Tidak ada Guru, di Game Schooling Ludenara

Tidak ada Guru, di Game Schooling Ludenara

Yang sangat membedakan pendidikan Ludenara dengan pendidikan tradisional adalah peran guru.

Pendidikan pada umumnya mewajibkan guru untuk membuat dan melaksanakan program pengajaran, menganalisis materi pelajaran, mengisi rapot, dan banyak lagi. Secara singkat guru adalah figur authority yang diberikan tugas untuk menyampaikan ilmu, dan menilai murid sesuai kurikulum.

Namun di cara mengajar, ada pendekatan yang berbeda.  Pendekatan ini berawal dari ahli psikologis Amerika Carl Ransom Rogers, yang mendirikan pendekatan pembelajaran yang fokus pada murid secara individu, atau student-centered learning

Carl Rogers sangat menekankan meaningful learning, menurut dia pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dilihat sebagai berguna dan berarti oleh murid tersebut. Pembelajaran melalui pengalaman yang memiliki relevansi untuk kehidupan murid experiential learning, pembelajaran mencantumkan tidak hanya aspek kognitif tapi juga afektif, kepribadian, sikap dan dievaluasi oleh murid itu sendiri.

Menurut Rogers peran guru di dunia edukasi adalah sebagai fasilitator, dimana guru merancang suasana pembelajaran yang berorientasi terhadap meaningful learning. Fasilitator tidak fokus terhadap membuat lesson plan, fasilitator harus menyediakan sumber-sumber ilmu atau kondisi-kondisi tertentu supaya pembelajaran terjadi dengan sendirinya. 

Singkat nya, berikut adalah fitur-fitur cara mengajar tradisional (declarative) dan cara mengajar seorang fasilitator.

Tentunya setiap pendekatan pengajar memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Untuk itu Ludenara tidak meletakan diri sebagai kritik sistem edukasi yang lain, namun kita hanyalah penyedia sistem edukasi alternatif.