Discovery Learning, poses pembelajaran saat bermain!

Discovery Learning, poses pembelajaran saat bermain!

 

Discovery learning adalah salah suatu proses pembelajaran yang muncul di saat kita bermain. Proses pembelajaran ini berdasarkan teori oleh Jerome Bruner, yang menyatakan bahwa belajar bukan lah sekedar menyerap ilmu, tapi juga menggunakan intuisi, imajinasi, dan kreativitas mereka, untuk menemukan fakta, korelasi, dan kebenaran.

 

Teori ini berdasarkan teori edukasi constructivism, yang berasal dari Jean Piaget bapak dari developmental psychology. Teori-teori Piaget telah banyak berkontribusi kepada ilmu sosial, mengenai bagaimana anak belajar dan berkembang menjadi orang dewasa. 

 

Teori Constructivism memberikan perspektif bahwa ketika kita belajar, kita membangun pengetahuan baru di atas pembelajaran sebelumnya. Pengetahuan yang sudah ada ini mempengaruhi pengetahuan baru yang kita dapatkan dari pengalaman. Pengalaman.

Dari sisi ini, constructivism bercondong kepada pembelajran yang aktif, dan salah satu proses pembelajaran itu adalah discovery learning.

Ini juga mengapa Discovery Learning juga terklarifikasi sebagai student-centered. Pengalaman di berikan empasis.

Berikut adalah prinsip-prinsip dari discovery learning

 

 

1 Problem Solving

 

Pada dasarnya saat kita bermain, kita mencoba untuk memecahkan masalah untuk mencapai kemajuan di dalam permainan tersebut. Kita bermula dari asumsi apa yang harus kita kerjakan, lalu kita tes asumsi itu saat kita menggunakannya untuk memecahkan masalah.

 

2 Experience and Interaction

 

Bermain adalah belajar dari pengalaman sendiri, kita berinteraksi dengan lingkungan, kita bereksperimen, mengeksplorasi, dan memanipulasi suatu situasi, atau object.

 

3 Information Analysis and Interpretation.

Untuk game based learning, discovery learning berorientasi pada proses dan bukan berorientasi pada konten. Pembelajaran bukan hanya kumpulan fakta. Saat bermain kita belajar untuk menganalisis dan menafsirkan informasi yang diperoleh dan kita hubungkan kepada dunia nyata, tidak hanya menghafal jawaban yang benar.

Teacher-centered Vs. Learner-centered

Teacher-centered Vs. Learner-centered

 

Ada dua pendekatan edukasi yang sangat bertolak belakang.

Teacher-centered, dimana seluruh proses pembelajaran difokuskan kepada sang guru. Dimana konsentrasi murid fokus kepada guru, mereka mendengar dan mencatat. Guru yang memutuskan tujuan dan topik pembelajaran. Guru juga yang mengukur tingkat perkembangan murid dengan menyediakan soal untuk murid jawab.

 

 

Learner-centered fokus terhadap interaksi (murid-guru dan murid-murid). Tidak hanya mendengarkan, murid lebih aktif menyelesaikan project, presentasi, dan kerja kelompok. Guru fokus untuk memfasilitasi pemikiran kritis dan penyelidikan lebih lanjut, dari pada hanya mengkomunikasikan fakta. Guru memberikan kesempatan murid untuk merancang proses pembelajaran nya sendiri, dari apa tujuan yang ingin mereka raih, hingga menilai diri sendiri.

Dua pendekatan ini memiliki pro dan kontranya masing-masing, lalu pendekatan mana yang lebih baik?

Tentunya semua memiliki preferensi nya masing-masing, dan ketika kita mengajar dengan pendekatan yang kita suka tentunya pembelajaran akan lebih efektif. Karena kita percaya pendekatan ini yang benar, maka kita lebih bersungguh-sungguh melakukannya di bandingkan memaksakan sesuatu yang tidak nyaman.

Namun kita tidak boleh tertutup pada pendekatan yang bukan preferensi kita. Karena jika kita melihat fitur-fitur setiap pendekatan, kita bisa lihat bahwa setiap pendekatan bisa lebih baik tergantung pada situasi dan kebutuhan. Contohnya, memang learner-approach sangat baik jika setiap murid membutuhkan banyak kebebasan dalam belajar, belajar topik yang mereka inginkan, dengan kecepatan mereka sendiri, dan belajar mengevaluasi diri. Namun tidak semua murid suka dengan kebebasan yang tinggi, dan masih membutuhkan keamanan dan kenyamanan yang dapat diberikan oleh authority. 

Seperti yang dikatakan oleh Carl Rogers (pendiri learner-centered approach) “Kebebasan itu sendiri tidak harus dipaksakan, siswa yang ingin lebih banyak arahan dari guru harus menerimanya”.

Lebih baik juga ketika kita membiasakan belajar menggunakan pendekatan-pendekatan yang baru, dengan ini otak kita terbiasa dengan perubahan dan siap untuk terus belajar!