
Ludenara baru saja menyelesaikan rangkaian Kuliah Umum bersama Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi, khususnya bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Sebagai calon pendidik, para mahasiswa ini diajak untuk melihat melampaui metode mengajar konvensional dan mendalami potensi nyata dari Game-Based Learning (GBL).
Kegiatan ini bukan hanya sekadar pemaparan teori, melainkan sebuah laboratorium inovasi untuk mencetak guru masa depan yang mampu menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.
Melampaui Teori: Belajar dengan Praktik
Sesuai dengan temuan riset pendidikan tahun 2025, praktik langsung jauh lebih efektif daripada sekadar mempelajari kerangka teoritis. Oleh karena itu, setelah sesi dasar teori GBL yang singkat, mahasiswa diajak langsung mencoba dua permainan contoh untuk merasakan sendiri bagaimana mekanik permainan dapat memicu keterlibatan emosional dan kognitif.
Untuk memandu proses kreatif mereka, Ludenara memperkenalkan Canvas Game Design. Alat ini berfungsi sebagai kompas bagi para mahasiswa untuk menyusun struktur rancangan permainan mereka secara sistematis, memastikan setiap elemen permainan selaras dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Tantangan Radikal: Larangan Membuat Kuis!
Hal yang paling menarik dari kolaborasi ini adalah instruksi tegas dari dosen pendamping: mahasiswa dilarang membuat game berbasis pertanyaan atau kuis. Peraturan ini sangat sejalan dengan tren riset GBL tahun 2025 yang menandai “kematian gamifikasi generik”.
Riset menunjukkan bahwa era di mana gamifikasi hanya sekadar menempelkan lencana digital pada kuis matematika sudah berakhir. Dengan melarang format kuis, mahasiswa dipaksa untuk:
• Berhenti menjadi konsumen, mulai menjadi kreator: Mahasiswa beralih dari sekadar meminta siswa “menyelesaikan level” menjadi perancang sistem yang kompleks sebuah pendekatan constructionist yang terbukti lebih efektif dalam membangun penalaran logis.
• Menciptakan interaksi dinamis: Tanpa ketergantungan pada kuis, mahasiswa harus merancang mekanik yang memicu diskusi mendalam (seperti konsep math talk) dan negosiasi antar pemain, yang menurut riset merupakan kunci keberhasilan GBL dalam mengajarkan soft skills.
Sesi Konsultasi: Mengasah Inovasi
Ludenara juga membuka ruang konsultasi khusus bagi kelompok mahasiswa. Dalam sesi ini, tim Ludenara memberikan saran mendalam untuk memastikan rancangan mereka tidak hanya seru, tetapi juga memiliki kedalaman pedagogis.
Kami menekankan pentingnya “productive struggle” momen di mana siswa merasa sedikit kesulitan sebelum menemukan solusi yang menurut studi terbaru dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian belajar siswa. Kami mengarahkan mahasiswa untuk menciptakan permainan di mana kesalahan tidak dianggap sebagai risiko besar, melainkan bagian alami dari proses belajar.
Menatap Masa Depan Pendidikan Indonesia
Melalui kegiatan di UNISMA Bekasi ini, Ludenara ingin memastikan bahwa guru-guru masa depan Indonesia memiliki keberanian untuk menerapkan desain permainan yang imersif dan menantang.
Seperti yang ditunjukkan oleh riset 2025, tantangan kita ke depan bukan lagi membuktikan apakah game itu mendidik, melainkan bagaimana kita bisa merancang permainan yang cukup cerdas untuk menantang kemampuan berpikir kritis siswa secara maksimal.









