anak ketika mereka berhasil mendapatkan ilmu dengan sendirinya tanpa di suapi informasi oleh guru.

2. Different Perspective/Big Picture

Mereka akan memainkan peran-peran yang akan membiasakan melihat dari sudut pandang yang berbeda-beda, serta membangun keterampilan sosial mereka.

3. Character Qualities (Social awareness, Leadership, Persistence)

Untuk games yang kooperatif mereka akan belajar bekerja sama, beberapa anak pun akan belajar memimpin kelompok nya untuk menyatukan tujuan. Sementara games yang kompetitif mengembangkan mental mereka, mereka bisa belajar menerima kekalahan dan menyadari bahwa pembelajaran dari kekalahan dan kesalahan sangat lah banyak . Mental “fair play” yang sehat ini di bangun dengan games dan ini lah yang akan membantu mereka di dunia nyata yang sangat menghargai mentalitas ini. Selain itu menghadapi kekalahan di games ini juga lah yang akan membantu mereka membangun mental pantang menyerah.

4. Competencies (Critical thinking, Creativity, Collaboration)

Setiap games memberikan tantangan yang berbeda sehingga kemampuan problem solving mereka akan terasah. Games akan memposisikan mereka di berbagai situasi yang cukup rumit, mereka harus menganalisa dan memprediksi setiap konsekuensi dari setiap langkah, anak-anak juga akan terbiasa memprediksi langkah lawan sebuah tugas kognitif yang cukup kompleks untuk bisa menang. Mereka juga akan terbiasa planning, tapi juga tetap fleksibel saat rencana mereka meleset melatih adaptability. Dengan membiasakan diri untuk kritis di setiap situasi seperti ini critical thinking mereka juga sangat berkembang.

 

Debrief

  1. Setelah bermain ibu kepala sekolah akan membahas topik pembelajaran lebih dalam, murid-murid akan menonton video untuk memahami situasi nyata. Setelah itu mereka akan mendapatkan quizz agar kita lebih tahu apa saja yang mereka pelajari.
  2. Murid-murid akan diberikan kertas gambar dimana mereka akan mengekspresikan apapun yang mereka pelajari selama sesi bermain. Dari sini kita bisa melihat interest dan fokus mereka terhadap setiap topik pembelajaran, dan itu bisa kita gunakan untuk mengenali karakter mereka.
  3. Terakhir mereka akan mempresentasikan karya mereka kepada teman-teman di kelompok nya.

 

Program Ludenara ini bisa disesuaikan dengan tema, kurikulum, atau nilai-nilai yang ingin disampaikan.

 

 

 

Kelas Game Based Learning

Kelas Game Based Learning

 

Bandung, (27/7). PlaySpace by Boardgame.id kembali diramaikan oleh guru-guru dan orang tua. Usut punya usut, mereka ternyata mengikuti Kelas Game Based Learning, sebuah workshop yang diselenggarakan oleh Ludenara.

Apa sih yang mereka lakukan di sini?

Acara dibuka dengan sambutan oleh mbak Novie, Koordinator Program dari Ludenara dan juga perkenalan PlaySpace by Boardgame.id oleh Isa Rachmad Akbar yang juga menjabat sebagai pimpinan redaksi. Sesi dilanjutkan dengan perkenalan peserta agar makin akrab.

Sesi workshop game based learning ini sendiri dipimpin oleh Eko Nugroho, seorang praktisi dan pakar game based learning, perancang game sekaligus pendiri Kummara Game Design Studio dan juga Ludenara.

Usai sesi perkenalan, Eko mulai memberi paparan tentang sisi positif dari game dan berbagi kiat-kiat bagaimana membawa game ke ruang keluarga atau bahkan ke sekolah. Para peserta yang hadir di sini pada dasarnya percaya tentang potensi game. Mereka hadir untuk menelaah lebih dalam sejauh mana game bisa dijadikan media pembelajaran yang seru, efektif dan interaktif mengingat anak-anak generasi sekarang semuanya suka game.

Sesi workshop game based learning ini sendiri dipimpin oleh Eko Nugroho, seorang praktisi dan pakar game based learning, perancang game sekaligus pendiri Kummara Game Design Studio dan juga Ludenara.

Usai sesi perkenalan, Eko mulai memberi paparan tentang sisi positif dari game dan berbagi kiat-kiat bagaimana membawa game ke ruang keluarga atau bahkan ke sekolah. Para peserta yang hadir di sini pada dasarnya percaya tentang potensi game. Mereka hadir untuk menelaah lebih dalam sejauh mana game bisa dijadikan media pembelajaran yang seru, efektif dan interaktif mengingat anak-anak generasi sekarang semuanya suka game.

 

“Yang ada di benak saya saat mendengar kata game, memang ada game-game yang kurang baik tapi ada juga game-game yang membangun. Sebagai praktisi aktivitas outdoor, saya lebih menikmati game-game yang fisik karena ada interaksinya,” Ujar kang Ucup salah satu peserta hari itu.

Sesi pun beralih ke coffee break yang dilanjutkan dengan sesi bermain. Mereka mencoba satu game, bukan game sembarangan namun board game berjudul Rantai Makanan. Board game ini tercipta dari hasil kolaborasi beberapa guru yang terlahir dari acara Kelas Game Design yang juga diselenggarakan oleh Ludenara bulan Maret lalu.

Dengan tetap dipandu oleh mas Eko, para peserta jadi semakin yakin jika dimanfaatkan dengan baik game bisa mengajarkan sesuatu yang baru, sesuatu yang seru ke anak-anak kita. Peserta pun dibekali dengan canvas game based learning. Canvas ini yang akan membantu mengarahkan peserta mengekstrak materi yang mungkin bisa didukung oleh game-game tertentu.

.

Selesai jam ishoma siang, peserta kembali diajak memainkan sebuah card game. Uniknya, card game ini bukan yang ada unsur hitung-hitungan atau hafalan. Kala itu peserta memainkan card game Roket Raket. Setelah bermain, peserta ditantang untuk menggagas ide/tema baru dari Roket Raket yang bisa diajarkan ke anak didik atau putra putri kita.

“Game ini bisa saya ubah temanya jadi pengenalan unsur-unsur kimia. Jadi pemain tidak lagi menyamakan posisi raket dengan kock tapi unsur dalam tabel periodik dengan golongan yang sama,” respon dari mbak Epong Utami, seorang guru dari School of Human yang menjadi peserta kala itu.

Dengan dibekali Canvas dan juga sedikit contoh modifikasi, seharusnya apapun itu permainannya bisa kita ambil intisari positifnya. Jika berhasil menemukannya, semua game bisa dijadikan media pembelajaran yang seru.

Artikel ini di tulis oleh Isa Rachmad Akbar dan sudah di publikasikan di boardgame.id

Kamu juga bisa lihat acara-acara seru & menarik lainnya yang diselenggarakan di PlaySpace by Boardgame.id, Jalan Sukanagara no. 31, Antapani, Bandung dengan mengunjungi boardgame.id