Ludenara for Lombok and Palu

Ludenara for Lombok and Palu

LOMBOK, INDONESIA – AUGUST 07 (Photo by Ulet Ifansasti/Getty Images)

Hutan gunung sawah lautan..
Simpanan kekayaan..
(Ismail Marzuki, Ibu Pertiwi. 1958)

Iya, Indonesia penuh dengan kekayaan, dengan tanah yang subur, “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Tapi kekayaan ini juga ada harganya.
Gunung-gunung volcano yang menyuburkan tanah kita semua berdiri di atas lingkaran api.
Sehingga selama bulan Januari hingga Maret saja sudah terjadi 1.107 bencana alam (PNPB)

Seingin-inginnya kita untuk tidak pernah terkena bencana, kita tidak bisa melawan lingkaran api yang di atasnya terletak tanah air kita.
Karena itu, Ludenara bersama dengan BAZNAS ingin mengadakan pendidikan mitigasi bencana alam, tentunya dengan metode pembelajaran yang meaningfull untuk anak-anak kita.

Tidak lama setelah gempa bumi yang terjadi di Lombok, tim Ludenara mengadakan survei pasca gempa bumi. Tim Ludenara mendatangi sekolah-sekolah, dan rumah-rumah warga yang terkena bencana untuk mempelajari lebih dalam tentang apa yang mereka alami selama bencana dan pasca bencana.

Kita juga bekerja sama dengan guru-guru di sekolah yang terkena bencana, untuk mendiskusikan apa saja hal yang paling penting untuk diajarkan kepada anak-anak kita mengenai mitigasi bencana. Dari sini kita pulang dan merancang “learning kit” mitigasi bencana.
Nah, di tanggal 17 Desember, Ludenara akan datang ke Palu dan juga Lombok untuk menghadirkan sesi pembelajaran mitigasi bencana dengan learning kit yang kita dapatkan dari survei pasca gempa bumi Lombok 2018.

Kelas Game Design: Materi Bermanfaat Untuk Rancang Game Impian

Kelas Game Design: Materi Bermanfaat Untuk Rancang Game Impian

Bandung (24/8). Suasana ramai mendadak memenuhi PlaySpace by Boardgame.id yang bertempat di Jalan Sukanagara no. 31, Antapani, Bandung. Sejak pagi, banyak pengunjung berdatangan dari berbagai daerah. Rupanya mereka adalah peserta Kelas Game Design yang diadakan oleh Ludenara, lembaga non-profit yang fokus pada pendidikan.

Ya, meskipun selama ini game kerap diartikan hanya sebagai media hiburan yang cenderung adiktif, menariknya kelas ini justru mengajak pesertanya untuk belajar membuat game sendiri. Diadakan selama dua hari, sesi ini didesain untuk membantu orang tua dan guru untuk mempu mengembangkan game sesuai dengan kebutuhan serta berbagai potensi yang dimiliki.

 

Membuka kelas hari pertama, acara dibuka dengan sambutan dari Novie, Program Coordinator Ludenara dan Isa Akbar dari PlaySpace by. Boardgame.id. Dilanjutkan dengan materi berupa pemahaman tentang game serta seluk-beluk game design oleh pakar game based-learning sekaligus CEO Kummara Studio, Eko Nugroho.

Berlanjut setelah coffee break, masuk ke sesi presentasi oleh para peserta. Di sini peserta diminta untuk menceritakan berbagai game yang umum, serta melakukan modifikasi sederhana berdasarkan komponen game yang mereka ketahui tersebut. Dibagi dalam beberapa kelompok, peserta diajak mengembangkan ide mereka menjadi kerangka sebuah game baru.

 

Setelah makan siang, acara masuk pada sesi interaktif yaitu peserta mencoba card game berjudul Rantai Makanan. Game yang membantu anak-anak belajar ilmu biologi ini merupakan hasil rancangan para guru dari Kelas Game Design sesi sebelumnya lho. Setelah itu peserta mulai membuat konsep game yang ingin dikembangkan sebagai bekal untuk kelas di hari kedua.

 

 

 

 

 

 

Ditanya tentang keseruan acara ini, sebagian besar mengaku sudah menunggu-nunggu Kelas Game Design ini dibuka. Tak heran jika acara ini didatangi guru dan orang tua dari bermacam kota di Indonesia, mulai dari Bandung, Depok, Bogor, hingga Malang Jawa Timur!

Demikian liputan keseruan acara di hari pertama. Tenang, masih ada hari kedua yang lebih fokus pada pengembangan prototype dari konsep yang peserta buat.

Artikel ini di tulis oleh Isa Rachmad Akbar dan sudah di publikasikan di boardgame.id

Kamu juga bisa lihat acara-acara seru & menarik lainnya yang diselenggarakan di PlaySpace by Boardgame.id, Jalan Sukanagara no. 31, Antapani, Bandung dengan mengunjungi boardgame.id

Format Game Schooling Ludenara

Format Game Schooling Ludenara

Game schooling Ludenara adalah sebuah program pembelajaran berbasis game untuk anak-anak umur 9-12 tahun. Proses pembelajaran lewat bermain ini  ketrampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk kesuksesan di abad 21 ini seperti kreativitas, problem-solving, sosial skills dan lainnya. Pembelajaran akademis atau literasi juga bisa dilakukan beriringan, sehingga tema, atau kurikulum bisa dimasukkan dalam program ini.

 

Berikut adalah struktur dasar dari setiap kelas game schooling kita

 

Pembukaan

 

1.Ibu kepala sekolah memperkenalkan topik pembelajaran hari ini serta board game yang di gunakan

2.Anak-anak akan melakukan ice breaking kecil untuk mencairkan suasana

3.Pembagian kelompok dengan 1 guru yang akan memfasilitasi proses pembelajaran di setiap kelompok

 

Play

 

Setelah grouping setiap guru akan memberikan narasi untuk menambah ketertarikan setiap anak kepada topik yang dibahas serta menjelaskan peraturan-peraturan cara main. selama bermain kita bisa melihat keterampilan-keterampilan yang akan diolah dan diterapkan oleh setiap anak

 

1. Independence/Self-learning

Selama bermain murid-murid akan mengeksplorasi topik pembelajaran dengan sendirinya sementara guru akan membantu dengan mendorong murid-murid untuk menggali insight yang lebih dalam dari game itu. Cara ini akan membangun kepercayaan diri anak-anak ketika mereka berhasil mendapatkan ilmu dengan sendirinya tanpa di suapi informasi oleh guru.

2. Different Perspective/Big Picture

Mereka akan memainkan peran-peran yang akan membiasakan melihat dari sudut pandang yang berbeda-beda, serta membangun keterampilan sosial mereka.

3. Character Qualities (Social awareness, Leadership, Persistence)

Untuk games yang kooperatif mereka akan belajar bekerja sama, beberapa anak pun akan belajar memimpin kelompok nya untuk menyatukan tujuan. Sementara games yang kompetitif mengembangkan mental mereka, mereka bisa belajar menerima kekalahan dan menyadari bahwa pembelajaran dari kekalahan dan kesalahan sangat lah banyak . Mental “fair play” yang sehat ini di bangun dengan games dan ini lah yang akan membantu mereka di dunia nyata yang sangat menghargai mentalitas ini. Selain itu menghadapi kekalahan di games ini juga lah yang akan membantu mereka membangun mental pantang menyerah.

4. Competencies (Critical thinking, Creativity, Collaboration)

Setiap games memberikan tantangan yang berbeda sehingga kemampuan problem solving mereka akan terasah. Games akan memposisikan mereka di berbagai situasi yang cukup rumit, mereka harus menganalisa dan memprediksi setiap konsekuensi dari setiap langkah, anak-anak juga akan terbiasa memprediksi langkah lawan sebuah tugas kognitif yang cukup kompleks untuk bisa menang. Mereka juga akan terbiasa planning, tapi juga tetap fleksibel saat rencana mereka meleset melatih adaptability. Dengan membiasakan diri untuk kritis di setiap situasi seperti ini critical thinking mereka juga sangat berkembang.

 

Debrief

  1. Setelah bermain ibu kepala sekolah akan membahas topik pembelajaran lebih dalam, murid-murid akan menonton video untuk memahami situasi nyata. Setelah itu mereka akan mendapatkan quizz agar kita lebih tahu apa saja yang mereka pelajari.
  2. Murid-murid akan diberikan kertas gambar dimana mereka akan mengekspresikan apapun yang mereka pelajari selama sesi bermain. Dari sini kita bisa melihat interest dan fokus mereka terhadap setiap topik pembelajaran, dan itu bisa kita gunakan untuk mengenali karakter mereka.
  3. Terakhir mereka akan mempresentasikan karya mereka kepada teman-teman di kelompok nya.

 

Program Ludenara ini bisa disesuaikan dengan tema, kurikulum, atau nilai-nilai yang ingin disampaikan.

 

 

 

Kelas Game Based Learning

Kelas Game Based Learning

 

Bandung, (27/7). PlaySpace by Boardgame.id kembali diramaikan oleh guru-guru dan orang tua. Usut punya usut, mereka ternyata mengikuti Kelas Game Based Learning, sebuah workshop yang diselenggarakan oleh Ludenara.

Apa sih yang mereka lakukan di sini?

Acara dibuka dengan sambutan oleh mbak Novie, Koordinator Program dari Ludenara dan juga perkenalan PlaySpace by Boardgame.id oleh Isa Rachmad Akbar yang juga menjabat sebagai pimpinan redaksi. Sesi dilanjutkan dengan perkenalan peserta agar makin akrab.

Sesi workshop game based learning ini sendiri dipimpin oleh Eko Nugroho, seorang praktisi dan pakar game based learning, perancang game sekaligus pendiri Kummara Game Design Studio dan juga Ludenara.

Usai sesi perkenalan, Eko mulai memberi paparan tentang sisi positif dari game dan berbagi kiat-kiat bagaimana membawa game ke ruang keluarga atau bahkan ke sekolah. Para peserta yang hadir di sini pada dasarnya percaya tentang potensi game. Mereka hadir untuk menelaah lebih dalam sejauh mana game bisa dijadikan media pembelajaran yang seru, efektif dan interaktif mengingat anak-anak generasi sekarang semuanya suka game.

Sesi workshop game based learning ini sendiri dipimpin oleh Eko Nugroho, seorang praktisi dan pakar game based learning, perancang game sekaligus pendiri Kummara Game Design Studio dan juga Ludenara.

Usai sesi perkenalan, Eko mulai memberi paparan tentang sisi positif dari game dan berbagi kiat-kiat bagaimana membawa game ke ruang keluarga atau bahkan ke sekolah. Para peserta yang hadir di sini pada dasarnya percaya tentang potensi game. Mereka hadir untuk menelaah lebih dalam sejauh mana game bisa dijadikan media pembelajaran yang seru, efektif dan interaktif mengingat anak-anak generasi sekarang semuanya suka game.

 

“Yang ada di benak saya saat mendengar kata game, memang ada game-game yang kurang baik tapi ada juga game-game yang membangun. Sebagai praktisi aktivitas outdoor, saya lebih menikmati game-game yang fisik karena ada interaksinya,” Ujar kang Ucup salah satu peserta hari itu.

Sesi pun beralih ke coffee break yang dilanjutkan dengan sesi bermain. Mereka mencoba satu game, bukan game sembarangan namun board game berjudul Rantai Makanan. Board game ini tercipta dari hasil kolaborasi beberapa guru yang terlahir dari acara Kelas Game Design yang juga diselenggarakan oleh Ludenara bulan Maret lalu.

Dengan tetap dipandu oleh mas Eko, para peserta jadi semakin yakin jika dimanfaatkan dengan baik game bisa mengajarkan sesuatu yang baru, sesuatu yang seru ke anak-anak kita. Peserta pun dibekali dengan canvas game based learning. Canvas ini yang akan membantu mengarahkan peserta mengekstrak materi yang mungkin bisa didukung oleh game-game tertentu.

.

Selesai jam ishoma siang, peserta kembali diajak memainkan sebuah card game. Uniknya, card game ini bukan yang ada unsur hitung-hitungan atau hafalan. Kala itu peserta memainkan card game Roket Raket. Setelah bermain, peserta ditantang untuk menggagas ide/tema baru dari Roket Raket yang bisa diajarkan ke anak didik atau putra putri kita.

“Game ini bisa saya ubah temanya jadi pengenalan unsur-unsur kimia. Jadi pemain tidak lagi menyamakan posisi raket dengan kock tapi unsur dalam tabel periodik dengan golongan yang sama,” respon dari mbak Epong Utami, seorang guru dari School of Human yang menjadi peserta kala itu.

Dengan dibekali Canvas dan juga sedikit contoh modifikasi, seharusnya apapun itu permainannya bisa kita ambil intisari positifnya. Jika berhasil menemukannya, semua game bisa dijadikan media pembelajaran yang seru.

Artikel ini di tulis oleh Isa Rachmad Akbar dan sudah di publikasikan di boardgame.id

Kamu juga bisa lihat acara-acara seru & menarik lainnya yang diselenggarakan di PlaySpace by Boardgame.id, Jalan Sukanagara no. 31, Antapani, Bandung dengan mengunjungi boardgame.id