Sartup ini menyediakan pelatihan untuk calon atlet eSport, tapi mungkin ada hal penting yang kelewat.

Sartup ini menyediakan pelatihan untuk calon atlet eSport, tapi mungkin ada hal penting yang kelewat.

 

Dalam satu dekade terakhir ini eSport telah berkembang dengan sangat pesat. Business Insider memprediksikan bahwa di tahun 2022 industri eSport akan memiliki pemasukan sebesar 1.8 Triliun Dollar US. Dengan pertumbuhan di sekitar 12-13% per tahun semenjak 2017. 

Tentu industri eSport Indonesia pun ikut berkembang dengan pesat. pertandingan-pertandingan eSport pun mengeluarkan hadiah yang cukup wow. Seperti liga profesional Mobile Legend yang dimana RRQ berhasil memenangkan US$300,000 (Rp4,2M). Atau liga PUBG yang menghadiahkan US$150,000(Rp2,1M).

Sekarang pun sudah ada lho Startup yang menyediakan jasa eSport coaching, untuk anak-anak muda yang ingin serius menjadi atlet eSport!

ProGuides adalah startup yang didirikan oleh Sam Wang saat dia belajar di UC Berkeley. Dengan ProGuide kita bisa memilih game apa yang ingin kita pelajari lalu, kita dihubungkan dengan dengan pemain-pemain dan coach-coach profesional. Selain itu ProGuide juga menyediakan banyak konten edukatif lain tentang eSport.

Seperti nya keren banget nih ya! Dengan para calon pemain bisa menemukan jasa pelatihan yang profesional dimanapun dia berada. Startup ini juga terlihat benar-benar menjalankan belajar sambil bermain dengan baik.

Namun mungkin ada satu hal yang kelewat, yaitu kesehatan, atau kesejahteraan calon pemain. Dimana Akademi eSport konvensional masih jauh lebih baik dari startup ini. Akademi-akademi yang baik juga menyediakan fitness trainer, dan bahkan psikolog.

Hal ini sangat penting karena dengan melesatnya sebuah industri yang muda kita masih hanya bisa meraba-raba apa dampak jarak panjang dan pendek nya kepada anak-anak muda yang terjun di dalam industri ini.

Di tahun 2020 sebuah penelitian yang di publish di International Journal of Environmental Research and Public Health, menemukan bahwa mayoritas atlet eSport tidak memenuhi standar kesehatan fisik, sebagian dari mereka obesitas (kelas 1 dan 3) dan sebagian besar diklasifikasikan sebagai pre-obese.

Ludenara sama sekali tidak menjelek-jelekan industri ini justru kita mau menunjukan sesuatu yang sangat menarik.

Hal ini bisa diperbaiki jika mereka benar-benar menganggap ini sebagai sport dimana profesionalisme dan disiplin adalah hal yang penting. Disiplin bukan hanya melatih keterampilan mereka saat bermain, tapi juga disiplin menjaga kesehatan fisik dan emosional diri sendiri. 

Bahkan menjaga diri sendiri bisa meningkatkan performa mereka sebagai atlet. Penelitian yang sama menemukan bahwa atlet-atlet yang menduduki ranking 10% tertinggi lebih aktif secara fisik dibanding atlet lain nya.

Ini belum ngomongin tentang kesehatan mental, yang panjang sekali pembahasan nya.

Tapi intinya ini, mungkin startup ini malah bisa jadi jebakan dimana pemain-pemain muda merasa mereka mendapatkan pelatihan tingkat profesional yang baik, namun mereka tidak sadar apa yang tertinggal, yaitu kesehatan mereka.

Mungkin kedepannya startup ini menyediakan pelatihan yang lebih holistik yang memperhatikan juga kesehatan mental dan fisik. Atau bahkan di Indonesia teman-teman ada yang mau bikin startup yang mirip? Wah bakal keren banget tuh, tapi jangan lupa di jagain juga pemain nya ya, jangan di suruh belajar dan berlatih doang, hehehe.

Sumber:

Yee, C. (2020, May 26). As Esports Find a Place in School, This Startup Teaches Gamers How to Go Pro – EdSurge News. Retrieved January 19, 2021, from https://www.edsurge.com/news/2020-05-21-as-esports-find-a-place-in-school-this-startup-teaches-gamers-how-to-go-pro

 

Trotter, M. G., Coulter, T. J., Davis, P. A., Poulus, D. R., & Polman, R. (2020). The association between esports participation, health and physical activity behaviour. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(19), 7329.

Keterlibatan orang tua sangat penting, tapi hati-hati!

Keterlibatan orang tua sangat penting, tapi hati-hati!

Photo by Michiel Annaret on Unsplash

Di sore itu Budi sudah tidak sabar untuk pulang.

Dia sudah tidak sabar untuk menceritakan ke-Ibu nya, ada sebuah toko jajanan baru di sekolah nya, yang menjual cemilan yang enak-enak banget!

Dia pun membawakan jajanan untuk Ibu yang menurut dia pasti akan suka, dan juga senang mendengarkan cerita nya tentang toko baru favorit nya itu.

Sesampai nya di rumah, Budi langsung lari menghampiri Ibu nya,

“Ibuuu Ibuuu… Liat ini!”

Sang Ibu pun menoleh, dan dengan senyum bertanya,

“Gimana ujian mu tadi? bisa nggak?”

“Ha? Oh iya, bentar bu, liat ini dulu!”

“Bentar-bentar apa? Awas lho ya kalo nilai nya jelek, Ibu kemarin udah bantuin belajar seharian lho! 

Terus besok kamu harus ngumpulin PR juga lho! Ayo sana bersih-bersih, terus kerjain PR nya!”

Mendengar ini, Budi pun sangat kecewa, sambil berjalan ke kamar mandi, dia melewati tong sampah dan melempar jajanan yang dia bawa itu sekuat-kuat nya sambil melepas kekesalan dia.

Sang Ibu pun tanpa sadar kekesalan Budi menambah perintah nya,

“Habis kerjain PR langsung makan ya, habis gitu sholat, terus hari ini kamu les musik ya, bersihin dulu piano nya, biar nggak malu sama pak guru!”

“Terus jangan lupa, minggu depan kamu Ibu ikuti turnamen matematika ya, sempetin belajar matematik tiap hari lho ya!”

Budi pun hanya bisa menggeleng-geleng kan kepala nya.

 

Familiar dengan tipe parenting ini?

Memang sungguh normal jika orang tua ingin mengontrol semua aspek kehidupan anak. Ya kan mereka cuma anak-anak, mereka tau apa sih tentang masa depan?

Mereka harus banyak belajar, punya prestasi yang bagus, biar bisa masuk ke sekolah favorit, terus masuk universitas yang terkenal, biar nanti bisa dapet kerjaan yang bagus, dan sukses di masa depan!

Yaaa, benar! Menurut orang tua.

Ada 2 hal yang harus dipikirkan dulu, pertama apakah kita benar-benar bisa memprediksi masa depan sehingga kita tahu jalan hidup mereka harus seperti apa?

Contoh nya saja, generasi sebelum kita tidak ada yang kebayang bahwa sekarang kita bisa sukses jadi Social Media Manager, YouTuber, Crypto Trader, Podcaster, dan karir-karir lain yang belum ada di masa lalu.

Seperti itu juga masa depan, karena kita tidak tahu persis masa depan seperti apa, kita juga tidak bisa tahu jalan terbaik untuk mereka seperti apa.

Yang kedua mungkin lebih penting. Apakah jalan hidup yang kita inginkan untuk anak kita itu yang dia inginkan? Karena yang menjalankan hidup itu adalah mereka, sebaiknya mereka yang memilih jalan yang akan membuat mereka bahagia.

Di sini kita harus juga mendeifinisikan sukses dengan benar. Apakah jadi dokter dengan uang yang banyak sukses? Mungkin iya, tapi apakah dia bahagia? Buat apa materi jika tidak bahagia kan?

Tapi mungkin ini hanya spekulasi semata, lalu apa kata penelitian tentang ini?

Tipe parenting dimana orang tua memicromanage semua aspek dari kehidupan anak bisa diklasifikasikan sebagai helicopter parenting. Untung sudah banyak penelitian tentang dampak dari helicopter parenting, khusus nya di tahap kuliah.

Di satu studi mahasiswa yang melaporkan bahwa orang tua nya terlalu mengontrol memiliki kesehatan psikologis yang lebih rendah, bahkan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengkonsumsi medikasi anti-depresan (LeMoyne & Buchanan, 2011).

Studi lain menemukan bahwa mahasiswa yang merasa orang tua terlalu berikut campur di kehidupan mereka memiliki kepuasan dengan keluarga yang rendah  (Segrin et al., 2012).

Bahkan motivasi akademis pun menurun jika orang tua terlalu ikut campur. Mereka jadi menghindari pemikiran mengenai tujuan pembelajaran, dan meskipun mereka memiliki motivasi belajar, motivasi ini bersifat ekstrinsik (takut dimarahi kali ya) dan bukan intrinsik yang datang keinginan diri sendiri (Reed, K et al., 2016).

Sebenarnya yang paling berbahaya dari parenting ini adalah rusaknya otonomi anak. Berdasarkan teori Self-Determination. Teori ini menunjukan bahwa manusia membutuhkan 3 hal untuk tumbuh kembang yang baik. 

Yang pertama adalah otonomi, dimana seseorang merasa dia bisa membuat keputusan sendiri.

Kedua adalah kebutuhan untuk kompetensi, dan merasa percaya kepada kemahiran diri sendiri.

Terakhir adalah memiliki hubungan mutualisme, dimana dia merasa benar-benar disupport, bukan perintah.

Lalu apa solusi nya, apakah dibiarkan saja? 

Tentu sama sekali tidak, yang harus diperhatikan adalah moderasi, antara dibiarkan dan ikut campur.Dan tipe keikutcampuran pun harus diperhatikan. Jangan sampai orang tua mensupport hanya untuk mengingatkan anaknya untuk belajar terus, menuntut prestasi yang baik. Tipe keterlibatan yang baik adalah yang suportif bukan agresif, yang lebih sering mendengarkan daripada berbicara, yang menunjukan bukan mendorong.

Kita juga bisa mempelajari philosophy pendidikan yang tidak otoriter, salah satu nya dari Jean Jacques Rousseau. Menurut Rousseau kita sebaik nya mendidik bukan untuk membonsai anak didik kita sesuai yang kita inginkan.

Namun menunjukan cara nya untuk belajar, untuk mencari kebenaran, agar di suatu hari nanti, dia sendiri yang bisa membuat keputusan yang lebih baik tanpa membutuhkan orang lain. 

Sumber:

LeMoyne, T., & Buchanan, T. (2011). Does “hovering” matter? Helicopter parenting and its effect on well-being. Sociological Spectrum, 31, 399-418. doi: 10.1080/02732173.2011.574038 

Reed, K., Duncan, J. M., Lucier-Greer, M., Fixelle, C., & Ferraro, A. J. (2016). Helicopter parenting and emerging adult self-efficacy: Implications for mental and physical health. Journal of Child and family Studies, 25(10), 3136-3149.

Schiffrin, H. H., Liss, M., Miles-McLean, H., Geary, K. A., Erchull, M. J., & Tashner, T. (2014). Helping or hovering? The effects of helicopter parenting on college students’ well-being. Journal of Child and Family Studies, 23(3), 548-557.

Segrin, C., Woszidlo, A., Givertz, M., Bauer, A., & Murphy, M. T. (2012). The association between overparenting, parent-child communication, and entitlement and adaptive traits in adult children. Family Relations, 61. 237-252. doi:10.1111/j.1741-3729.2011.00689.x

6 Hal yang meningkatkan kreativitas!

6 Hal yang meningkatkan kreativitas!

Photo by Jr Korpa on Unsplash

Kita semua tahu bahwa kreativitas (kemampuan untuk menghasilkan ide baru) dan saudaranya inovasi (implementasi dari ide baru) sangat lah berharga. Kedua Hal ini lah yang bisa membuat hidup kita semakin nyaman, mudah, dan indah.

Jika masih ragu dengan penting nya inovasi, mari bersama melihat laporan dari Mckinsey International ini.

Di gravis ini kita bisa lihat bahwa memang inovasi lah yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sehingga kesejahteraan masyarakat pun meningkat secara beriringan.

Kabar baik nya untuk anak-anak kita, kreativitas ini bisa dilatih dan beberapa artikel Ludenara sudah membahas bagaimana bermain bisa meningkatkan kreativitas, khususnya “pretend play”

Lalu bagaimana dengan orang tua, apakah bermain tetap bisa meningkatkan kreativitas?
Sayangnya kami belum menemukan bukti ilmiah yang konklusif, selain pretend play di masa kecil yang menjadi fondasi kreativitas di masa dewasa.

Namun secara teori memang bisa. Kreatifitas ini adalah fungsi otak, dan otak secara organ terus berkembang dan berubah sesuai dengan perilaku kita secara fisik dan mental, ini yang disebut dengan brain plasticity.

Disaat bermain kita mendorong otak kita untuk berpikir kreatif, dengan itu neuron-neuron yang dibutuhkan untuk kreativitas di rangsang, dan jika dilakukan secara rutin jaringan neuron kreativitas ini akan menguat karena terlatih.

Selain bermain ada lagi cara meningkatkan kreativitas kita sebagai orang dewasa. Menurut Investment Theory of Creativity, ada enam hal yang bisa mendukung proses kreativitas.

1. Intellectual Skills

Kreativitas membutuhkan gabungan antara 3 bentuk keterampilan intelektual
Synthetic skill, melihat sebuah permasalahan dengan cara pandang yang baru agar bisa keluar dari cara berpikir konvensional
Analytic skill, kemampuan memilih ide mana yang bermanfaat dan butuh di kembangkan dan mana yang ditinggalkan
Persuasion skill, kemampuan menjual, atau meyakinkan orang lain akan manfaat ide kreatif.

Ketiga keterampilan intelektual ini harus dilakukan secara bersamaan untuk hasil kreatif yang baik.

Menggunakan analytic skill sendiri menghasilkan pemikiran yang kritis tapi tidak memberikan hasil kreatif. Synthetic skill tanpa skill lain menghasilkan ide-ide baru namun belum tentu bermanfaat, dan membutuhkan analisa untuk memperkuat dan memanfaat kan nya. Dan jika kita jago dalam mempersuasi orang, bisa jadi ide kita diterima karena presentasi yang bagus, bukan karena ide nya yang bagus.

 

2. Knowledge

Ada paradox pengetahuan, di satu sisi kita butuh memiliki pengetahuan di dalam bidang itu untuk mengusulkan suatu ide untuk kemajuan di dalam bidang itu.

Namun terlalu terjebak dalam satu bidang pengetahuan bisa menutup perspektif kita membuat kita terbawa dalam pemikiran konvensional yang melihat suatu permasalahan dari cara yang sama.

Pengetahuan bisa mendorong atau menghambat kreativitas. Untuk berpikir kreatif kita perlu sering mencari pengalaman baru, pengetahuan baru, melihat dari perspektif yang berbeda-beda, agar tidak terjebak dan berpikir dengan cara yang sama dengan setiap orang di bidang itu.

 

3. Thinking Styles

Gaya berpikir ini sederhana nya adalah preferensi cara berpikir setiap individu.
Menurut teori Robert j. Sternberg ada 3 thinking styles, legislative, executive, dan Judicial.

Sternberg juga sudah melakukan penelitian yang menunjukan bahwa legislative thinking style sangat penting untuk kreatifitas. Anak-anak yang memiliki legislative thinking style bisa menjadi murid yang lebih baik dibanding anak-anak yang bercondong ke thinking style yang lain, jika sekolah dimana mereka belajar menghargai kreativitas. Namun sebalik nya juga benar, bahwa anak-anak yang memiliki legislative thinking style menjadi murid yang kurang berprestasi di sekolah-sekolah yang tidak menghargai kreativitas.

4. Personality

Berikut adalah beberapa kepribadian yang penting untuk mendorong kreativitas; tidak takut tantangan, mengambil resiko yang rasional, kemampuan untuk mentoleransi ambiguitas, dan efikasi diri.

Untuk menjadi kreatif, seseorang harus berani berpendapat, berpikir, dan bekerja dengan cara yang berbeda dari orang lain. Untuk melahirkan karya kreatif seseorang juga harus berani mengambil resiko.

Jangan salah, orang-orang kreatif juga sering gagal ko. Namun mereka menghasilkan banyak sekali karya kreatif sehingga ada beberapa yang sangat bermanfaat dan melesatkan karir mereka.

 

5. Motivation

Sebuah penelitian oleh Teresa Amabile menunjukan bahwa jarang sekali seseorang bisa menghasilkan karya kreatif jika mereka tidak menyukai bidang pekerjaan yang sedang dikerjakan.

Menyukai pekerjaan ini menghasilkan motivasi intrinsik yang membantu fokus kita saat bekerja. Tipe motivasi ini sangat esensial untuk kreativitas.

Maka peran kita sebagai orang tua atau guru sangat penting untuk membantu anak mengalami berbagai macam bidang studi, seni, teknologi, dan cara pandang secara playful, agar mereka bisa menemukan apa yang mereka sukai dan bisa berkreasi di bidang itu.

Ini mengapa Ludenara sangat mementingkan bermain, karena memang bermain ini berperan sangat besar dalam motivasi intrinsik, dan kreativitas itu sendiri secara langsung.

 

6. Environment

Setiap orang membutuhkan lingkungan yang suportif akan ide-ide dan karya-karya kreatif.

Pertama lingkungan dimana seseorang bisa mempresentasikan ide dan karya kreatif mereka. Bisa jadi banyak anak-anak yang sebenarnya kreatif tapi tidak memiliki sarana untuk menunjukan kreativitas mereka sehingga tidak terlihat kreatif.

Lingkungan itu juga harus bisa memberi kritikan yang konstruktif. Jika setiap orang yang mendengarkan ide itu bisa mengusulkan apa pun yang bisa membuat ide itu lebih baik tentu hasil nya akan bagus. Namun jika lingkungan nya tidak suka hal baru, bahkan menekan pemikiran atau cara pandang baru, tentu siapapun akan takut menjadi kreatif.

Untuk linkungan belajar yang suportif akan kreatifitas, bisa baca lebih detail nya di artikel ini

Sumber:

Sternberg, R. J. (2006). The nature of creativity. Creativity research journal, 18(1), 87.

Cara mendorong interaksi murid untuk proses belajar yang bermakna

Cara mendorong interaksi murid untuk proses belajar yang bermakna

Pembelajaran tidak akan bisa terjadi tanpa interaksi, mau itu interaksi antar murid,interaksi antar murid dengan materi atau guru, ke-tiga macam interaksi ini dibutuhkan. Di artikel Ludenara sebelumnya kita membahas tentang interaksi antara murid, dan bagaimana kita harus menyediakan tipe interaksi ini lebih banyak lagi karena pentingnya untuk prestasi pendidikan mereka.

Salah satu alasan mengapa interaksi ini bisa sangat bermanfaat adalah unsur playfulness yang sering kali muncul ketika interaksi natar murid terjadi. Playfulness ini jika terjadi di ke-dua macam interaksi yang lain juga bisa meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang terjadi.

Nah, selain playfulness ini ada beberapa macam hal yang bisa kita rancang agar interaksi lebih baik dan memberikan hasil pembelajaran yang lebih bermanfaat.

Memberi struktur interaksi dengan Goals

Ada 3 macam goals yang bisa dirancang dalam proses pembelajaran; kompetitif, kooperatif, individual.

Setiap macam gol akan ada di sebuah kelas yang ideal, dimana murid bisa belajar bekerjasama, berkompetisi dengan senang hati, dan memiliki tujuan pembelajaran sendiri yang tidak berhubungan dengan teman-teman nya. Setiap macam gol akan memberikan pola interaksi yang berbeda, dan memberikan hasil yang berbeda juga.

Dari melihat meta analisis yang membandingkan hasil pembelajaran antar ke-3 macam goals ini ternyata memang terlihat bahwa kooperatif memberikan hasil yang lebih baik, dari segi usaha setiap murid, produktivitas dan prestasi akademik (Johnson, et al,. 1981). 

Gol-gol kooperatif mendorong komunikasi efektif, pertukaran informasi dan ide, menambahkan tingkat kepercayaan antar murid, mengurangi rasa takut akan kegagalan, mendorong murid untuk saling belajar di antar mereka. Secara keseluruhan hubungan antar murid lebih positif, mereka leibh peduli dan saling menolong.

Mengelola konflik

Dalam proses pembelajaran pasti akan ada ide dan opini siswa-siswi yang saling bentrok. Konflik ini bisa menjadi kekuatan konstruktif atau destruktif tergantung bagaimana konflik ini dikelola. Ketika konflik antar murid dikelola dengan baik ini bisa menjadi pengalaman pembelajaran yang baik untuk mereka. 

Dalam penelitian mengenai interaksi antar murid Johnson juga menemukan beberapa kondisi-kondisi yang dibutuhkan agar konflik  bisa menjadi konstruktif;

  1. Konflik lebih mudah menjadi konstruktif saat terjadi di dalam konteks kooperatif. Saat mereka bekerja sama kedua pihak yang bentrok memiliki tujuan yang sama, selain itu informasi akan lebih akurat dan utuh dan komunikasi akan lebih akurat. Iklim lingkungan belajar seperti ini memungkinkan konflik menjadi sangat konstruktif.
  2. Segala informasi mengenai tema perdebatan harus jelas dan mudah di akses. Dengan kejelasan informasi semakin banyak kesempatan agar diskusi bisa menghasilkan konklusi-konklusi yang bisa disetujui bersama. Jika informasi tidak tersedia tentu banyak potensi konflik yang sia-sia.
  3. Kemampuan melihat perspektif yang berbeda-beda. Konflik akan teresolusi saat setiap pihak mendapatkan hasil, konklusi, perspektif, atau ide yang tersintesis dari tesis, dan antitesis. Untuk mempercepat proses ini setiap pihak bisa diminta untuk melakukan “steelmanning” dimana setiap pihak menyimpulkan perspektif, atau ide seakurat, dan sebagus mungkin. Dengan itu diskusi akan cepat berprogres. 

 

Jika kita ingin menerapkan semua ini dengan mudah, maka kita usulkan Game-based learning. Karena dengan game-based learning goals pembelajaran telah terstruktur dalam setiap game. Dengan menggunakan game-game kooperatif kita juga tetap bisa mendorong interaksi kompetitif yang sehat dengan cara mengadukan setiap kelompok murid. Game-based learning juga memudahkan kita untuk mengelola konflik karena setiap game telah memberikan struktur agar bisa menampung konflik.

Nah Ludenara punya banyak informasi, dan materi gratis Game-based learning di link ini http://ludenara.org/belajarasik/

Silahkan diakses kapan saja, dan dimana saja pasti banyak yang bisa di pelajari di sini.

Sumber:

Johnson, D. W. (1981). Student-student interaction: The neglected variable in education. Educational researcher, 10(1), 5-10.in

Interaksi antar murid bisa sangat bermanfaat bagi prestasi pendidikan

Interaksi antar murid bisa sangat bermanfaat bagi prestasi pendidikan

Photo by Husniati Salma on Unsplash

Coba bayangkan cara kita belajar di ruang kelas sekarang saat daring atau pun kemarin sebelum pandemi. Di sini murid duduk manis memperhatikan guru, atau mengerjakan tugas, atau mendengarkan guru lewat gadget.

Di sini, kita bisa melihat bahwa interaksi yang terjadi hanya ada antara guru dan murid dengan materi pelajaran, dan selain kerja kelompok, jam istirahat, atau yang nakal-nakal asik sendiri di belakang interaksi antar murid hampir tidak ada.

Padahal ternyata interaksi antar murid ini sangat baik untuk progress pendidikan mereka. Interaksi yang konstruktif adalah sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi untuk prestasi akademis maksimal, sosialisasi dan perkembangan yang sehat.

Berikut adalah beberapa cara interaksi konstruktif antar murid berkontribusi kepada prestasi pendidikan mereka:

Aspirasi Pendidikan

Teman sebaya memiliki pengaruh yang besar terhadap cita-cita dan aspirasi murid. Khusus nya di masa muda dan jika mereka belum memiliki keterampilan belajar yang baik, memiliki teman sebaya yang termotivasi akan masa depan yang cerah adalah pengaruh yang baik. Berada di dalam lingkungan yang menerima dan mensupport bisa membantu mereka untuk bisa memanfaatkan kemampuan belajar dan mencapai prestasi pendidikan yang lebih tinggi.

Kesehatan Psikologis

Kemampuan untuk menjaga hubungan kooperatif yang erat adalah indikasi utama kesehatan psikologis yang baik. Maka dari itu tidak mengejutkan bahwa gangguan psikologis di masa SMP bisa diprediksi dari hubungan antar teman yang buruk masa SD, dan hubungan buruk di masa sekolah bisa memprediksi penyakit psikologis di masa dewasa. Ketika anak merasa di asing kan di sekolah nya mereka akan sering cemas, memiliki percaya diri dan keterampilan sosial yang rendah, dan kesehatan emosional yang buruk.

Keterampilan Sosial

Penelitian mengenai keterampilan sosial anak-anak menyimpulkan “Perkembangan keterampilan sosial merupakan pondasi kritikal untuk kesuksesan akademis dan pembentukan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja” (McClelland & Morrison, 2003).

Interaksi dengan teman sebaya adalah cara belajar keterampilan sosial yang baik. Dari bermain dan belajar bersama, mereka belajar berkomunikasi, bekerja sama, bahkan berkompetisi dengan baik. Selain penting untuk kesuksesan akademis, keterampilan sosial juga sangat dibutuhkan di dunia kerja.

Melihat Berbagai Macam Prespektif

Anak-anak bisa belajar banyak dari pengalaman orang lain seperti masalah yang dipecahkan atau situasi yang mereka dialami. Melalui interaksi lah anak-anak belajar melihat dunia dari cara pandang orang lain.

 

Semua manfaat ini membutuhkan lingkungan dan interaksi yang baik, dan pasti pertanyaan selanjut nya adalah, lingkungan dan interaksi seperti apa yang baik ini?

Ada penelitian yang menjawab ini secara detail, tapi kalo di bahas sekarang kurang asik nih, mending dijadiin artikel sendiri. Tapi ada contoh cara baik yang bisa menghadirkan interaksi dan lingkungan yang positif untuk pembelajaran, yaitu proses game atau play based learning. 

Di dalam konteks game, anak-anak dapat bekerja sama untuk menyelesaikan sebuah tantangan di situ mereka bisa bereksperimen dengan berbagai macam cara untuk berkolaborasi, seperti membagi tugas, mendefinisikan peran masing-masing, atau menyatukan tujuan bersama.

Berkompetisi di dalam konteks game juga sangat baik. Di dalam game mereka bisa belajar menerima kekalahan dengan hormat, belajar dari kekalahan itu, dan juga merasa bangga saat menang tanpa menyombongkan itu.

Terakhir dalam proses game based learning ini mereka akan mendapatkan banyak interaksi positif dari berdiskusi bersama mengenai strategi apa yang mereka gunakan untuk menang, cara kerja sama yang baik, dan tentu nya hal apa saja yang dipelajari selama proses bermain.

Nah Ludenara punya banyak informasi, dan materi gratis tentang proses belajar sambil bermain ini di link ini http://ludenara.org/belajarasik/

Silahkan diakses kapan saja, dan dimana saja pasti banyak yang bisa di pelajari di sini.

 

Sumber:

McClelland, M.M., & Morrison, F.J. (2003). The emergence of learning related social skills in preschool children. Early Childhood Research Quarterly, 18(2), 206-224.

Johnson, D. W. (1981). Student-student interaction: The neglected variable in education. Educational researcher, 10(1), 5-10.

Alasan-alasan untuk mencoba narasi saat mengajar

Alasan-alasan untuk mencoba narasi saat mengajar

Image by DarkmoonArt_de from Pixabay

Ada satu cerita yang mungkin kita semua masih ingat. Tentang seorang gadis yang baik hati, dan saudara tiri nya yang…. kebalikan nya. Setiap kali ada hal baik yang terjadi pada sang gadis itu, saudara tiri nya pasti gak mau terima, dan ingin mendapatkan yang lebih baik.

Hingga suatu hari sang gadis mendapatkan labu berisi emas dari seorang penyihir. Seperti biasa, saudara tiri nya iri dan tidak mau kalah, dan meminta labu kepada penyihir itu juga. Tapi ternyata isi labu yang dia ambil dengan dengki itu berisi ular berbisa!

Kita pasti tau ini cerita apa. Meskipun cerita rakyat ini berasal dari Riau, setiap orang Indonesia pasti mengenal nya, Bawang Merah dan Bawang Putih.

Cerita ini, seperti banyak cerita lain nya memiliki pesan moral, yang dapat dipahami dengan mudah oleh orang-orang, apalagi anak-anak. Saat anak-anak di ceritakan Bawang Merah, Bawang Putih mereka belajar berempati dengan karakter-karakter nya. Mereka bisa memahami bahwa iri, dengki adalah sifat-sifat yang memberikan hasil yang buruk, dan sifat-sifat baik hati nya Bawang Putih patut untuk di contoh.

Nah, bayangkan jika anak-anak tidak diceritakan ini, tapi malah di ceramahin, “Hey anak-anak, kalian jangan gampang iri ya! Jangan dengki juga!”

Kira-kira cara mana yang lebih ampuh?

Proses belajar mengajar ini adalah hal yang membuat manusia bisa menjadi makhluk yang berhasil mendominasi dunia ini bahkan suatu saat, luar angkasa. Dan sebelum ada nya institusi pendidikan, nenek moyang kita tetap harus bisa mengajarkan hal-hal penting kepada anak-anak nya agar mereka bisa bertahan hidup, dan melanjutkan spesies manusia.

Mereka memiliki berbagai macam cara, salah satu nya tentu adalah bermain. Tapi ada satu cara lain, yang mungkin sudah diteliti lebih dalam lagi adalah storytelling (Rossiter, 2002). Penggunaan narasi di dalam pendidikan memang sudah sangat populer, bahkan sudah ada ratusan buku mengenai pendidikan dan narasi.

Di antara guru-guru kreatif di sini pasti sudah banyak yang menerapkan. Tapi tidak ada salah nya kita mempelajari bersama, kenapa nasi bisa efektif untuk mengajar. Tentu mempelajari ini akan memberikan kita wawasan lebih dalam mengenai penggunaan cerita dalam mendidik.

Image by Comfreak from Pixabay

Perhatian Murid

Untuk memastikan sesi belajar bisa mewujudkan hasil yang bermakna ada hal yang harus diperhatikan sebelum belajar. Yaitu kondisi psikologis murid-mudi, apakah mereka siap belajar? Apakah mereka sanggup memberikan perhatian sepenuhnya kepada materi pembelajaran?

Di sini letak manfaat penggunaan narasi untuk mengajar. Manusia terbiasa memberikan perhatian yang tinggi saat sebuah informasi disampaikan melalui cerita. (Rijinja & Van der Jagt, 2004). Jika orang dewasa saja lebih senang mendengarkan cerita di banding ceramah, apalagi anak-anak.

Salah satu tantangan pendidikan adalah motivasi pelajar. Kita tahu bahwa masih banyak anak-anak kita yang tidak suka belajar. Mungkin di sini narasi bisa menjadi solusi nya, kita bisa mencoba membuat materi-materi pembelajaran menjadi menarik dengan ada nya narasi di kelas kita, tentu nya agar mereka lebih semangat belajar.

Meningkatkan daya ingat

Ada konsensus dalam literatur bahwa storytelling adalah sarana yang sangat alami dan powerfull untuk menyampaikan, mempelajari, dan menyimpan informasi (Eck, 2006) sederhana nya, apa pun yang kita pelajari lewat cerita lebih mudah teringat oleh kita. 

Salah satu alasan nya adalah faktor emosi. Bahwa di sebuah cerita kita tidak hanya mengkonsumsi informasi, tapi cerita juga mengeluarkan emosi yang kuat. Di saat emosi ini ada bagian kognitif otak aktif dan sanggup menyimpan informasi baru (Perry, 2005)

Jika kita bisa bercerita dengan baik, dan mengajak murid kita naik emotional roller coaster bersama, sesi pembelajaran pasti menjadi sangat mengesankan.

Wawasan yang luas

Sebuah cerita memiliki berbagai macam tokoh, dengan motivasi, tantangan dan keinginan yang berbeda-beda, dan mengalami perjalanan yang penuh arti. Dari sebuah cerita manusia belajar memahami berbagai macam pandangan dunia, dan pengalaman hidup (Rossiter, 2002). 

Seperti yang kita lihat di contoh cerita Bawang Merah, Bawang Putih anak-anak bisa mempelajari karakter yang baik dan buruk dari sebuah cerita. Belajar dari cerita memberi kita kesempatan untuk belajar dari pengalaman tokoh itu, atau orang lain ketika cerita itu sebuah kisah nyata. 

Dalam kata lain, cerita memungkinkan kita untuk menghidupi ratusan kehidupan lain, dan belajar dari setiap kehidupan itu. Dari sini, karakter dan moralitas kita akan terbentuk dengan baik, sehingga kita bisa menjadi manusia yang lebih bijak.

 

Sumber:

Eck, J. E. (2006). An Analysis of the Effectiveness of Storytelling with Adult Learners in Supervisory Management (Doctoral dissertation, University of Wisconsin-Stout).

Rijnja, R. van der Jagt. (2004) Storytelling: the power of stories in communication, Kluwer, Alphen aan de Rijn, 2004.

Perry, B. (2005). How the brain learns best. Scholastic Inc, 11 O(4). Retrieved June 1,2005 from the Ebsco Host database. Psychological foundations of organizational behavior 

Rossiter, M. (2002). Narrative and Stories in Adult Teaching and Learning. ERIC Digest.

Meningkatkan kualitas pendidikan dengan playful learning

Meningkatkan kualitas pendidikan dengan playful learning

Photo by Guille Álvarez on Unsplash

Ini mungkin yang bisa disetujui bersama, pertama bahwa semangat belajar memang sangat penting, kedua bahwa masih banyak murid-murid kita yang tidak suka belajar. Untuk mereka belajar itu merupakan tanggung jawab yang berat, dan pelajaran-pelajaran yang seharus nya sangat menarik malah menjadi membosankan untuk mereka. 

Di sini kita akan menjelaskan kenapa playful learning sangat penting untuk hasil pembelajaran yang maksimal.

Sebelum kita beranjak kepada playful learning, sebaik nya kita menyetujui apa yang kita maksud dari meningkatkan kualitas pendidikan. Lebih khususnya dimana letak kekurangan atau kelemahan sistem pendidikan kita sekarang yang bisa diperbaiki dengan playful learning.

Setiap orang tentu memiliki prioritas sendiri untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Mungkin ada yang berpendapat bahwa yang paling penting adalah kualitas pendidik, buku, infrastruktur, teknologi, kurikulum, atau lain nya. 

Sekarang Ludenara fokus nya dimana?

Di Ludenara sendiri kita memikirkan bahwa ada satu hal yang mungkin lebih penting dari itu semua, yaitu semangat dan motivasi belajar murid. Kita ingin mengubah mindset mereka sehingga belajar menjadi suatu aktivitas yang di nanti-nanti, dimana mereka bisa bersenang-senang sambil menambah ilmu dan keterampilan baru, ini sumber dari semangat semangat belajar yang tidak mudah pudar. Kita ingin mengingatkan mereka bahwa mata-mata pelajaran akademis itu penuh dengan ilmu yang sangat menarik sehingga mereka tidak sabar untuk mempelajari lebih dalam lagi.

Kemampuan menumbuhkan dan memaksimalkan semangat belajar ini lah yang kita percaya sebagai pondasi kualitas pendidikan yang baik. Semangat yang akan terus mendorong mereka untuk belajar meskipun segala fasilitas pendukung kurang memadai, semangat yang akan mendorong kreativitas mereka untuk mencari cara belajar lain, atau bahkan mencari hal lain yang bisa dipelajari. Kita menginginkan semangat belajar ini selalu ada hingga di masa depan anak-anak kita, dengan itu mereka akan terus menerus meningkatkan kualitas individual mereka sepanjang umur nya sebagai life-long playful learner.

Ada pengalaman Mas Nuno yang bisa melihatkan kita bahwa dengan ada semangat dan motivasi, anak-anak sangat sanggup untuk belajar sendiri secara efektif meskipun pandemi Covid-19 sedang marak dan menghalangi proses pembelajaran.

Tidak hanya sekedar belajar, murid Mas Nuno juga bisa menerapkan ilmu  yang di pelajari sehingga menjadi beramnfaat bagi teman-teman sekitar nya.

Pemikiran bahwa motivasi sebagai kunci pendidikan yang baik bukan lah pemikiran yang asing, dan memiliki pondasi ilmiah yang kuat. Salah satu contoh nya adalah sebuah penelitian nasional di Amerika menemukan bahwa, motivasi adalah kunci untuk kegigihan dan pembelajaran yang berkelanjutan. Tantangan nya adalah membantu setiap murid mengklarifikasi tujuan nya dan kemudian menemukan, atau menciptakan, pengalaman belajar yang mengarah pada hasil yang diinginkan (Chickering & Kuh, 2005).

Jika kita bisa membuat belajar sebagai aktivitas yang asyik, seru, menyenangkan, membahagiakan, menggembirakan, dan sinonim lain nya, pasti kualitas siswa-siswi kita sebagai pembelajar akan meningkat. Jadi, karena mereka lebih giat belajar mereka akan lebih sering belajar, dan setiap kali mereka belajar akan lebih efektif pasti nya kemungkinan mereka untuk meraih kesuksesan pun akan melambung.

Perjalanan menuju kesuksesan lewat playful learning ini bisa dilihat melalui 4E (Enjoy, Easy, Expert, Earn)

Made with slidesgo

Enjoy → Easy

Ini kunci pertama dari kesuksesan pendidikan anak-anak kita. Jika mereka tidak menikmati pendidikan, dan merasa belajar adalah beban yang berat tentu pendidikan tidak akan memberi hasil yang baik, malah membuat anak-anak stress dan merusak kesehatan mental mereka. Selanjut nya kita harus bertanya, apakah benar enjoyment ini bisa meningkatkan efektifitas belajar?

Kita memang bisa berintrospeksi dari pengalaman sendiri, ketika kita mempelajari apa pun dengan senang hati, pasti lebih cepat kita mempelajarinya, dan kita bisa terus belajar sebanyak apapun yang harus dipelajari, karena kita mendapatkan kebahagiaan dari situ. Tapi untuk lebih pasti, kita juga bisa melihat penelitian di bidang pendidikan. Hasil penelitian sekolah-sekolah Amerika dan Inggris mengusulkan bahwa ketiadaan enjoyment adalah salah satu alasan mendasar mengapa anak-anak gagal mencapai potensi mereka (Goetz et al. 2006; Shernoff et al. 2003). Sebuah analisa mengenai hubungan antara enjoyment dan hasil pembelajaran, menunjukkan bahwa enjoyment menghasilkan flow state, mengurangi kecemasan, dan membuat murid menjadi nyaman, sehingga belajar menjadi lebih mudah (Lumby, 2011).

 

Easy → Expert

Tentu saat suatu materi pelajaran atau bahkan bidang ilmiah dengan mudah bisa anak-anak pelajari, ditambah dengan semangat belajar anak terus ada pasti dengan sendiri nya dia anak bisa memahami sebuah bidang itu. Ini prinsip dasar mengapa playful learning bisa membantu anak-anak kita.

Playful learning berada di dalam teori pembelajaran constructivism (Rice, 2009) dimana teori ini menjelaskan dengan baik kenapa belajar secara aktif seperti bermain bisa memberikan hasil pembelajaran yang baik. Playful learning tidak hanya membuat pembelajaran menjadi lebih mudah, namun teori ini juga menjelaskan bahwa kita mempelajari sesuai akan lebih dalam, dimana murid tidak hanya secara pasif mengkonsumsi materi, namun secara aktif membangun ilmu atau keterampilan baru. 

Teori ini menjelaskan bahwa ilmu terbentuk saat individu merangkai nya dari interpretasi pengalaman yang didapatkan (Gagnon and Collay, 2006). Menurut teori ini kita bisa belajar lebih mendalam karena makna pembelajaran tidak bisa diberi atau diajarkan oleh guru kepada  murid, tapi harus dikonstruksikan oleh seorang murid itu sendiri berdasarkan pengalaman yang mereka lewati (Biggs, 1999).

 

Expert → Earn

Menurut kita playful learning ini lah suatu metode belajar yang bisa meluncurkan anak-anak kita agar mereka menjadi ahli-ahli yang bisa berkontribusi dengan baik kepada masyarakat. Ahli yang kita harapkan sendiri berbeda dari sekedar sukses, kompeten dan mahir pada bidang nya, tapi juga kreatif. Sampai tahap ini pun, playful learning tetap sangat relevan. Dengan playful learning kita mencoba merubah mindset bahwa belajar itu bermain, karena ini bagian besar dari kreativitas. Bermain bisa menjadi pendekatan yang merangsang, mendorong ilmu untuk terangkai dan juga mendorong kreativitas dan imajinasi secara bersamaan (Lieberman, 1977)

Kreativitas dan inovasi sangat dibutuhkan negara kita, selain Indonesia masih sering kalah di dalam persaingan global, kreativitas dan inovasi ini merupakan hal yang sangat bisa mendorong ekonomi Indonesia sehingga kita sebagai rakyat bisa merasakan hasil nya langsung, dan berkembang bersama.

Terlepas dari itu, belajar seperti ini sangat memungkinkan mereka untuk memiliki kualitas lifelong playful learner yang terus meningkatkan kualitas diri nya sebagai individu. Ini lah yang kita inginkan, agar anak-anak kita bisa menjadi expert kreatif yang tidak pernah berhenti berkembang. Semua ini awal nya dari playful learning.

 

Sumber:

Biggs, J. (1999). Teaching for quality learning at university. Buckingham: Open University Press

Chickering, A. W., & Kuh, G.D. (2005). Promoting student success: Creating conditions so every student can learn.

Lieberman, J. N. (1977). Playfulness: Its relationship to imagination and creativity. New York: Academic Press.  

Louis Rice (2009) Playful Learning, Journal for Education in the Built Environment, 4:2, 94-108, DOI: 10.11120/jebe.2009.04020094  

Lumby, J. (2011). Enjoyment and learning: Policy and secondary school learners’ experience in England. British Educational Research Journal, 37(2), 247-264.

Gagnon, G. W. & Collay, M. (2006). Constructivist learning design: Key questions for teaching to standards. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.

Goetz, T., Nathan C., Hall, B., Anne, C., Frenzel, A., & Pekrun, R. (2006). A hierarchical conceptualization of enjoyment in students. Learning and Instruction, 16, 323-338.

Shernoff, D.J., Csikszentmihalyi, M., Schneider, B., & Shernoff, E.S. (2003). Student engagement in high school classrooms from the perspective of flow theory. School Psychology Quarterly, 18(2), 158-176.

Psychology Quarterly, 18(2), 158-176.

Merdeka Belajar! sebentar tapi, kenapa ya “freedom” ini penting dalam pendidikan?

Merdeka Belajar! sebentar tapi, kenapa ya “freedom” ini penting dalam pendidikan?

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Merdeka belajar! Itu sebuah motto di dunia pendidikan yang sekarang sering kali kita dengar. 

Memang di dunia pendidikan “freedom” sering kali ditunjuk sebagai hal yang kita butuhkan. Bukan hanya dari Mas Menteri Nadiem saja, banyak peneliti, penerap, dan filsafat pendidikan yang menjunjung tinggi hal ini. Contohnya saja 3 tokoh yang mempengaruhi filosofi Bapak Pendidikan Nasional saja, sangat mementingkan kebebasan dalam filosofi pendidikan nya. MIT Educational Arcade pun mengeluarkan teori 4 freedoms of play, 4 kondisi dimana pembelajaran terjadi dengan maksimal. Salah satu alasan mengapa bermain adalah cara belajar yang unggul juga karena freedom adalah elemen utama yang harus ada sehingga sebuah aktifitas bisa didefinisikan sebagai bermain.

Sekarang ayo coba kita pertanyakan, kenapa “freedom”? Seberapa pentingnya kebebasan dalam pendidikan, atau perkembangan anak?

 

Freedom brings the most optimal psychological condition for learning

Image by Free-Photos from Pixabay

Kita bisa mulai dari menjabarkan apa yang bisa membuat proses belajar menjadi efektif, sehingga upaya, dan tenaga yang kita kerahkan akan mendapatkan hasil yang optimal. Sesuai affective learning theory, kondisi psikologis anak harus berada di tempat yang tepat sehingga pembelajaran bisa terjadi dengan baik. Ini termasuk motivasi, emosi, dan minat mereka.

Kita sendiri pasti sering mengalami, ketika kita merasa terpaksa, atau bahkan di paksa untuk belajar, tentu motivasi tidak akan muncul, dan sangat susah untuk kita menjadi tertarik dengan materi yang kita pelajari. Sebalik nya juga benar, ketika kita sendiri yang memilih ingin belajar apa, dan apalagi bebas menentukan tujuan dari pembelajaran kita apa, tentu kita kan termotivasi.

Memang motivasi adalah faktor yang sangat besar, salah satu penelitian mengenai kesuksesan belajar menyimpulkan “Motivasi adalah kunci untuk kegigihan dan pembelajaran yang berkelanjutan.” (Chickering and Kuh, 2005). Jika kita termotivasi untuk belajar, tentu kita akan terus menerus belajar. Begitu juga dengan minat, tentu kita akan belajar lebih banyak, lebih jauh, dan lebih niat jika kita mempelajari hal yang sesuai minat kita. Dan jangan lupa, jika kita senang saat belajar, tentu belajar menjadi sangat ringan dan efektif.

 

Freedom to reach our fullest potential

Photo by Pablo Heimplatz on Unsplash

Kebebasan lah faktor utama yang bisa membuat kondisi di atas itu ada di saat kita belajar. Di saat kita bukan hanya bebas memilih belajar apa, tapi juga bebas memilih cara belajar kita, di sini lah kita mendapatkan kondisi psikologis yang optimal. Memilih belajar apa ini tidak bisa disepelekan, jika kita setuju bahwa setiap anak berhak meraih potensi maksimal mereka, bagaimana mereka bisa meraih itu jika tidak diberikan kebebasan untuk menemukan bakat mereka dimana, bayangkan jika Ronaldo tidak dibolehkan main bola, atau Albert Einstein tidak dibolehkan bermain dengan fisika teoritis…. 

Iya kebebasn ini merupakan langkah awal untuk kita meraih potensi kita.

Memang kita tidak bisa memaksakan cuman mau belajar yang aku mau aja.. Kita masih memiliki kewajiban untuk belajar banyak hal lain karena memang penting untuk memiliki pandangan yang luas, namun faktor kebebasan tetap harus ada untuk pembelajaran yang optimal. Di sini kenapa game based learning menjadi penting. Penelitian telah membuktikan bahwa ketertarikan pelajar pada sebuah bidang studi terbentuk setelah mereka memainkan games yang berlandasan topik itu (Miller et al. 2011). Mengetahui ini kita bisa menggunakan GBL dalam mengajarkan topik atau materi yang sebagian besar anak anggap membosankan. Lalu dengan menggunakan games dengan senang hati mereka akan memberikan atensi mereka kepada topik itu.

Diluar dari itu, kebebasan tetap menjadi faktor yang besar dalam efektivitas belajar, ketika kita terpaksa belajar, tidak mungkin kita bisa belajar dengan baik. Mungkin ketika kita belajar hal yang kita benci, motivasi kita cepat pudar, dan ketika kita kita harus memaksakan diri untuk belajar, ini saat nya mencari motivasi itu kembali. Kita bisa mencoba membaca buku yang lain, mencari film dokumenter yang menarik, atau mencari game yang menyinggung topik yang kita ingin pelajari.

 

Freedom for a more holistic learning

Kita tahu bahwa IQ atau logical intelligence hanyalah satu segmen dari luas nya multiple intelligence yang dimiliki manusia. Namun sayangnya sistem pendidikan yang sangat baku hanya bisa fokus terhadap intelligence ini saja. Mendidik anak harus lebih holistik dimana anak tidak hanya meningkatkan nilai akademis nya saja, tapi juga meningkatkan aspek intelligence yang lain. Kita sendiri tahu bahwa beberapa anak kita yang sering kita mendapatkan nilai ujian yang kurang, atau memang secara keseluruhan performa akademis nya tidak pernah memuaskan memiliki kepintaran lain yang tidak bisa terlihat di dalam sistem dengan pandangan yang sempit.

Memberikan anak kebebasan untuk mencoba berbagai macam aktivitas, dan belajar berbagai macam hal akan memberi anak itu kesempatan lebih besar untuk menemukan intelligence yang dia miliki, yang membuat nya unggul, daripada memaksakan anak itu untuk memiliki kepintaran akademis yang belum tentu juga akan bermanfaat di kehidupannya di masa depan.

Kita juga harus terbuka bahwa multiple intelligence ini tidak sempurna. Dan kita bisa memberi argumen bahwa masih banyak lagi kecerdasan, atau keterampilan manusia yang tidak tercantum di dalam teori multiple intelligence. Contohnya saja 21st century skills, di antaranya ada adaptability, persistence, initiative dan mungkin ada lagi yang tidak tercantum dalam multiple intelligence. Dengan kebebasan untuk mengeksplorasi taleta, minat, mencoba berbagai macam aktivitas yang merangsang rasa ingin tahu anak dan mendorongnya untuk terus mengenali diri nya sendiri lebih dalam tentu semakin mungkin anak itu menemukan hal yang membuat diri nya spesial.

Ini bukan sekedar menemukan intelligence atau skill yang mereka bisa mahiri. Tapi kebebasan membuat pendidikan lebih holistik. Dengan melakukan berbagai macam aktivitas, mempelajari berbagai macam hal, maka segala aspek fungsi manusia akan terasah, dari intelligence, knowledge, dan juga skills. Jika kita belajar dengan cara yang sama terus menerus, maka hanya satu aspek itu yang akan terus terasah dan terlatih.

 

Freedom, Responsibility, and Independence

Ini mungkin mengagetkan, namun kebebasan lah yang mengajarkan anak-anak tanggung jawab. Setiap keputusan, dan tindakan kita menimbulkan konsekuensi, tidak menginginkan konsekunesi yang berat adalah awal dari tanggung jawab. Pemikiran ini bisa kita dapatkan dari mempelajari lebih dalam filosofi Maria Montessori. Tentu menurutnya anak-anak tidak bisa diberikan kebebasan sepenuhnya, dengan mudah anak itu bisa melukai diri nya, atau pun teman nya. Maria Montessori memiliki konsep “inner freedom” dan ini kebebasan yang ideal menurutnya. Inner freedom membebas kan anak itu dari tindakan impulsif, di mana anak itu di kontrol oleh faktor-faktor internal seperti biologis atau emosi untuk melakukan hal-hal yang kuran baik

Inner freedom ini ada ketika anak memiliki self-control, dan tidak dikendalikan oleh faktor internal itu. Tentu ini memang sulit, bahkan orang dewasa masih banyak yang tidak memiliki inner freedom dan memikirkan ego nya mengontrol perilakunya. Tapi menurut Maria Montessori memberikan kebebasan yang terstruktur pada anak-anak adalah awal yang baik. “Freedom with limits” ini sangat luas pembahasannya, tapi singkat cerita, anak-anak harus diberi kebebasan untuk belajar dan melakukan aktivitas yang diinginkan selama itu tidak menyakiti atau merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.

Kebebasan ini juga merupakan aspek yang sangat penting untuk membentuk anak menjadi mandiri, dan mengembangkan kepribadian yang kuat.

Ada satu hal lagi yang penting di dalam konteks kemandirian yang datang dari freedom. Yaitu kemampuan untuk lifelong learning. Lifelong learning sendiri membutuhkan kebebasan dan juga kemampuan untuk mengoptimalkan kebebasan ini. Hal ini bukan lah hal baru, Jean-Jacques Rousseau filsafat dari abad ke-18 di buku nya “Émile, ou De l’éducation” Roussau menulis tentang ini.

 

Freedom for an egalitarian education

Ada satu hal yang harus selalu diingat oleh pendidik. Bahwa kita juga masih belajar, dan akan terus belajar, dan salah satu guru terbaik yang bisa didapatkan oleh seorang pengajar adalah murid nya. Pendidikan yang baik terjadi secara dua arah, murid belajar dari guru, dan guru belajar dari murid.

Dengan memberikan kebebasan dalam mendidik, sang pendidik akan terus menemukan hal baru, situasi yang baru, melihat kreativitas dan individualitas dari setiap murid nya, tentu banyak yang bisa di pelajari dari sini. Dengan memberikan kebebasan anak untuk memberi opini dan pendapatnya, kita sendiri bisa belajar banyak hal yang baru. Dari sini pendidik akan terus berkembang, dan tidak terjebak di dalam status-quo dimana pendidik hanya mengulang lagi dan lagi apa yang ia ajarkan.

Seperti yang Tagore ajarkan,

 

Sumber:

Chickering, A., & Kuh, G.D. (2005). Promoting Student Success: Creating Conditions So Every Student Can Learn. Occasional Paper No. 3.

Montessori, M. (2015). The Education of the Individual. NAMTA Journal, 40(2), 15-28.

Miller, L. M., Chang, C. I., Wang, S., Beier, M. E., & Klisch, Y. (2011). Learning and motivational impacts of a multimedia science game. Computers & Education, 57, 1425–1433.

Peckover, C. (2012). Realizing the Natural Self: Rousseau and the Current System of Education. Philosophical Studies in Education, 43, 84-94.

Sekolah-sekolah ini menambahkan jam bermain, dampak nya apa ya?

Sekolah-sekolah ini menambahkan jam bermain, dampak nya apa ya?

Photo by Hussain Badshah on Unsplash

Sekolah kan tempat nya belajar ya, dan untuk meningkatkan kualitas sekolahan, tentu logika mengatakan yaa, tambahkan jam belajar nya, atau tingkatkan kualitas pembelajaran dan guru nya atau berikan buku-buku yang lebih bagus. Mungkin hal-hal itu bisa memberikan dampak yang baik, tapi menambahkan jam belajar harus hati hati, karena setelah diteliti malah ningkatin stress dan kesehatan mental anak pun berkurang (Gray, 2011).

Nah terus ada nggak ya intervensi nggak ada resiko nya, dan dampak positif nya banyak, bukan cuma di akademis, tapi di karakter anak juga, terlalu impossible gak si ini?

Nah ternyata tidak impossible, dan mungkin melawan logika kita. Intervensi pendidikan yang sangat ampuh dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya untuk karakter anak adalah ketika kita bukan menambahkan jam belajar, tapi jam bermain!

Pada tahun ajaran 2010-2011 Stanford University bersama dengan Mathematica Policy Research mengadakan penelitian mengenai ini. Mereka mengadakan intervensi bermain berstruktur kepada 14 sekolah negeri, dan mengobservasi 11 sekolah negeri lain nya sebagai perbandingan.

Stanford University Campus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah diteliti intervensi ini memberikan dampak sebagai berikut:

  • Tingkat bullying dan perilaku eksklusif pada murid-murid berkurang sebanyak 43%
  • Murid-murid lebih pandai dalam resolusi konflik
  • Guru merasa murid-murid lebih aman di lingkungan sekolah.
  • Rasa kebersamaan diantara murid ke murid dan murid ke guru meningkat
  • Transisi dari istirahat ke aktivitas belajar 27% lebih cepat
  • Murid-murid menunjukan perilaku yang lebih baik dan fokus meningkat di ruang kelas
  • Murid-murid menunjukan perilaku yang lebih baik di saat jam istirahat

Perlu diingat bahwa kemungkinan masih banyak lagi dampak positif dari intervensi ini yang tidak terdata. Karena memang intervensi ini hanya diukur menggunakan 6 kriteria yang mereka ingin lihat. Hal lain seperti kreativitas, kemampuan mereka bekerja sama, atau motivasi saat belajar bisa jadi ada, namun tidak terlihat karena tidak di lihat.

Nah intervensi bermain berstruktur ini seperti apa sih? 

Ada 4 tipe aktivitas bermain yang diterapkan oleh Playworks di setiap sekolah.

Bermain berstruktur di jam istirahat

Selama intervensi ini berlanjut, para pelatih dari Playworks mengajak (tanpa memaksa) anak-anak untuk berpartisipasi dalam permainan-permainan terstruktur dan dipimpin oleh mereka aktifitas ini mengambil 60% dari jam istirahat mereka. Para pelatih merancang aktivitas yang seru dimana mereka bisa belajar leadership, resolusi konflik, dan perilaku inklusif. Di saat ini para pelatih juga memberi penekanan kepada penggunaan bahasa yang positif.

Bermain di dalam kelas

Di saat ini pelatih dari Playworks merancang permainan yang mendidik utuk anak-anak yang juga di ikuti oleh guru mereka. Sebagian besar guru (72%) sangat senang dengan aktivitas ini dan merasa ini memberikan dampak positif kepada murid-murid mereka. Sebagian kecil guru merasa ini mengganggu aktivitas pembelajaran, antara lain permasalahannya mengenai schedule, dan ketidakmampuan untuk bekerja sama dengan pelatih Playworks.

Program pelatih junior

Di dalam program ini, para pelatih Playworks mengajarkan murid-murid untuk menjadi fasilitator sesi bermain adik kelas mereka. Murid-murid ini mendapatkan banyak kesempatan mengasah leadership, dan social skills mereka. 

Bermain berstruktur setelah sekolah

Para pelatih palyworks juga mengajak anank-anak dan guru-guru untuk belajar dan bermain bersama setelah pulang sekolah. Ini menyediakan aktivitas yang berstruktur di saat anak-anak masih menunggu jemputan atau memang belum bisa di jemput tepat waktu.

Melihat banyaknya dampak positif yang di hasil kan oleh intervensi seperti ini memberikan petunjuk kepada kita bahwa intervensi yang terlalu formal di dunia pendidikan seperti nya tidak cukup. Dan disinilah Ludenara bangga bahwa kami sedang merancang intervensi di dunia pendidikan yang mengutamakan playful learning dan games, nah pasti bakal keren nih! ditunggu yaa..

Sumber:

Bleeker, M., James-Burdumy, S., Beyler, N., Dodd, A. H., London, R. A., Westrich, L., … & Castrechini, S. (2012). Findings from a Randomized Experiment of Playworks: Selected Results from Cohort 1. Mathematica Policy Research, Inc.

Gray, P. (2011). The decline of play and the rise of psychopathology in children and adolescents. American Journal of Play, 3(4), 443-463.

Ko bisa ya bermain manfaat nya bisa banyak?

Ko bisa ya bermain manfaat nya bisa banyak?

Photo by Terry Vlisidis on Unsplash

Seperti yang kita bisa lihat dari tokoh-tokoh pendidikan yang mempengaruhi filosofi Bapak Pendidikan Nasional kita, bermain dan playfulness berada di tempat yang sangat sentral dalam filosofi pendidikan yang baik. Dan kalau intelektual-intellectual ini menunjukkan ke arah playful learning ini, pasti konsep ini akan memberi kita banyak pencerahan mengenai pendidikan jika kita dalami lagi.

Pendidikan sendiri kita semua bisa seuju tujuan utamanya adalah untuk memastikan kesuksesan murid di masa depan, hingga dia bisa menjadi berguna untuk masyarakat. Nah di sini yang rada repot mendefinisikan kesuksesan, pasti setiap orang punya bayangan nya sendiri tentang kesuksesan. Tapi di sini lah keren nya bermain muncul!

Sekarang coba perhatikan hal-hal yang bisa memaksimalkan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia, kita bisa melihat bahwa setiap hal ini memiliki hubungan yang erat dengan bermain. Ini lah yang juga sering dimaksud dengan holistic education

Berikut adalah beberapa hal yang berhubungan erat dengan bermain dan sudah dibahas di artikel-artikel sebelum nya;

Cognitive skills – Critical Thinking, Problem Solving, Decision Making, Planning/Organizing, Creativity

Social SkillsLeadership, Cooperation, Communication, Conflict Resolution

Emotional Intelligence and intrapersonal intelligence – Stress Management, Self Motivating, Self Awareness, Self Management,

Character – Self Esteem, Compassion, Empathy, Morality

Motoric skills development and Physical health

Memenuhi kebutuhan manusia

21st century skills

Bahkan banyak advokat bermain yang juga menekankan aspek spiritual dari bermain, seperti Friedrich Froebel. Tapi itu terlalu dalam, dan kalo kita bahas sekarang artikel ini lama-lama jadi buku. Dan demi pembaca, artikel Ludenara lebih enak kalo gak terlalu berat.

Nah bagaimana pun kita membayangkan kesuksesan buat anak dan murid kita, pasti mencantumkan beberapa hal ini, dan gak salah juga kalo kita ingin anak kita memiliki semua kehebatan di atas itu, naah makanya main yang bener, haha…

Sekarang ada pertanyaan yang sangat menarik, bahwa kenapa bisa suatu aktivitas bisa sangat penting untuk kesejahteraan manusia. Untuk menjawab pertanyaan ini kita terlebih dulu harus membahas sebenarnya, what the actual heck is play?

Memang kita pasti sudah paham apa sih main itu, orang dari bayi juga udah main ko, pas anak-anak apa lagi maiiiiin terus kerjaannya, remaja, dewasa pasti kita masih suka main!

Terus kenapa kita harus nanya lagi? Ternyata mempelajari “play” sendiri bisa memberikan wawasan tentang sifat manusia, struktur sosial, dan mengetahui bermain seperti apa yang baik, dan yang tidak.

Ternyata play sangat sulit untuk didefinisikan, hal ini banyak sekali diperdebatkan dari perspektif psychology, teori pendidikan, filsafat, hingga para pelajar perilaku hewan. Sampai-sampai buku yang paling terkenal tentang ini berjudul The Ambiguity of Play, dimana filsafat modern Brian Sutton-Smith mempelajari ratusan teori dan penelitian tentang bermain,

Hah ratusan? yaah…. kalo di bahas kayaknya berat banget nih. Jadi supaya tidak terlalu berat, kita ambil satu cara pandang saja yaitu edukasi, dan menanyakan bermain itu seperti apa sehingga bisa sangat mendidik, dan mengembangkan anak-anak sepenuhnya, lalu perspektif lain akan dibahas di artikel yang berbeda.

 

Freedom

Hal yang memungkinkan setiap orang menemukan bakan dan pasion nya adalah freedom. Lebih tepat nya lagi freedom to explore. Pada saat bermain kita mengeksplorasi apa pun sesuai hal yang kita anggap menarik, dan setelah melakukan eksplorasi yang cukup setiap orang pun pasti bisa menemukan bakat nya.

Setelah itu seperti yang bisa dipelajari dari filosofi pendidikan Maria Montessori dan juga Rabindranath Tagore, kebebasan sangat lah penting untuk menciptakan pendidikan yang efektif. Ini mengapa mereka mengutamakan bermain. Kenyataannya bermain memiliki sifat kebebasan yang tinggi. Setiap partisipan harus ingin bermain tanpa paksaan, di saat mereka di paksa untuk bermain, aktivitas ini sudah keluar dari definisi bermain dan semua manfaat bermain pun hilang.

Di saat bermain setiap orang merasakan kebebasan di tingkat yang lebih tinggi dari kesehariannya. Di sini manusia bisa mengekspresikan dirinya dengan lebih bebas lagi, tidak terpaksa melakukan hal yang tidak diinginkan dan lebih spontan, ini menjadi pupuk untuk kreatifitas manusia.

Sifat kebebasan ini juga mempromosikan pendidikan yang egaliter, dimana bukan hanya murid yang belajar dari guru, tapi guru juga berkesempatan untuk belajar dari murid-murid nya. Suatu hal yang sangat ditekankan oleh Tagore. 

 

Intrinsically Motivating

Aktivitas yang seru, asik dan semua sinonim menggembirakan lain nya. Ini pasti sifat bermain yang paling kita kenal. Bahwa ada di dalam sifat manusia yang mendalam dimana kita terdorong untuk mencari aktivitas yang menyenangkan.

Di sinilah banyak manfaat playful learning bisa di lihat. Bahwa dengan merancang aktivitas pembelajaran yang serasa bermain anak-anak akan termotivasi dan semangat untuk belajar lag idan lagi. Ini juga manfaat utama yang telah banyak terdata di dunia akademis yang mempelajari manfaat bermain untuk pendidikan.

 

An End In Itself

Di saat bermain, kita bermain karena kita ingin bermain. Bukan karena motivasi eksternal materialistis seperti untuk mencari uang, mendapatkan penghargaan dan lain-lain.

Hal ini lah yang menciptakan kondisi terbaik untuk kita belajar. Mungkin ini memasuki ranah “spiritual” tapi tanpa motivasi external, keikhlasan terjadi dengan sendirinya. Di saat kita playful kita akan jauh lebih fokus, kondisi psikologis berada di tempat yang optimal, kita bisa mencerna informasi dengan lebih baik dan proses kognitif kita berjalan lancar. Ada quote dari Tagore yang sangat berhubungan dengan konsep ini dan bisa membantu menjelaskan nya

“Our purpose wants to occupy all the mind’s attention for itself, obstructing the full view of most of the things around us. The child, because it has no conscious object of life beyond living, can see all things around it, can hear every sound with a perfect freedom of attention, not having to exercise choice in the collection of information.” – Rabindranath Tagore

Menurutnya yang menghambat proses pembelajaran adah purpose, atau motivasi external ini.

 

Simulation

Banyak  Play Theorist yang mengutamakan aspek imajinatif, dan world building dari aktivitas bermain. Dimana kita memencet tombol pause di kehidupan dan tengelam dalam dunia baru yang kita ciptakan bersama saat bermain. Di sini bermain sangat therapeutic, dimana untuk sejenak kita bisa meninggalkan semua kekhawatiran dan permasalahan di dunia nyata.

Untuk pendidikan ini menyediakan tempat yang aman untuk berbuat salah, kita bisa menciptakan masalah-masalah dunia nyata dan bereksperimen dengan berbagai macam cara menanganinya. Kita bisa berimajinasi tentang segala situasi yang bisa kita mainkan bersama untuk mempelajari bagaimana kita bisa berinteraksi dengan situasi itu.

Naah mungkin untuk sementara informasi ini cukup untuk kita sebagai pendidik menelaah aktivitas bermain seperti apa yang baik untuk pendidikan, dan yang kurang baik. Dengan informasi ini, kita bisa bereksperimen dengan berbagai macam permainan, dan dampaknya kepada pendidikan.

Dan seperti yang tadi di bahas, bermain in juga telah di pandang dengan berbagai macam kacamata ilmiah dan filosofis, tapi sebelum ini kami ingin mengucapkan terima kasih atas waktu yang diberikan untuk membaca artikel yang niat nya tadi gak kan berat tapi jadi berat juga….

 

 

Sumber:

Henricks, T.S. (2008). The Nature of Play An Overview.